PT Indonesia Power Palabuhanratu Lestarikan Penyu

  • Whatsapp
PELESTARIAN : PT Indonesia Power PLTU bersama petugas Balai Konservasi Penyu Pangumbahan, saat menanam pandan laut untuk pelestarian hewan penyu, kemarin (29/4).

CIRACAP,RADARSUKABUMI – PT Indonesia Power (IP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa Barat II, Palabuhanratu bekerjasama dengan Satuan Pelayanan Taman Pesisir Pantai Penyu (SPTP3) Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, lestarikan penyu hijau, kemarin (29/4).

General Manager PT Indonesia Power PLTU Palabuhanratu, Rolly mengatakan, kerjasama yang ditandatangani melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan Balai Konservasi Penyu ini, untuk memastikan keberadaan penyu di Pantai Pangumbahan tetap lestari.

“Alhamdulillah, kami sudah bekerjasama dengan pihak balai konservasi.

Untuk itu, kami akan berkolaborasi dengan STP3 Pangumbahan untuk menjaga penyu setiap bertelur hingga menetas menjadi tukik,” ucap syukur Rolly kepada Radar Sukabumi, kemarin (29/4).

Dalam melestarikan hewan dilindungi, sambung Rolly, PT Indonesia Power PLTU Palabuhanratu ini, telah menanam pandan laut yang dibutuhkan hewan penyu saat bertelur. Pasalnya, hewan tersebut tidak bertelur di tempat terang

. “Sebab itu, kami tanam pohon pandan laut.

Even ini, merupakan titik awal bagi kami untuk ikut dalam pelestarian penyu hijau,” ujarnya.

Selain menanam pandan laut, ujar Rolly, PT Indonesia Power Palabuhanratu juga memberikan bantuan berupa alat-alat kebersihan kepada STP3 Pangumbahan.

“MoU ini sifatnya berkelanjutan.

Jadi, akan terus kita evaluasi secara berkala.

Jadi kedepannya, kita akan membuat road map.

Setalah itu, kami improve.

Sehingga tujuan dalam menciptakan stabilitas penyu hijau di STP3 Pangumbahan dapat tercapai sesuai dengan harapan,” tandasnya.

Tak hanya konservasi penyu, PT Indonesia Power PLTU Palabuhanratu juga menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Kampung Batik Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap.

Terlebih, batik pakidulan yang berada di wilayah pajampangan ini, menjadi salah satu primadona. Sejauh ini, batik pakidulan merupakan kerajinan yang sangat membutuhkan perhatian.

Mengingat keberadaannya tepat berada di kawasan wisata dunia Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG).

“Kami akan bantu dalam hal pembinaan branding dan pengemasan Packaging,” timpalnya.

Untuk branding, pihaknya berencana akan menyandingkannya dengan CPUGG. Sementara untuk packaging PT Indonesia Power Palabuhanratu akan menyiapkan box khusus sebagai kemasan batik Pakidulan. 

Sebab itu, pihaknya akan memesan seragam batik dari Kampung Batik Purwasedar.

Hal ini, dimaksudkan sebagai salah satu bukti nyata, bahwa PT Indonesia Power Palabuhanratu, telah mendukung penuh Kampung Batik Purwasedar.

“Ke depan, kami akan melakukan pembinaan kepada masyarakat yang ingin belajar membatik.

Jadi, nanti para pengelola Kampung Batik ini yang akan menjadi instrukturnya,” bebernya.

Koordinator STP3 Pangumbahan, Ade Hendri Yunanto mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik MoU yang telah terjalin dengan PT Indonesia Power Palabuhanratu itu.

Terlebih lagi, saat ini ia mengaku, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan dalam upaya melestarikan penyu.

“Selama ini, kendala penyu bertelur adalah mereka sangat sensitif terhadap cahaya.

Sehingga dengan banyaknya cahaya penyu tidak mau bertelur, sehingga kembali ke laut.

Sedangkan, untuk penyu agar kembali lagi ke tempatnya menetas, mereka membutuhkan waktu sekitar 25 tahun,” katanya.

Berdasarkan data yang tercatat di Balai Konservasi Penyu Pangumbahan, terhitung sejak Januari 2019 hingga April 2019, terdapat sekitar 4 ribu tukik yang dilepas ke laut lepas.

“Hewan ini, kami dapat di pantai Pangumbahan yang biasa digunakan oleh penyu bertelur dengan panjang pantai sekitar 2,3 kilometer,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Balai Konservasi Penyu Pangumbahan telah memiliki target pada 2019 ini, untuk melepas tukik ke laut sebanyak 75 ribu tukik. “Setiap bulannya, ada sekitar 8 ratus hingga 1 ribu telur penyu di sini.

Sementara, untuk angka penetasan mencapai 90 persen. Sedangkan tingkat kehidupan setelah menetas mencapai 95 persen,” imbuhnya.

Sementara itu, Pencetus Batik Pakidulan, Aliyudin Firdaus (37) mengaku sangat terbantu dengan adanya program CSR dari PT Indonesia Power tersebut.

“Saya selaku pelaku prakarya seni bidang usaha kecil, memiliki harapan besar untuk ke depannya dalam memajukan Batik Pakidulan ini.

Untuk itu, saya ucapkan banyak terima kasih kepada PT Indonesia Power Palabuhanratu yang sudah membantu melalui program CSRnya,” pungkasnya.

(den/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *