Ekspedisi Gerakan Anak Negeri ke Kasepuhan Ciptagelar (1)

CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu
CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu

Oleh : Hazairin Sitepu

Delapan jam perjalanan dari kota Sukabumi. Melalui jalan berlika-liku di atas bebatuan cadas. Entah melewati berapa gunung, saya pun tiba di Gelaralam ketika sebentar lagi matahari terbenam.

Bacaan Lainnya

Pusat pemerintahan adat Kasepuhan Ciptagelar itu berada di Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, di ketinggian 1.214 MDPL (meter di atas permukaan laut). Namanya Gelaralam.

Sungguh perjalanan yang membuat jantung lumayan dak..dik..duk. Dari empat ekspedisi Gerakan Anak Negeri (GAN) ke perkampungan adat di Indonesia, ini paling memacu adrenalin. Paling menantang.

Luas badan jalan hanya bisa untuk satu mobil. Bila berpapasan mobil dari depan, maka mobil yang saya tumpangi harus mundur mencari ruang untuk bisa menepi. Baru bisa meneruskan perjalanan setelah mobil dari atas gunung itu lewat.

Rombongan ekspedisi ke Kasepuhan Ciptagelar ini 15 orang, termasuk saya. Menumpangi tiga mobil. Konvoi disiram rintik hujan, di tengah hutan. Naik-turun gunung.

Harus sabar dan hati-hati tidak hanya sopir, tetapi juga saya dan rombongan, lantaran rute jalan dak..dik..duk itu cukup panjang. Kira-kira 10 km. Ada ruas jalan yang sebelah kanannya gunung menegak, sebelah kiri jurang terjal.

Kang Rizki Gustana dan Kang Ujang Saprudin memang tidak merekomendasikan dua mobil untuk mendaki ke Ciptagelar. Mobil saya dan mobil general manager Harian Metropolitan itu harus ditinggal di parkiran dekat kantor desa di Kasepuhan Sinarresmi. “Terlalu beresiko. Kita pake tiga mobil saja,” kata Kang Rizki. Ketika dari Sukabumi kami menggunakan lima mobil.

Maka, berangkatlah rombongan tiga mobil. Benar saja. Tidak jauh dari kantor desa itu mobil sudah berlenggang. Ban terus berputar di atas bebatuan cadas melalui jalan sempit yang berkelok-kelok. Kadang harus berhenti untuk mengecek apakah mobil-mobil kami itu masih tangguh untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah kesulitan ada keindahan. Pada beberapa tempat saya melihat kampung-kampung adat yang tertata di lembah-lembah dan hamparan sawah terasering nan indah di lereng-lereng gunung.

Jalan ke Ciptagelar ini sedari dulu begitu keadaannya. Terutama di jarak kira-kira 10 km sebelum pusat pemerintahan adat saat ini: Gelaralam.

Mirip jalan masuk ke dalam wilayah adat Tana Toa di Kajang. Batu-batu cadas di atas badan jalan sepanjang jarak dari gerbang sampai ke rumah pemimpin adat Amma Toa. Batu-batu itu seperti pecahan-pecahan batu besar yang sengaja ditaruh di atas badan jalan.

Untuk sampai ke rumah Amma Toa semua orang berjalan bertelanjang kaki. Sama seperti Baduy (terutama Baduy Dalam), tidak boleh ada kendaraan bermotor dan barang-barang modern masuk ke wilayah adat.

Berbeda dengan Ciptagelar, kendaraan bermotor dan barang-barang modern bebas masuk. Juga bebas digunakan, termasuk oleh masyarakat dan pemimpin adatnya sekalipun.

Jalan cadas dan yang rusak-rusak ke Ciptagelar itu sebenarnya sudah ada rencana untuk dibuat bagus. Akan diaspal. “Biar mobilitas ke sana lebih mudah dan lebih cepat,” kata Bupati Sukabumi Marwan Hamami.

Orang-orang di Kasepuhan Ciptagelar tidak setuju kalau jalan akses ke wilayah adat mereka dibuat bagus. Abah Ugi selaku pemimpin tertinggi adat pun mengatakan,”Kalau harus dibuat bagus, hanya boleh sampai di Ciptagelar. Jalan ke Tegaralam biarkan seperti sekarang. Kasih batu-batu saja.”

Salah satu komitmen masyarakat adat Ciptagelar adalah menjaga alam agar terus lestari. Sama halnya masyarakat adat Baduy dan Kajang.

Kalau jalan dibuat bagus, akan banyak ilegal loging. Hutan-hutan akan ditebang secara liar. “Mobil-mobil truk akan masuk ke sini untuk mengangkut kayu,” kata Kang Ujang, anak muda Kasepuhan Ciptagelar yang memandu saya dan rombongan GAN.

Pusat pemerintahan adat Kasepuhan Ciptagelar sejak delapan bulan lalu dipindah dari Ciptagelar ke Gelaralam.

Jaraknya kira-kira satu kilometer. Jika bupati ingin membuat jalan ke wilayah adat itu bagus, maka Abah Ugi membatasi hanya boleh sampai ke Ciptagelar. Itu pun sudah sangat mengancam kelestarian hutan yang sangat luas.

Ini kali keempat GAN melakukan ekspedisi ke perkampungan adat. Dua kali ke Baduy di Banten. Satu kali ke Tana Toa di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dan kali ini ke Kasepuhan Ciptagelar.

Ekspedisi ke Ciptagelar ini untuk melihat kehidupan masyarakat adat di wilayah kasepuhan itu. Juga sekaligus bertemu pemimpin tertinggi adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi di Gelaralam.

Abah adalah pemimpin adat tertinggi di Kasepuhan Ciptagelar. Di Baduy, pemimpin tertinggi adat adalah Puun. Sedangkan pemimpin tertinggi adat Tana Toa di Kajang adalah Amma Toa.

Jumlah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar 30 ribu jiwa, Baduy 20 ribu, dan Kajang 10 ribu. Sangat banyak. Masyarakat adat di Kasepuhan Ciptagelar sangat modern, jika dibandingkan dengan di Baduy dan Tana Toa.

Tetapi mereka memiliki komitmen yang sama dengan Baduy dan Tana Toa: terus menjaga alam agar tetap lestari. Semodern apa kehidupan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar? Tulisan kedua akan menceritakannya. (*)

Kasepuhan Adat Ciptagelar
Aktifitas Kasepuhan Adat Ciptagelar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *