Featured

Ragam Upaya Laura Lesmana Wijaya Perjuangkan Kesetaraan Kalangan Tuli

Sudah dan Tengah Garap Kamus Bahasa Isyarat Versi Berbagai Daerah

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah itu kini ditugasi sebagai juru bahasa isyarat di wilayah Tangerang, Banten. Namun, jika ada job di Jakarta yang tidak bisa diambil anggota lain, dia kerap diminta untuk menggantikan. ”Buat nambah-nambah biaya skripsi,” katanya.

Di Pusbisindo, pembelajaran sepenuhnya dilakukan oleh Laura bersama para guru yang kompeten. Semua pengajar di sana tuli. Mereka memiliki kemampuan bahasa isyarat yang alami dan sesuai dengan kebiasaan di Indonesia. Selain teori, pembelajaran kebanyakan dilakukan dengan praktik langsung. ”Kami berinteraksi langsung dengan penyandang tuli,” kata Mine, mengenang masa-masa dirinya belajar di Pusbisindo.

Selain membentuk PLJ dan memimpin Pusbisindo, upaya yang tengah ditempuh Laura adalah menyusun kamus bahasa isyarat. Dengan bermacam versi daerah. Saat ini dia sudah membuat kamus bahasa isyarat versi Jakarta dan Jogja. Sementara itu, versi lain yang sedang dikerjakan adalah versi Banten, Pontianak, dan Makassar.

Banyaknya versi bahasa isyarat, lanjut dia, menunjukkan bahwa kekayaan bahasa di Indonesia tidak hanya terjadi pada metode oral. Kosakatanya memiliki gerakan isyarat yang berbeda-beda dan berangkat dari budaya daerah masing-masing.

Kamus-kamus tersebut bisa menjadi panduan. Sebab, saat ini standar bahasa isyarat yang dibuat pemerintah Indonesia diadopsi dari Amerika Serikat sehingga menimbulkan resistansi dari kelompok tunarungu di seluruh Indonesia. ”Teman-teman tuli Indonesia melihat bahasa isyarat yang dari Amerika, tidak paham,” tuturnya.

Namun, dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan untuk merealisasi kamus berbagai versi tersebut. Selain anggaran, menurut dia, diperlukan riset dan kerja sama dengan universitas di daerah maupun komunitas tuli lokal. ”Kira-kira butuh waktu 3 sampai 5 tahun untuk membuat kamus,” terangnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Tinggalkan Balasan