Dua Abad Keris Kiai Nogo Siluman

  • Whatsapp
KERIS DIPONEGORO: Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo saat menerima penyerahn keris Kiai Nogo Siluman dari Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima dari Belanda di Istana Bogor (10/3). (MUHAMAD ALI/JAWA POS)

RADARSUKABUMI .con – DI MANA sejatinya keris Kiai Nogo Siluman?

Kalau disimpan di Belanda, di mana persisnya?

Kenapa Indonesia tak diberi akses informasi sama sekali?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dulu berkecamuk di benak Gunawan setelah membaca karya-karya sejarawan Inggris Peter Carey tentang Pangeran Diponegoro. Diponegoro memang secara khusus menarik perhatian pria yang bertugas di bagian Pokja Perancangan, Penyajian, dan Pengamanan Koleksi Museum Nasional itu.

’’Jadi, rasa penasaran saya akan benda ini (keris Diponegoro) hadir. Apalagi ketika bekerja di museum (sejak 2005),’’ ucapnya ketika diwawancarai Jawa Pos di Museum Nasional Kamis (15/10).

Dari hasil terus membaca dan mencari tahu, keris Kiai Nogo Siluman yang dimaksud diketahui masih berada di Belanda. Tepatnya di Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda.

Berdasar sejarah, keris tersebut didapatkan pemerintah Belanda setelah menangkap Pangeran Diponegoro seusai Perang Jawa pada 1825–1830. Kolonel Jan-Baptist Cleerens kemudian memberikan keris itu sebagai hadiah kepada Raja Willem I pada 1831.

Dan, akhirnya, sekitar dua abad kemudian, persisnya 10 Maret lalu, keris itu pulang kampung. Keris berwarna kuning tersebut diserahterimakan secara simbolis kepada Presiden Joko Widodo oleh Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima di Istana Kepresidenan Bogor.

Keris itu kini bersemayam di Museum Nasional. Kepulangannya pun diharapkan menjadi pembuka bagi kembalinya lebih banyak benda bersejarah asal Indonesia yang masih dikuasai Belanda.

Rabu pekan lalu komite penasihat yang dibentuk pemerintah Belanda merilis laporan. Intinya, Negeri Kincir Angin harus mengembalikan benda-benda bersejarah yang didapat secara paksa atau ilegal dari negeri-negeri bekas jajahan mereka.

Menurut Lilian Goncalves-Ho Kang You, pengacara HAM dan ketua komite, pemerintah Belanda harus mengakui sisi gelap kolonialisme. ’’Caranya, mengembalikan barang-barang milik negara bekas jajahan yang didapat secara ilegal dan jika negara yang bersangkutan memang memintanya,’’ katanya seperti dilansir Associated Press.

Perihal perawatan, Gunawan menyebutkan bahwa keris yang mengandung unsur logam seperti besi, emas, perak, dan perunggu harus memperhatikan betul soal kondisi penyimpanannya. ’’Jangan sampai terlalu lembap. Suhu dan kelembapan di Indonesia cukup tinggi ya,’’ tuturnya.

Karena itu, perawatan berkala dilakukan tim konservasi yang paham betul akan ilmu kimiawi dan bisa merawat benda museum. ’’Kita tidak pakai ritual ya. Jadi, dirawat secara ilmiah,’’ ucap pria berusia 46 tahun itu.

Penyimpanan juga dilakukan dengan prosedur berlapis. Tidak semua bisa buka. Jika tidak ada event juga sulit dilihat. ’’Seperti halnya di Istana Bogor saat penyerahan resmi. Satu malam diinapkan di sana (istana), lalu dikembalikan ke sini (Museum Nasional),’’ ujarnya.

Sayang, tidak lama setelah momen pengembalian keris Diponegoro itu ke Indonesia, Covid-19 merebak di tanah air dan dunia. Hal itu membuat tidak banyak event yang bisa diadakan untuk memamerkan keris tersebut. Padahal, animo masyarakat untuk melihat keris secara langsung cukup bagus.

Rencananya, pada akhir Oktober ini, Museum Nasional me-launching pameran barang kepemilikan Pangeran Diponegoro. Selain keris, terdapat benda bersejarah lainnya.

Di antaranya, tombak Kiai Rondhan, keris Kiai Nogo Siluman, pelana kuda Kiai Gentayu, dan payung peninggalan. ’’Tapi, untuk payung, kondisinya tidak bisa dibuka. Bahannya organik, mengandung unsur kertas. Jadi, khawatir cepat rapuh,’’ tutur Gunawan.

Sejauh ini, sedikitnya terdapat 193 ribu koleksi di Museum Nasional. Termasuk pengembalian 1.500 benda bersejarah dari Museum Nusantara di Delft, Belanda.

’’Kan latar belakang museum mereka mengalami kebangkrutan ya. Pembiayaannya sulit. Sebanyak 1.500 benda itu nanti kami pamerkan juga dengan tema yang lain,’’ ujarnya. (jpg)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *