Kampus

UMMI Kembangkan Kurikulum Berbasis Revolusi Industri 4.0 dan Keislaman

SUKABUMI – Universitas Muhammadiyah Sukabumi saat ini tengah mengembangkan kurikulum berbasis revolusi industri 4.0 dan keislaman, dengan mengembangkan semua mata kuliah terintegrasi dengan Al-Islam dan kemuhammadiyahan.

Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Reny Sukmawani mengatakan, pengembangan kurikulum berbasis revolusi industri 4.0 ini dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Tentunya hal ini juga sesuai dengan program kerjanya yaitu bidang akademik. Apalagi di kampus ini, semua mata kuliah dalam segala bidang ilmu yang dipelajari oleh mahasiswanya itu harus terintegrasi dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Hal tersebut juga sebagai salah satu amanat yang disampaikan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

“Sekarang ini, kita tengah menghadapi era revolusi industri 4.0, tantangan terbesar perguruan tinggi untuk dapat mengendalikan kemajuan zaman atau malah tertindas oleh zaman,” ucap Reny Sukmawani.

Revolusi industri 4.0 menurutnya adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.

“Tren ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia dan menghadirkan fenomena disrupsi, situasi di mana tatanan hidup dan kerja manusia berubah secara fundamental,” ulasnya.

Kemajuan teknologi baru sebagai dampak dari revolusi industri 4.0 ini mengintegrasikan dunia fisik, digital, biologis yang telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, dan pemerintah, termasuk juga dalam bidang pendidikan yang berfungsi sebagai sarana pembangunan sumber daya manusia.

Visi pembangunan Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 adalah memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang, dengan menekankan upaya peningkatan kualitas SDM termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian.

Diperkuat dengan rencana pembangunan sumber daya manusia dalam RPJM tersebut yaitu meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan, termasuk yang berbasis keunggulan lokal dan didukung oleh manajemen pelayananan pendidikan yang efisien dan efektif, dan menyelaraskan pembangunan pendidikan, iptek dan industri.

“Untuk mencapai visi tersebut, maka revolusi industri 4.0 ini mendorong kurikulum pendidikan tinggi menyesuaikan diri dengan dinamika digital, internet of thing, artificial intelligence, bioteknologi, serta perkembagan pesat lainnya,” tegasnya.

Ia memandang penting akan reorientasi kurikulum pendidikan tinggi ini, khususnya dalam membekali kompetensi yang mumpuni agar lulusan perguruan tinggi mampu menghadapi arus globalisasi.

“Dan jika kurikulum tidak disesuaikan, akan berdampak pada kualitas kompetensi lulusan perguruan tinggi tersebut,” terang Reny.

Universitas Muhammdiyah Sukabumi merupakan lembaga pendidikan tinggi yang jumlah mahasiswanya dari waktu ke waktu terus meningkat. Untuk mengimbanginya dalam mencetak lulusan yang berdaya saing di era revolusi industri 4.0, maka peningkatan dari segi pelayanan dan kualitas pembelajaran di kelas juga harus terus ditingkatkan.

“Untuk itu Universitas Muhammadiyah juga perlu mengembangkan kurikulum pendidikan tinggi yang mengedepankan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan era revolusi industri 4.0,” tuturnya.

Ia pun manergetkan, ke depan UMMI mampu menghasilkan kurikulum perguruan tinggi. Di mana proses penyelenggaraan pembelajarannya dapat mencetak lulusan dengan keunggulan kompetitif yang mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, dan keterampilan hidup agar mampu berdaya saing di era revolusi industri 4.0. (wdy)

Tags

Tinggalkan Balasan