ARTIKEL

Riwayat Hari Jadi Kota Sukabumi

Oleh: Irman Firmansyah

“Kau bisa menghapus seluruh generasi, kau bisa membumihanguskan rumah-rumah mereka, mereka masih akan menemukan jalan kembali. Tetapi jika kau menghancurkan sejarah mereka, memusnahkan capaian-capaian mereka, kau bisa melihat seolah-olah mereka semua tak pernah ada”. (Frank Strokes, The Monuments Men)

Kapan Kota Sukabumi lahir? hal tersebut sering menjadi pertanyaan masyarakat Sukabumi yang merasa Kota tak punya riwayat kelahiran dan identitas yang jelas. Apalagi dengan ketiadaan bukti-bukti sejarahnya, hingga bangunan-bangunannyapun lambat laun berubah menjauhi ciri-ciri kebesaran masanya. Hal ini mungkin bisa dimengerti mengingat nama Sukabumi lahir jauh sebelum hari peringatannya, apalagi entitas masyarakatnya sudah ada sebelum bernama Sukabumi.

Sukabumi sebagai administrative kota mungkin bisa dikatakan baru, namun sebagai entitas masyarakat bisa dikatakan cukup tua, Jauh sebelum kota ini lahir, wilayah ini adalah tempat para pemburu, dan pengembala nomaden tinggal menetap dan menjadi petani. Lokasi Sukabumi yang berada diantara banyak sungai yang menyediakan air sebagai syarat utama sebuah tempat tinggal, diantaranya Sungai Ciseureuh, Sungai Cijambe, Sungai Cipelang Leutik, Sungai Ciwalung, Sungai Cimeuncreung, Sungai Ciparigi, Sungai Ciwangi, Sungai Cibandung, Sungai Cikiray, Sungai Cipanengah, Sungai Citamiang, Sungai Cisarua, Sungai Cisuda, Sungai Ciaul, Sungai Ciandam, Sungai Cibeureum dll. Semenjak masa Tarumanegara, wilayah ini konon menjadi lintasan peziarah dari barat ke timur dan sebaliknya.

Kota ini berada dilembah Gunung Gede, sebuah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Pajajaran, Gunung yang disebut oleh Bujangga Manik -seorang traveller jaman pajajaran- sebagai Bukit Ageung yang dianggap pusat kosmos sehingga hampir semua menhir peribadatan disekitarnya mengarah ke Gunung Gede. Dari kejauhan gunung ini nampak berwarna biru, sehingga kolonis pertama yang memasuki daerah ini yaitu Scipio, menyebutnya blauwenberg (Gunung Biru). pantaslah babakan yang didirikan didekatnya yaitu Gunung Parang, sangat subur, seperti yang dicatat oleh Jan Casper Philips dalam Hedendaagsche historie, of het vervolg van de algemeene historie, Volume 10 tahun 1779 disebutkan bahwa Gunung Parang terbentuk dari lahar yang dihasilkan ledakan perut bumi Gunung Gede.

Gunung Parang sekarang adalah nama sebuah kelurahan di Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, nama ini konon berasal dari bentukan bukit yang mirip parang yang dimulai dari pasir galatik (kerkof) bersambung ke jalan baros (Kelurahan Gedong Panjang) sampai jalan gudang (Kampung Cikiray, Kebon Jati) sebagai bentuk perah/gagang, kemudian dari Cikiray sampai Gunung Puyuh adalah bilah parangnya. Namun pendapat lain dari Gerhardus Heinrich Nagel dalam buku Schetsen uit mijne Javaansche portefeuille 1828 disebutkan bahwa Gunung Parang itu berasal dari tempat yang dijadikan Perang (Prang) dimasa lalu semacam pertempuran antar wilayah. Peperangan ini ternyata terekam dalam legenda yang dipercayai masyarakat tentang cikal bakal kota Sukabumi sekarang, yaitu pembentukan babakan awal Gunung Parang dalam pantun bogor.

Dalam majalah Taal, Land, Volkenkunde kisah Gunung Parang ini berkaitan dengan Puteri Mendapa, di Palabuhanratu juga beredar kisah ini dengan nama lelakon sasakala tangkal awisan di Gunung Parang (Ki Narowi dari Sangiang), Ki Rakean Minda Kalangan (R. Muhtar Kala) tahun 1962 merangkum pantun dan kisah ini menjadi kisah asal usul babakan Gunung Parang yang bermula dari sebuah peperangan. Kisah-kisah ini diangkat kembali oleh Ki Anis Djatisunda seorang Budayawan dan Sejarawan di Sukabumi dalam beberapa catatandan buku. Dalam kisahnya ketika pajajaran runtag tahun 1579, pasukan Banten melakukan pengejaran para pembesar dan pasukan Pajajaran ke arah timur dan selatan (bantar gadung), disisi lain sepanjang tempat yang dilewati dihancurkan seperti kadatuan pamingkis yang berada di Gunung Walat Cibadak, laju pasukan Banten terus ke arah timur yaitu Cimahi dan Dayeuh luhur (kacutakan Mangkalaya), Dayeuh yang dikelilingi Benteng itu diporakporandakan seketika, sementara penduduknya melarikan diri menyebrangi sungai Cigunung menuju Gunung Guruh, kampung terdekat yang cukup aman karena berbukit dan tidak mudah ditembus . Pepeperangan terhadap entitas masa lalu masyarakat Kota yang dilindungi banteng dan sekarang hanya tersisa lewat toponimi Kampung Kuta dan Kampung Benteng.

Dalam kisah masyarakat, Kandaga Lante Kerajaan Pajajaran, Embah Terong Peyot, sempat datang ke Dayeuh Luhur pasca serangan Banten dan bermukim diatas puing dayeuh ini sampai meninggal. Pembentukan babakan yang lebih tegas dengan nama Gunung Parang terjadi pasca Pajajaran runtuh beserta kisah tragis Wangsa Suta yang menunggu kedatangan sang kekasih dan sudah menjadi historiografi tradisi. Setting Nyi Pudak Arum ini dimungkinkan berlangsung sekitar 1614 dimana pengaruh Mataram sudah masuk ke Sukabumi dan mengklaim wilayah yang tidak diduduki Banten ini. Dalam versi Sumur Wangi, Raden Kartala (Demang Mangkalaya) menyarankan supaya Nyi Pudak Arum dihadiahkan kepada Sultan Mataram, tetapi Mas Sakatana penasehat demang melarangnya karena tanah sunda akan menjadi habis oleh kejayaan bangsa Jawa. Pada masa ini berdatangan banyak orang ke wilayah ini dengan berbagai tujuan termasuk mendakwahkan islam. Bukti-bukti bisa ditelusuri dari keberadaan makam makam islam kuno di Kota ini.

Sementara jejak kolonial awal pasca penyerahan wilayah Gunung Gede dan Gunung Salak sampai Pelabuhanratu dari Mataram kepada VOC pada tahun 1677 juga menegaskan berkembangnya Gunung Parang yang dipengaruhi wilayah menjadi bahan perbincangan VOC yaitu Gunung Guruh saat dikunjungi Scipio pada tahun 1687 dan Van Riebeeck pada tahun 1709. Gunung Parang sendiri terus berkembang sebagai perkebunan kopi yang cukup dikenal sehingga ditetapkan sebagai distrik sendiri dibawah Regentschap Tjiandjoer pada tahun 1776 mengingat Gunung Guruh yang menjadi awal penanaman kopi mempunyai kontur yang sulit untuk distribusi. Pada masa itu secara resmi Sukabumi (Gunung Parang) masuk wilayah Batavia Ommenlanden dan Bovenlanden.

Kekuasaan Daendels menyebabkan wilayah kawasan Sukabumi menjadi bagian wilayah Landdrostambt der Jacatrasche en Preanger Bovenlanden (termasuk juga Tangerang, Karawang, Buitenzorg, Sumedang, Bandung, dan Parakanmuncang). Kemudian pada tanggal 2 Maret 1808 dirubah lagi areanya, di mana wilayah Sukabumi dimasukan ke wilayah Batavia Ommenlanden dan pada 2 Maret 1811 dirubah kembali menjadi masuk ke wilayah Batavia Regentschappen. Kemudian saat masuknya Raffles, berubah lagi menjadi wilayah Karesidenan Buitenzorg, terhitung sejak tahun 1813 atas usul Mac Quoid dan Van Lawick Van Pabst dalam usulan komisi yang diajukan pada tanggal 31 Desember 1812. Setelah itu berubah lagi tanggal 10 Agustus 1815, masuk ke wilayah Karesidenan Priangan akibat pisahnya Karesidenan Buitenzorg dan Priangan.

Gunung Parang sebagai cikal bakal Sukabumi yang cukup penting dalam bisnis kopi menaikan pamor seorang pengusaha kopi mantan dokter bedah yang bernama Andries De Wilde yang membeli wilayah ini dan area sekitarnya pada tahun 1813. Andries de Wilde menamai Sukabumi pada tanggal 13 Januari 1815 bukan hanya untuk Gunung Parang, tetapi untuk keseluruhan area yang dimilikinya (Vrijeland Soekaboemi), yaitu Goenoeng Parang, Tjimahie, Tjiheulang, Tjitjoeroeg, batas selatan yaitu Plaboean dan Djampang. Wilayah Vrijeland Sukabumi yang dimaksud adalah berupa perkebunan-perkebunan (Landgoed) yang dibagi dalam beberapa distrik dan dikepalai para cutak seluas 686 pal persegi. Pal (Paal) adalah tonggak penanda titik ruas jalan atau luas bidang lahan yang setara dengan 1.507 m, sedangkan Distrik Gunung Parang hanya 71 pal persegi. Pembangunan kanal air serta sistem pertanian dan diversifikasi tanaman menyebabkan Sukabumi bisa dikatakan maju pada masa tersebut. Wilde menetapkan kampung Cikole sebagai pusat Vrijeland dan mengelola Sukabumi secara independen seolah terlepas dari kekuasaan bupati lokal seperti layaknya kerajaan dalam sebuah Kabupaten.

Pada tahun 1819 Ibukota Karesidenan Priangan berada di Cianjur ditandai dengan pengangkatan Van Motman sebagai Residen Priangan pada bulan Januari 1819. Berdasarkan surat Residen Priangan tanggal 21 Mei 1864 dan persetujuan dari Menteri Jajahan pada 7 November 1864, No.11/1341, Ibukota Karesidenan Priangan dipindahkan ke Bandung. Sejak Ibukota Karesidenan Priangan pindah dari Cianjur ke Bandung, mulailah ada perubahan mendasar. Jabatan residen dihilangkan di Cianjur dan diganti jabatan Asisten Residen yang tugasnya mengawasi Bupati dan sudah berlangsung sejak tahun 1864.Sistem birokrasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda menerapkan sistem direct rule (pemerintahan langsung) sekaligus indirect rule (pemerintahan tidak langsung).

Di samping para pejabat Belanda seperti Gubernur, Residen, Asisten Residen, Kontrolir, Aspiran Kontrolir sebagai direct rule atau yang disebut sebagai Binnendlands Bestuur (BB), di satu sisi terdapat pejabat-pejabat pribumi yang terdiri atas para Bupati, Patih, Wedana, dan lain-lain yang disebut sebagai inlandsch bestuur atau pangreh praja (PP) yang berasal dari para menak setempat dari kerajaan-kerajaan tradisional. Sejak tanggal 1 Januari 1871 secara resmi Cianjur dan Sukabumi dipisah menjadi afdeling tersendiri. Jabatan Asisten Residen ditambah menjadi asisten residen Residen Sukabumi dengan gaji f. 12.180 per tahun yang berlangsung sampai 1921. Diangkat pula patih melalui Staatsblad No. 121 Tahun 1870 pada tanggal 10 September 1870 (beberapa bulan sebelum pemisahan resmi), maka secara administratif muncul istilah Afdeling Sukabumi yang terpisah dengan Afdeling Cianjur.

Di Sukabumi sendiri diangkat patih pertama yang bernama Aria Wangsadireja yang diawasi oleh Asisten Residen. Kekuasaan Bupati Cianjur sendiri dipreteli hanya untuk memungut pajak dan diangkat sebagai pegawai pemerintahan sesuai besluit Gubernur Jenderal tanggal 5 Mei dan 20 Juni 1871. Selain itu haknya untuk mewariskan jabatan dicabut juga. Pada tahun tersebut kota Sukabumi masih disebut hoofdplaats Van het Goenoeng Parang, namun secara administratif sudah menjadi Ibukota afdeling. Distrik Gunung Parang Sendiri sudah dikepalai oleh wedana diantaranya yang tercatat adalah: Ija Kusumah tahun 1882, Rangga Tisna Kususmah tahun 1883, Niti Wijaya tahun 1887, tahun Wiradikarta 1892, Rangga Suria Tanuwijaya tahun 1901 dan Suria Miharja tahun 1913.

Wedana Gunung Parang tersebut membawahi asisten wedana untuk onderdistrik di bawah Gunung Parang (setingkat kecamatan). Wedana ini sudah ada sejak tahun 1776 saat pembentukan distrik-distrik di Sukabumi. Kota sebagai teritori tempat berkumpulnya kegiatan pemerintahan dan ekonomi yang menjadi cikal bakal Kota Sukabumi sekarang awalnya hanya berupa tempat ramai semacam balai desa. V.J. Veth menyebutkan bahwa Sukabumi pada tahun 1869 adalah ”hoofdplaats Van het district Goenoeng Parang”, yang bisa diartikan sebagai “ibukota distrik Gunung Parang.” Kemudian dalam Regeerings Almanaks tahun 1872, nama Soekaboemi mulai tercatat sebagai pemukiman penduduk, yang merupakan bagian wilayah pemerintahan distrik Goenoeng Parang, onderafdeeling Tjiheulang.

Bisa disimpulkan dalam regeering almanak yang disebut Sukabumi itu adalah wilayah kota Sukabumi sekarang, sehingga dapat difahami bahwa sampai dengan tahun 1872, onderafdeeling Soeka Boemi (kota setingkat kecamatan) belum terbentuk, meskipun afdeling Sukabumi sudah ada sejak 1870. Pembentukan Onderafdeeling Soeka Boemi dimuat dalam Staatsblad Nomor 80 yang diterbitkan tanggal 17 Maret 1891 dan dipisahkan dari Onderafdeeling Tjiheulang sedangkan Onderafdeeling Tjiheulang berganti nama menjadi Cibadak. Kota Sukabumi sebagai Ibu Kota pemerintahan Afdeling dan kedudukan kepala pemeritahan tertinggi bukanlah kawasan yang memiliki pemerintahan sendiri yang otonom, tetapi merupakan bagian dari wilayah pemerintahan induknya. Dalam Staatsblad Nomor 80 tahun 1891 disebutkan bahwa Onderafdeeling Sukabumi meliputi Cisarua, Salabintana, Kabandungan, Situ, Kramat, Gunung Puyuh, Nyomplong, Pabuaran, Baros, Gedong Panjang, Limusnunggal dan jalan Palabuhan dengan luas 225 km2.

Pemerintahan otonom kota (Gemeente) dipicu dengan dicabutnya larangan membawa istri bagi orang-orang Eropa pada abad ke-18, gelombang kedatangan orang Eropa yang membawa istri dan anak-anaknya semakin banyak, jumlah orang eropa kemudian melonjak tajam. Banyak pula diantara mereka yang mempunyai selir atau Nyai baik orang Sunda maupun Tionghoa yang melahirkan kelas baru yaitu Indo-Eropa, anak-anak mereka kemudian menikah dan terus bertambah. Rata-rata mereka tinggal di Kota Sukabumi dan enggan tinggal dipedesaan bergabung dengan masyarakat, kecuali pengusaha perkebunan yang tinggal dipedesaan secara eksklusif karena tempat bersosialisasi dan berlibur mereka tetap di Kota Sukabumi, desa hanya sekedar tempat bekerja dan mengumpulkan uang.

Pada awalnya mereka nyaman-nyaman saja tinggal di Kota Sukabumi, namun lama kelamaan seiring berdatangannya penduduk lokal ke perkotaan baik untuk mencari nafkah maupun menetap menyebabkan muncul rasa kurang nyaman. Kota Sukabumi tidak bisa seideal kota Eropa yang benar-benar teratur, bisa kita lihat foto-foto Sebagian sudut Kota Sukabumi pada awal dan pertengahan abad ke-19 terlihat kumuh. Bahkan rumah-rumah orang Sunda di kantong-kantong pribumi terlihat semrawut, kotor dan tidak terurus. Sebagian orang Eropa menuduh rumah-rumah pribumi itu sebagai sarang penyakit yang bisa menulari warga Kota lainnya. Mereka berasumsi bahwa ketidaknyamanan ini disebabkan Kota Sukabumi tidak dikelola oleh sebuah otonom yang khusus mengelola kota dan diberi kewenangan untuk mengatur keuangan secara mandiri.

Ibu Kota Afdeling Sukabumi berada di bawah kendali Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Batavia sehingga kontrol terhadap kota sangat lemah. Anggaran untuk pemeliharaan kota serta untuk melengkapi berbagai fasilitas yang diperlukan warga kota, terutama orang Eropa, sangat tergantung dari kebijakan Gubernur Jenderal. Sementara kekuasaan patih nyaris tidak pernah mengurusi urusan kota dan hanya jadi alat feodal Gubernur Jenderal. Hal yang sama terjadi dikota-kota lainnya yang dihuni orang Belanda.

Wacana otonomi itu melahirkan Undang-Undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) pada tahun 1903 yang disusul dengan keputusan desentralisasi pada tahun 1905 dengan maksud memberikan pemerintahan sendiri pada wilayah karesidenan dan kabupaten (afdeling). Wilayah-wilayah hukum yang mandiri ini akan diperintah oleh dewan-dewan lokal, yaitu dewan wilayah (kabupaten) dan dewan kotamadya (gemeenteraad). Ketua dewan wilayah adalah asisten residen, sedangkan didalam dewan kotamadaya untuk sementara dijabat oleh asisten residen, yang selanjutnya dikepalai walikota (burgeemester). Undang-undang ini akhirnya memunculkan pembentukan kota-kota baru seperti Batavia, Meester Cornelis, Buitenzorg, Bandoeng. Maka berkembanglah wacana di masyarakat untuk membentuk sebuah pemerintahan kota resmi sebagai jembatan pemerintah desa dan pusat kolonial.

Di samping itu berdasarkan pertimbangan banyaknya orang-orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan-perkebunan serta pegawai sipil Belanda di Sukabumi (European Enclaves), memunculkan gagasan untuk mempunyai wilayah otonom sendiri dan tidak diperintah oleh patih pribumi. Para pengusaha dan penduduk Sukabumi yang kebanyakan orang Belanda mengajukan rekomendasi kepada pemerintahan Hindia Belanda dengan surat tertanggal 15 januari 1913 yang ditujukan kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk menjadi wilayah otonom atah Burgelijk Bestuur dengan status “Gemeenteraad van Sukabumi”. Berdasarkan rekomendasi tersebut maka pada 1914 Onderafdeling Sukabumi dirubah menjadi Gementee Soekaboemi, diundangkan dalam Staatsblad nomor 310 tahun 1914 dengan anggaran biaya yang dundangkan dalam Staatsblad nomor 311 tahun 1914. Kedua staasblad ditandatangai oleh Gubernur Jendral AWJ Idenburg di istana cipanas dan diberi tanggal 28 Maret 1914. Dalam pasal 10 ditulis “Deze Ordonantie treedt in werking op 1 April 1914.” Jadi, meskipun besluit tersebut ditandatangani tanggal 28 Maret 1914, namun besluit tersebut mula berlaku efektif tanggal 1 April 1914 yang kemudian menjadi hari jadi kota Sukabumi.

Fakta jelas bahwa hari lahir yang diperingati adalah produk undang-undang kolonial, seperti juga hukum kita yang masih berbasis pada produk kolonial. Hal ini tak lepas dari pembentukan kota secara administrative adalah dibentuk pada masa kolonial. Secara jujur kita harus mengakui bahwa sejarah Kota kita tak lepas dari racikan tangan para kolonialis sehingga sempat dikenal dengan nama Niza Van java. Nama yang diungkapkan karena kota begitu menyenangkan dan membuat mabuk kepayang sehingga siapapun yang singgah atau tinggal enggan pergi. Keindahan alam, suasana yang nyaman, kebersihan, taman-taman, pusat kesehatan, tempat hiburan dan rekreasi yang menjadi daya Tarik kota ini di masa lalu. Yang lebih penting dari semua itu sebenarnya bukan mempersoalkan sejarah yang sudah terjadi tapi bagaimana kita mengembangkan kota ini menjadi kota yang benar-benar nyaman ditinggali seperti juga pernah terjadi dimasa lalu.

“Bandung heurin ku tangtung, Cianjur katalanjuran, Sukabumi tinggal resmi, Sumedang ngarangrangan, Sukapura ngadaun ngora, Galunggung ngadeg Tumenggung (Serat Djajabaja djeung Uga Bandung)”

Ramalan uga Bandung tersebut seperti menyiratkan ramalan Sukabumi dimasa mendatang, banyak yang menyebutkan perkembangan yang menurun meskipun sebenarnya tidak. Menurut Ruyatna Jaya makna resmi dalam bahasa Kawi adalah baik, luhung, rahayu, tulus, asri, kondisi nyaman yang bisa saja terjadi tergantung bagaimana upaya kita sekarang. Kota Sukabumi mempunyai cerita dan romansa pada setiap sudutnya, namun untuk menggalinya kita harus meninjau ke belakang. Pepatah Perancis mengatakan “Il faut pour mieux sauter”, anda harus bisa mundur sedikit, agar bisa melompat lebih jauh, kita harus mengetahui sejarahnya, kejayaan masa lalunya bahkan legenda yang melatarbelakanginya, karena kemunculan kota ini juga sarat dengan legenda, mitos, bahkan roman. Yayasan dapuran Kipahare telah mengangkat nostalgia kejayaan itu melalui Kegiatan Festival dan pameran Soekaboemi Tempo Doeloe pada tahun 2019, dan akan diadakan kembali pada tanggal 21-23 Agustus 2020. Kegiatan ini bisa menjadi refleksi bagaimana kota ini ebenah supaya kembali menjadi kota yang aman dan nyaman ditinggali oleh warganya dan siapapun yang hendak tinggal dan mempunyai ketertarikan akan kota ini. Semoga wabah dikota ini segera berakhir dan semua kembali maksimal membangun kota ini untuk kemajuan Bersama.

SELAMAT HARI JADI KOTA SUKABUMI YANG KE-106
Semoga warganya semakin bahagia dan sejahtera

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button