Mengenal Aplikasi Belajar Ciptaan Guru SDN Pakujajar CBM Kota Sukabumi

SDN Pakujajar CBM Kota Sukabumi
Salah satu guru SDN Pakujajar CBM, Idris menunjukkan salah satu aplikasi sistem pembelajaran Sipekek Wayang Moci Ecpres.

Dinamai Sipekek Wayang Moci Ecpres, Ajak Guru Kuasai Aplikasi

Kabar gembira datang dari salah satu guru SDN Pakujajar CBM Kota Sukabumi. Ya, siapa lagi kalau bukan Idris. Pria 38 tahun itu berhasil merancang sebuah aplikasi sistem pembelajaran kelas projek yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas serta mengatasi learning loss di masa pandemi Covid-19. Bagaimana ceritanya? Berikut laporannya.

WIDI FITRIA, Sukabumi

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui selama di masa pandemi Covid-19 sistem pembelajaran dilaksanakan secara daring atau online. Sehingga diperlukan kreatifitas dan inovasi teknologi para guru, seperti yang dilakukan oleh salah satu guru di SDN Pakujajar CBM, Kota Sukabumi bernama Idris ini berinovasi dengan memanfaatkan teknologi selama pembelajaran daring.

Aplikasi bernama Sipekek Wayang Moci Ecpres bisa meningkatkan kreatifitas bakat siswa serta mengatasi bosan saat belajar menggunakan metode jarak jauh atau daring. Sipekek Wayang Moci Ecpres sediri merupakan sebuah metode pembelajaran kelas projeck agar anak lebih paham dan kreatif.

“Sipekek Wayang Moci Ecpres itu terdiri dari 3 frase, pertama “Sipekek” itu sebenarnya akronim dari sistem pembelajaran kelas projek, kemudian “Wayang” adalah media pembelajaran yang dihasilkan oleh peserta didik sendiri melalui projek tadi, “Moci” adalah akronim dari modifikasi kreativitas siswa sendiri dan terakhir “Ecpres” adalah akronim dari tahapan pembelajarannya tesebut jadi tahapan pembelajarannya itu menggunakan tahapan Ecpres yang artinya Ekplorasi konsep, Creat (menciptakan, Red), Playing/Presentation, Refleksi dan Sharing,” ucapnya menjelaskan.

Ia menambahkan, Sipekek Wayang Moci Ecpres peserta didik didorong untuk melakukan sebuah karya projek sesuai dan minat bakat dari peserta didik sendiri, nantinya salah satu projek yang dibuat peserta didik kemudian dibuat dalam bentuk Wayang Moci yang kemudian nantinya mereka akan mengekspol hasil karya yang mereka buat dengan mencari informasi melalui media pembelajaran baik elektronik maupun buku dan hasilnya akan dipublikasikan atau dibagkan ke media sosial untuk dibagikan kepada keluarga maupun teman-temannya.

“Setelah mereka mendapat materi pembelajaran, biasanya saya memberikan tugas prakarya, untuk karyanya bebas sesuai minat yang mereka kemudian mereka nanti akan berekspolrasi ,setelah dapat mereka akan membuat suatu karya yang dibuat dalam bentuk wayang baru setelah selesai karyana itu mereka mainkan atau presentasikan seperti Opera Van Java kecil-kecilan, mereka rekam dan videokan baru setelah itu mereka berikan kepada guru untuk dinilai,” terang nya yang merupakan Wali Kelas V ini.

Baru setelah itu, lanjut Idris masuk dalam tahapan “Refleksi” , para peserta didik mereflesikan hasil pembelajarannya apa saja yang mereka alami selama memainkan peran wayang tersebut, mereka mereflesikan dalam bentuk difrensiasi produk sesuai dekat bakat dan minatnya, jika siwanya senang dengan gambar maka mempresentasikan atau memainkanya dengan gambar cerita, atau poster digital maka memainannya dengan poster digital atau siswa tersebut memiliki bakat tampil sebagai dalang langsung memainkan wayangnya,” tuturnya.

Kemudian masuk tahapan terakhir yaitu “Sharing” mereka mengshare atau membagikan ke media sosial untuk berbagi ke orang tua, saudara dan temannya, karena minat dan ketertarikan siswa dengan adanya sistem pembejaran projek ini maka video nya akan semakin banyak yang dikirim oleh siswa sehingga oleh Idris dibuatkan oleh melalui aplikasinya nantikan sistem pembelajaran projek itu kan semakin banyak maka dibuatkan sebuah sistem layanan informasinya.

“Saya ngambil dari linktree sehingga orang tua bisa melihat hasil karya siswa , baik itu hasil karya produk yang sudah dibuat oleh siswa, daftar kehadiran siswa atau sekedar lihat nilai hasil ulangannya bisa melihat melalui aplikasinya bisa melalui scanbarcode atau buka langsung di linktreenya,” terangnya.

Jadi awalnya karena banyak yang kirim video itu karena antusias siswa sangat tinggi sehingga kumpulkanlah dalam satu likn dimana orang tua bisa melihat langsung karya anaknya boleh dengan sistem barcode ataupun mengklik linktree yang saya kirim. Di aplikasi itu bukan hanya pameran karya siswa tetapi orang tua juga bisa melihat absen siswa masuk atau tidak atau ingin melihat nilai ujiannya juga bisa,” ujarnya.

Diakui pria yang memulai karirya sejak 2005 dan baru diangkat menjadi PNS sejak tahun 2010 itu mengaku berawal rasa kekhawatiran melihat rasa kebosanan siswa saat belajar secara online, tidak hanya itu, ia merasa penyampaian materi secara online kurang tersampaikan dengan baik sehinga ia pun semakin tertantang untuk membuat sebuah inovasi pembelajaran salah satunya yaitu membuat sistem pembelajaran kelas projeck.

“Awalnya membuat pembelajaran kelas projek ini kan dalam beberapa tahun kegiatan belajar dilakukan secara daring dan sebenarnya saya dan guru-guru yang lain termasuk siswa belum siap dengan pembelajaran jarak jauh dan memang belum disiapkan, ia melihat saat di minggu-minggu pertama belajar daring siswa sangat semangat dan rutin mengumpulkan tugas, namun semakin lama siswa menjadi semakin sedikit mengumpuklan tugas entah itu karena bosan atau siswa dan orang tua yang tidak memahami tugas yang dimaksud,” ucapnya.

Namun meski begitu, Idris tetap semangat dan mencari inovasi-inovasi agar siswa senang saat belajar secara online ataupun peyampaian materi bisa tersampaikan dengan baik meski tidak berhadapan lagsung saat kegiatan belajar mengajar.

Ia menilai guru memiliki peran dan tangung jawab yang cukup besar untuk mencerdaskan anak bangsa, membimbing anak-anak untuk lebih kreatif dan mandiri sehingga munculah ide untuk membuat pembelajaran kelas projeck ini dan dipadukan dengan memanfaatkan teknologi saat ini.

“Saya rasa pandemi ini tidak hanya membawa dampak negatif, tetapi juga membawa dampak positif untuk terus berinovasi tertutama saat ini teknologi semakin berkembang,” imbuhnya.

Dengan adanya sistem pembelajaran kelas projek dan aplikasi Sipekek Wayang Moci Ecpres terutama di masa pandemi, peserta didik tidak hanya diberi materi dan tugas saja tetapi mengajak siswa untuk lebih lebih brekreatif sesuai minat dan bakat yang dimiliki masing-masing peserta didik.

“Jadi sekarang satiap 1 minggu itu saya selalu tugaskan untuk membuat satu karya dan Alhamdulilah semangat belajar siswa muncul lagi dan yang mengumpulka tugas karya ini semuanya mengumpulkan, mereka pun setiap minggunya semakin kreatif dan tampil lebih percaya diri,” tuturnya.

Hasil inovasinya membuat Sipekek Wayang Moci Ecpres ini pun telah membawa Idris menjadi salah satu ASN inspriratif se-Jawa Barat, bahkan aplikasi Sipekek Wayang Moci Ecpres sudah digunakan sekolah-sekolah lain di luar Kota Sukabumi seperti lombok, Bogor dan kota-kota lainnya.

“Alhamdulillah banyak yang tertarik dan beberapa sekolah juga sudah ada beberapa yang minta dibuatkan. Tentu sangat bangga yah dan harapannya ke depan Sipekek Wayang Moci Ecpres ingin dibuatkan hak cipta dan ini sedang proses,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas pedidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, Mohammad Hasan Asari mengaku bangga dan mengapresiasi inovasi yang dibuat oleh guru SDN Pakujajar CBM ini.

Hasan berharap ini bia menjadi sebuah motivasi bagi guru lainna untuk terus berinovasi dan guru harus menguasai teknologi.

“Guru harus kuasai semua aplikasi semaksimal mungkin atau menciptakan inovasi pembelajaran. Pembelajaran daring tak sesempurna luring.

Ini membuktikan hikmah dari pendemi Covid-19 kita jadi mengetahui bahwa keberadaan guru sangat diharapkan, terbukti satu tahun pakdemi oragtua sangat repot merangkap jadi guru,” ucapnya.

Untuk itu, ia pun meminta kepada guru atau kepala sekolah agar menciptakan pembelajaran daring yang bervariasi yang berarti guru harus kreatif, agar tak memberikan pembelajaran yang monoton. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.