Pencegahan Hipertensi

Hipertensi

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bismillahirahmanirrahim, dalam memperingati hari hipertensi sedunia, perlu kita ketahui dan ingat-ingat lagi hal-hal yang berkaitan dengan hipertensi supaya kita dapat mencegah terjadinya hipertensi atatupun komplikasi hipertensi.

Hipertensi disebut sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, 1 dari 4 orang di Indonesia mengalami hipertensi, dapat dikatakan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang umum di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018 prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen, kasus tertinggi berada di Kalimantan selatan (44,1 persen) dan terendah di papua (22,2 persen).

Hipetensi merupakan suatu keadaan di mana tekanan darah kita mencapai lebih 140/90, penyakit ini sering disebut silent killer karena seringkali penderita hipertensi yang tidak memiliki gejala atau keluhan apapun dan baru diketahui ketika pasiennya sudah mengalami komplikasi dari hipertensi.

Gejala dari hipertensi dapat berupa, sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit di dada, mudah lelah, gelisah, jantung berdebar-debar dan lain-lain. Faktor resiko dari hipertensi dibagi menjadi dua yaitu, tidak dapat dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi.

Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain, usia lebih 45 tahun, Riwayat keluarga. Sedangkan faktor resiko yang dapat dimodifikasi antara lain, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, diet tinggi lemak, konsumsi garam berlebih, dislipidemia, konsumsi alkohol berlebihan, psikososial dan stress.

Pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan cara CERDIK yaitu, Cek Kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stress.

Pengecekan tensi pada orang yang memiliki hipertensi ataupun tidak dapat dilakukan secara rutin minimal 1 bulan sekali, selain harus rutin di cek tensi pengobatannya juga harus dilakukan secara rutin dan harus diminum setiap hari, dikarenakan hipertensi merupakan penyakit yang akan dimiliki seumur hidup.

Bagi penderita hipertensi harus membatasi konsumsi garam yaitu sekitar 1.500 mg natrium atau setara dengan 2/3 sendok teh garam perhari, selain itu penderita hipertensi juga harus mengurangi makanan yang berlemak.

Aktivitas fisik dapat dilakukan minimal 3-5x/minggu, selama -+ 30 menit perhari, dan olahraga yang dapat dilakukan adalah olahraga ringan atau aerobic.

Di Indonesia hanya 0,7 persen orang yang terdiagnosis tekanan darah tinggi yang meminum obat secara rutin, padahal jika hipertensi tidak ditangani dengan baik dengan cara rutin meminum obat dan melakukan pencegahan lainnya dapat menyebabkan terjadinya komplikasi hipertensi atau timbul penyakit lainnya.

Komplikasi yang dapat disebabkan oleh hipertensi yang tidak terkontrol antara lain, penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, retinopati atau kerusakan pada retina, penyakit pembuluh darah tepi, gangguan pada saraf, gangguan pada otak.

Alasan penderita hipertensi tidak meminum obat antara lain, karena penderita merasa sehat, kunjungan tidak teratur ke fasyankes, minum obat tradisional, menggunakan terapi lain, lupa minum obat, tidak mampu beli obat, obat tidak tersedia di fasyankes.

Semoga dengan begitu kita dapat lebih waspada dengan hipertensi yang di sebut-sebut sebagai silent killer, agar kita dapat melakukan pencegahan sedini mungkin dan menurunkan angka kejadian hipertensi maupun komplikasi hipertensi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi saya dan juga pembaca. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan