Volume Sampah di Kota Sukabumi Meningkat Dua Kali Lipat

TPA Cikundul
Sejumlah petugas saat melakukan pengelolaan TPA Cikundul dengan menggunakan alat berat

SUKABUMI – Volume sampah di Kota Sukabumi mengalami peningkatan pada hari lebaran yang lalu. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi mencatat, jumlah sampah yang ditangani pada peringatan Idul Fitri 1445 Hijriyah meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

Terutama peningkatan terjadi pada momen malam takbiran di sejumlah pusat Kota Sukabumi.

Bacaan Lainnya

”Peningkatan volume sampah hampir dua kali lipat di momen malam takbiran,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peran Serta Masyarakat DLH Kota Sukabumi, Arlan Paranti Rivai, Senin (22/4).

Berdasarkan catatan, pada malam takbiran di Jalan Ahmad Yani, Pasar Pelita dan Ciwangi, jumlah sampah yang terkumpul diperkirakan berkisar antara 100 hingga 120 ton.

Sedangkan dalam kondisi normal produksi sampah harian dari seluruh wilayah Kota Sukabumi mencapai sekitar 180 ton. Sehingga, pda saat malam takbir personil yang diturunkan itu sekitar 150 orang.

Adapun untuk menangani sampah pada malam takbiran Idul Fitri 1445 Hijriyah, DLH Kota Sukabumi menurunkan 11 unit dump truck, 6 unit motor sampah, 4 unit mobil pick up dan kendaraan alat berat.

Untuk jenis sampah yang paling banyak ditangani pada saat peringatan Idul Fitri lalu adalah sampah rumah tangga.

Arlan menuturkan, untuk volume sampah di momen libur lebaran tidak mengalami kenaikan cukup signifikan. Sebab, lokasi wisata di Sukabumi tidak terlalu banyak dan kawasan wisata sudah bisa mengelolanya dengan baik.

Di sisi lain lanjut Arlan, DLH Kota Sukabumi kini memiliki jumlah armada sebanyak 28 unit dump truk dan 25 motor sampah. Khusus di 2023 mendapatkan bantuan dari provinsi sebanyak 4 dump truk.

Sementara itu, terkait penanggulangan sampah yang ada di Kota Sukabumi, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab bersama.

Untuk itu, Pemerintah Kota Sukabumi mendorong program bank sampah TPS3R masyarakat guna meminimalisir terjadi penumpukan sampah di TPA.

Di mana tempat pembuangan sampah tersebut, berkonsep untuk mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle).

Saat ini, Kota Sukabumi telah memiliki beberapa TP-S3R dengan ribuan nasabah, sehingga berdampak pada pengurangan volume di TPA. Penjabat Walikota Sukabumi, Kusmana Hartadji mengatakan, bank sampah yang dikelola langsung oleh masyarakat akan terus dikembangkan melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Sukabumi. “

Paling tidak, keberadaan bank sampah ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar dengan menjual sampah yang bisa didaur ulang atau mengolah sampah menjadi produk baru.

Kami juga terus menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilah dan mendaur ulang sampah,” terang Kusmana.

Diakui dia, keberadaan bank sampah TP-S3R ini harus mendapatkan dukungan sepenuhnya dari berbagai pihak.

Salah satunya, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilihan sampah guna percepatan proses reduksi sampah.

“ Setelah sampah rumah tangga dipilah, bisa langsung dikirim ke bank sampah ini, dan dapat bernilai ekonomis tentu saja. Kota Sukabumi sudah memiliki 12 titik TPS3R, mudah-mudahan keberadaan TPS3R BASCIMI ini bisa diaplikasikan ke beberapa TPS3R lainnya,” lanjut Kusmana Hartadji.

Selanjutnya, ia melaporkan keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul paling maksimal 3 sampai 4 tahun lagi.

Atas alasan ini, keberadaan TP-S3R sangat berpotensi untuk mereduksi jumlah sampah yang dibuang ke TPA. “ Kita juga akan membangun kerja sama dengan pabrik yang bisa memanfaatkan sampah dalam kegiatan usaha mereka, residu sampah dijadikan bahan bakar,” tambahnya.

Program seperti ini harus dikembangkan dan diduplikasikan ke beberapa kelurahan. Sebab, menurut Penjabat Wali Kota Sukabumi, jika program seperti ini sudah merata akan memperpanjang keberadaan TPA Cikundul.

“ Untuk mewujudkan duplikasi TPS3R di kelurahan-kelurahan lain harus didukung oleh seluruh pihak. Beberapa waktu lalu, telah terbentuk juga pengelolaan sampah di Kelurahan Situmekar. Yang paling penting adalah konsisten dalam pengeltolaan dan harus ada pasarnya, maksudnya pada saat sampah telah dipilah ini dijual ke mana. Kan harus jadi uang, ya?” pungkasnya. (why)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *