KABUPATEN SUKABUMISUKABUMI

Dua Versi Legenda Asal Usul Ayam Pelung

Ayam pelung adalah plasma nuftah yang berasal dari Jawa Barat, tepatnya berasal dari daerah cianjur. Ayam pelung memiliki beberapa keunggulan diantaranya ayam jantan dewasa memiliki suara kokok yang panjang mengalun merdu, pertumbuhannya yang sangat cepat apabila dilakukan pemeliharaan secara intensif, bobot badan ayam pelung jantan bisa mencapai 4 – 8 Kg. Ayam betina dewasa setiap memasuki periode bertelur jumlah telur yang dihasilkan bisa mencapai 30 – 35 butir.

Ada dua versi mengenai asal usul keberadaan ayam pelung. Versi pertama, sekitar tahun 1850 ayam pelung pertama dipelihara dan berhasil dikembang biakan pertama kali oleh seorang kyai yang bernama H. Djarkasih (Mama Djarkasih).

Ia dikenal dengan panggilan Mama Acih, ia tinggal di Desa Bunikasih, Kecamatan Warung Kondang, Cianjur Jawa Barat.

Sebenarnya penemuan ayam pelung oleh Mama Acih ini berdasarkan atas petunjuk mimpi. Didalam mimpi tersebut, ia bertemu dengan Eyang Surya Kencana. Dimana Eyang Suryakencana ini adalah Putra Sulung Bupati Cianjur yang pertama, yaitu Wiratanudatar I.

Dalam mimpi Mama Acih tersebut, Eyang Surya Kencana menyuruh Mama Acih untuk mengambil sepasang anak ayam yang disimpan dikebun belakang rumahnya. Keesokan harinya mimpi Mama Acih tersebut menjadi kenyataan, ketika Mama Acih sedang berada di belakang rumahnya, dia menemukan sepasang anak ayam tanpa induk dengan perawakan tinggi besar dan berbulu jarang (Torondol).

Setelah dipelihara oleh Mama Acih, ternyata sepasang anak ayam itu mempunyai beberapa kelebihan dibanding ayam lokal/kampung lainnya. Yaitu ayam jantan tersebut memiliki ukuran tubuh yang tinggi besar, dengan jengger berdiri tegak dan bergerigi nyata, serta memiliki suara kokok yang panjang dan berirama merdu mengalun indah.

Karena kelebihan dari ayam tersebut, banyak masyarakat yang menyenanginya terutama dari keindahan suaranya. Mereka menyebut ayam tersebut dengan nama AYAM PELUNG karena pada waktu berkokok terlihat lehernya melengkung (Melewung) ke bawah sampai paruhnya menempel ke tanah.
Dari sepasang Ayam Pelung milik Mama Acih tersebut, berkembanglah keturunannya menjadi ayam penyanyi dari Cianjur. Hingga sekarang ayam pelung masih tetap diminati oleh para penggemarnya di hampir seluruh wilayah Nusantara.

Selanjutnya versi kedua. Dijelaskan oleh seorang penduduk bernama Nambeng yang berasal dari Warung Kondang. Menurut ceritanya, sekitar tahun 1940, seorang murid yang berasal dari Jambudipa Kecamatan Warung Kondang bernama H. Kosim bertamu kepada gurunya Mama Ajengan Gudang.

Ia melihat seekor ayam betina yang sedang mengasuh anak-anak ayam dan diantaranya ada satu ekor yang bentuk badannya berbeda dengan yang lainnya, besar, tinggi dan (trundul). Ia kemudian menyampaikan keinginannya kepada gurunya itu untuk memiliki dan membeli sepasang ayam tersebut.

Permohonan H. kosim untuk membeli anak ayam tersebut dikabulkan. Sepasang anak ayam yang dibeli oleh H. Kosim tersebut dikembangkannya di Warungkondang. Setelah dewasa Ayam Jantan tersebut mempunyai kokok dengan suara besar, panjang dan berirama merdu yang disebut sebagai Ayam pelung. Ayam ini oleh sebagian penduduk cianjur dianggap sebagai cikal bakal ayam pelung yang berkembangbiak di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Dari kedua versi cerita diatas, jelas bahwa ayam pelung berasal dari kecamatan Warung kondang, Cianjur Jawa Barat. Yang keberadaanya wajib kita lestarikan sebagai aset Plasma Nuftah warga Jawa Barat. Semoga ayam pelung tetap abadi di hati para peternak dan penggemarnya.(dikutip dari wwwayampelung.blogspot.co.id)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close