Peternak Telur di Sukabumi Keluhkan Harga Jual Rp15.000, Awas Ada Yang Nakal!

  • Whatsapp
PETERNAK TELUR
MASALAH PETERNAK TELUR: Salah satu kandang ayam petelur yang di Kabupaten Sukabumi terpengaruh atas anjloknya harga telur.

SUKABUMI – Harga telur ayam di Sukabumi anjlok. Di satu sisi, ini kabar baik bagi konsumen. Di sisi lain, kabar buruk pagi peternak telur, khususnya yang peternak rakyat. Lantas, hal inipun menjadi problem serius bagi peternak telur rakyat di Kabupaten Sukabumi.

Adalah Suranto Sumiwiryo, salah seorang peternak telur rakyat di Sukabumi yang mengeluhkan anjloknya harga telur selama satu pekan terakhir ini. Menurutnya, turunnya harga telur diakibatkan oleh tidak seimbangnya antara produksi dan permintaan di pasaran.

Bacaan Lainnya

“Permintaan itu turun juga mungkin dikarenakan adanya pandemi, tapi saya kira lebih dari itu. Ada yang lebih berpengaruh di luar pandemi,” kata Suranto kepada Radar Sukabumi, Selasa (21/9).

Suranto menjelaskan, antara produksi dan kebutuhan tidak sesuai dengan perencanaan pemerintah. Namun dia menduga sala satu faktor yang mengacaukan perencanaan ini adalah lemahnya pengawasan kepada peternak berskala besar atau industri.

“Ya, diduga ada lemahnya pengawasan. Misalkan peternak yang besar itu, diberikan izin produksi 50.000 kilogram atau 100.000 kilogram di satu lokasi, namun kenyataannya dia membuat sampai 200.000 kilo dalam sehari. Nah ini dibiarkan, tidak dikontrol lagi,” beber Suranto.

Dugaan inipun sekaligus membantah argumentasi bahwa harga telur anjlok dipengaruhi oleh pabrikan pakan. Bahwa tidak ada korelasi antaran harga pakan dengan harga jual telur di pasaran karena segmentasi pasarnya berbeda.

“Saya kira, pengawasan itu harus lebih ketat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi itu kalau memberikan izin ke satu lokasi peternakan, katakan lah 100.000 per kilo, ya harus diawasi dengan ketat,” tutur pria bergelar dokter hewan.

Disebutkan oleh Suranto, turunnya harga telur sejatinya mulai terjadi sekira tiga bulan terakhir. Namun angka terburuknya pada satu hingga dua pekan terakhir. Bahkan berdasarkan Pusat Informasi Pasar (Pinsar) di kisaran Rp15.000 per kilogram hingga Rp17.000 per kilogram.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *