SUKABUMI – Mahasiswa IPB University yang menjalankan kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) di Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi melaksanakan program kerja pembuatan lubang resapan biopori pada 10 Juli – 14 Juli 2024.
Pelaksanaan program kerja tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi Desa Mandrajaya yang kerap dilanda banjir saat musim hujan tiba. Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab banjir di Desa Mandrajaya tersebut, salah satu penyebab utamanya yaitu kurang optimalnya area resapan air di beberapa lokasi serta dangkalnya sungai ciletuh yang mudah meluap.
Menghadapi permasalahan tersebut, mahasiswa KKN-T IPB University menginisiasi program pembuatan lubang resapan biopori untuk mengatasi masalah kurangnya optimalnya area resapan air terhadap tanah.
“Iya benar Desa Mandrajaya kerap dilanda banjir, terutama saat musim hujan. Banjir diakibatkan oleh beberapa faktor yang di antaranya yaitu hujan terus menerus, kurang optimalnya area resapan air yang kemudian disertai oleh pasangnya air laut dan dangkalnya Sungai Ciletuh sehingga menyebabkan beberapa kedusunan di Desa Mandrajaya kebanjiran.” ujar Ajat Sudrajat (Kepala Desa Mandrajaya).
Lubang resapan biopori atau sering disebut lubang biopori merupakan metode alternatif untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air guna mitigasi dari bencana alam khususnya banjir.
Idealnya, pembuatan lubang biopori terbuat dari pipa paralon yang diberi lubang-lubang. Namun, inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa KKN-T IPB University yaitu lubang resapan biopori yang terbuat dari limbah botol bekas air mineral 1,5 liter yang dimanfaatkan kembali.
Selain menghemat biaya, pemilihan botol air mineral bekas bertujuan untuk mengurangi sekaligus mendaur ulang limbah botol plastik.
Prinsip kerja lubang biopori sangat sederhana. Lubang biopori yang dimasukkan ke dalam tanah sedalam 50-100 cm akan diisi dengan sampah organik seperti dedaunan kering, buah-buahan busuk dan sisa makanan yang sudah tidak digunakan kembali yang bertujuan untuk merangsang aktivitas dari biota tanah seperti cacing serta berbagai jenis serangga dan akar tanaman sehingga membentuk rongga-rongga di dalam tanah yang disebut biopori.
Rongga-rongga tersebut yang nantinya akan meningkatkan dan mengoptimalkan daya serap tanah ketika terdapat genangan air maupun banjir.
“Pembuatan lubang biopori merupakan salah satu metode mitigasi banjir yang paling sederhana. Inovasi lubang resapan biopori yang kami kenalkan sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak memakan biaya yang mahal dan memanfaatkan limbah botol plastik yang tersedia,” ujar Vinan (Ketua Tim KKN-T Desa Mandrajaya).






