Bahaya Obesitas, Bukan Sekedar Gemuk Biasa

Oleh : dr. Puti Piranti
Dokter Umum RS Betha Medika

Halo sahabat Betha! Anda mungkin sudah tidak asing dengan istilah obesitas. Obesitas atau kegemukan, adalah kondisi dimana terjadi penumpukan lemak yang dapat menimbulkan berbagai efek negatif pada tubuh.

Bacaan Lainnya

Namun, “gemuk” seperti apa yang dikategorikan sebagai obesitas?

Nah, kita dapat mengetahuinya dengan cara menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT).

Rumusnya adalah: Berat Badan (dalam kg) dibagi Tinggi Badan dikuadratkan (dalam meter). Setelah itu dicocokkan dengan IMT rata-rata untuk orang Asia.

  • Apabila hasilnya <18,5 maka termasuk Underweight;
  • Apabila hasilnya 18,5-22,9 termasuk Normal;
  • Apabila hasilnya 23-24,9 termasuk Overweight

Berisiko Obesitas; apabila hasilnya 25-29,9 termasuk Obesitas Tingkat I; dan apabila hasilnya =30 maka tergolong Obesitas Tingkat II.

Dengan menghitung IMT, kita dapat mengetahui proporsi berat badan terhadap tinggi badan kita.

Sebagai contoh, apabila seseorang memiliki berat badan 70 kg dan tinggi badan 155 cm (1,55 m), maka IMT orang tersebut adalah 70:(1,552) = 29,13.

Dari tabel diketahui bahwa angka tersebut tergolong ke dalam obesitas tingkat I. Namun, penghitungan IMT ini digunakan untuk dewasa, karena untuk anak-anak harus menggunakan grafik khusus.

Obesitas merupakan kasus yang sangat banyak dijumpai. Menurut WHO, pada tahun 2014, sebanyak 1,9 miliar remaja berusia 18 tahun ke atas berada dalam kategori overweight, dan sebanyak 600 juta orang dewasa lainnya mengalami obesitas. Angka-angka tersebut sudah mengalami peningkatan 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun 1980.

Penyebab mendasar dari obesitas adalah ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang digunakan.

Gaya hidup saat ini telah mengubah banyak pola makan dan pola aktivitas fisik. Kesibukan membuat kita lebih sering makan-makanan cepat saji yang tentunya memiliki kadar kalori dan lemak yang tinggi.

Dengan perkembangan zaman juga kita menjadi lebih dimanjakan dengan teknologi, sehingga membuat tubuh kita menjadi kurang bergerak dan kurang aktivitas fisik.

Di sebagian besar negara, obesitas membunuh lebih banyak orang daripada underweight.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Semakin tinggi angka IMT, semakin besar risiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler, terutama serangan jantung dan stroke, yang telah menjadi penyebab utama kematian sejak tahun 2012.

Selain itu juga meningkatkan risiko terjadinya diabetes, hipertensi, kelainan kadar kolesterol, penyakit otot dan sendi (terutama osteoartitis atau radang sendi), dan beberapa jenis kanker (seperti payudara, ovarium, prostat, hati, kandung empedu, ginjal, dan usus besar).

Namun demikian, obesitas tentu dapat dicegah dan diatasi. Modifikasi gaya hidup yang mencakup perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik merupakan hal terpenting. Terapi diet yang dianjurkan adalah diet seimbang rendah kalori.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda-beda, sekitar 1600-2000 kalori per hari, tergantung berat badan, jenis kelamin, usia, dan aktivitas fisik sehari-hari. Jangan sampai tidak ada asupan sama sekali karena hal itu juga akan sangat berbahaya untuk tubuh.

Apabila anda obesitas, akan sangat baik apabila bisa menurunkan konsumsi kalori per hari sebanyak 500-600 kalori. Biasakan mencari tahu jumlah kalori dalam makanan yang kita makan. Biasanya untuk makanan kemasan jumlah kalori akan tercantum di bagian belakang kemasannya.

Anda juga dapat memanfaatkan teknologi internet untuk mencari tahu jumlah kalori makanan lainnya. Sebagai gambaran, kalori pada 100 gram nasi putih adalah 130 kalori. Makanlah dengan jadwal teratur, dan hindari mengkonsumsi cemilan berlebihan.

Selanjutnya, kombinasikan terapi diet dengan peningkatan aktivitas fisik. Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga aerobic low impact, seperti jogging dan bersepeda.

Olahraga yang baik adalah olahraga yang dilakukan! Bukan sekedar niat dan ucapan belaka. Baiknya olahraga dilakukan secara konsisten setiap hari selama 20-30 menit, atau minimal 3-5 kali dalam seminggu.

Modifikasi perilaku dalam aktivitas sehari-hari juga tidak kalah penting. Hindari sedentary lifestyle/gaya hidup kurang gerak atau bermalas-malasan, seperti contohnya biasakan lebih memilih tangga daripada naik eskalator, serta biasakan lebih memilih berjalan kaki dalam mencapai tempat dengan jarak yang dekat daripada menggunakan kendaraan.

Selain cara-cara di atas, dapat juga diberikan terapi pengobatan oleh dokter apabila ada indikasi, namun obat saja tidak akan dapat mengatasi obesitas.

Dengan melakukan modifikasi gaya hidup, diharapkan dapat menurunkan berat badan sebanyak 0,5 kg setiap minggunya.

Penurunan berat badan yang terlalu signifikan juga tentu tidak baik bagi tubuh.

Pada akhirnya, modifikasi gaya hidup bukan hanya akan mencegah dan mengatasi obesitas, namun juga diharapkan dapat mencegah terjadinya peningkatan risiko penyakit-penyakit yang berhubungan dengan obesitas, sehingga angka usia harapan hidup dapat lebih tinggi dengan kualitas hidup yang baik. Semangat hidup sehat!

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk para pembaca sekalian, Salam Semakin sehat, untuk kita semua dari kami, keluarga Besar Rumah Sakit Betha Medika.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.