Harga Barang di Pasaran Setiap Tahun Naik, Apa Pengaruhnya Bagi Ekonomi Indonesia?

TUNGGU KONSUMEN: Pedagang cabai merah di pasar tradisional Kota Sukabumi sedang menunggu konsumen. IST

Penulis : Ai Nisrina Agisni
Mahasiswa Vokasi Universitas Indonesia
Prodi Administrasi Keuangan dan Perbankan

Masyarakat pasti sudah tidak asing lagi dengan terjadinya kenaikan harga terutama pada kebutuhan pokok terlebih jika sedang mendekati hari raya idul fitri, hal ini didukung pula oleh mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam. Kenaikan harga juga biasa terjadi pada tahun baru masehi.

Bacaan Lainnya

Selain itu, kerusuhan berupa aksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar yang belum lama ini terjadi pada bulan September menimbulkan keresahan masyarakat Indonesia karena menyebabkan kenaikan harga atau inflasi barang dan jasa di pasaran yang menuyebabkan krisis moneter pada tahun 1998 terulang kembali.

Namun Badan Pusat Statistik (BPS) menilai aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang terjadi belum berdampak pada kenaikan harga atau inflasi.

“Dampak demonstrasi ke inflasi, BPS belum melihat seberapa jauh. Kalau demonstrasi sampai menyebabkan chaos dan harga melompat tinggi, baru mungkin menimbulkan dampak tidak langsung”, kata kepala BPS Suharyanto dalam Konferensi Pers di kantornya. Jakarta, Selasa (1/10).

Peningkatan permintaan pada pasar menjadi salah satu pemicu terjadinya kenaikan harga pada kebutuhan pokok. Meski terjadi kenaikan harga yang terkadang hingga dua kali lipat dari harga normal, namun permintaan masyarakat juga cenderung semakin meningkat.

Maka dari itu, tidak heran jika beberapa harga kebutuhan pokok meningkat tajam. Selain itu, harga barang di tingkat produsen pun ikut naik, sehingga para pedagang di pasar terpaksa ikut menyesuaikan harga penjualan.

Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Harian Strategis (PIHPS) mendekati akhir tahun 2019 kenaikan dan penurunan harga pangan diantaranya terjadi pada cabai merah keriting, cabai rawit hijau, dan cabai rawit merah.

Harga cabai merah keriting rata-rata dibandrol Rp. 45.850 per kilogram (Kg) pada awal November 4/11/2019, harga tersebut melambung sekitar 12,52% atau Rp. 5.100 per kilogram (Kg). Harga ini terus mengalami penurunan pada akhir November 27/11/2019 harga cabai merah keriting mengalami penurunan yaitu seharga Rp. 35.600 per kilogram (Kg). Harga cabai merah keriting terendah ada di Provinsi Bali seharga Rp. 20.000 per kilogram, sedangkan harga tertinggi ada di Tual Maluku seharga Rp. 80.000 per kilogram.

Kemudian untuk harga cabai rawit hijau mengalami kenaikan harga sekitar 7,82% atau Rp. 3.800 per kilogram. Pada 20/11/2019 harga cabai rawit hijau mencapai Rp. 44.300 perkilogram, harga ini terus mengalami penurunan hingga pada akhir November 27/11/2019 seharga Rp. 39.900 per kilogram. harga terendah ada di Probolinggo, Jawa Timur seharga Rp. 20.000 per kilogram, sedangkan harga tertinggi ada di Provinsi Gorontalo seharga Rp. 122.000 per kilogram.

Untuk cabai rawit merah juga mengalami kenaikan harga sekitar 11.73% atau sekharga Rp. 7.050 per kilogram dan dibandrol seharga Rp. 67.150 per kilogram. Harga ini juga mengalami penurunan pada 27/11/2019 seharga Rp. 49.850 per kilogram.

Harga komoditas lain yang juga terpantau naik yaitu bawang merah naik Rp. 500 per kilogram menjadi Rp. 26.850, minyak goreng curah naik Rp. 600 per kilogram menjadi Rp. 11.850 per Kg, gula kualitas premium naik Rp. 650 menjadi Rp. 15.400 per Kg, dan daging ayam ras segar naik Rp. 1.300 menjadi Rp. 35.200 per Kg.

Lalu apakah pengaruhnya bagi ekonomi Indonesia?

Kenaikan harga atau inflasi yang mengalami kenaikan dan penurunan atau tidak stabil akan menyebabkan ketidakpastian bagi para pelaku ekonomi dalam mengambil sebuah keputusan. Sejarah tahun 1998 saat inflasi melambung tinggi hingga mencapai angka 77,63% mengakibatkan sulitnya masyarakat dalam mengambil sebuah keputusan dalm menemtukan konsumsi, investasi dan produksi yang mengakibatkan pertumbuhan ekonmi yang tidak berkesinambungan. Berikut pengaruh inflasi atau kenaikan harga terhadap beberapa aspek.

a. Pengaruh Inflasi Terhadap Hasil Produksi (Output)
Produksi akan meningkat jika harga kenaikan barang lebih cepat daripada kenaikan upah pekerja, terlebih lagi jika inflasi ringan. Kenaikan harga ini membuat para produsen bersemangat untuk memproduksi barang karena harga sedang naik sehingga hasil produksi meningkat. Sebaliknya, produksi akan menurun jika terjadi inflasi tinggi, maka daya beli semakin rendah dan produsen tidak bersemangat sehingga produksi dapat menurun.

b. Pengaruh Inflasi Terhadap Perdagangan Internasional
Harga produk dalam negeri yang meningkat akan mengakibatkan kesulitan bersaing dengan dengan produk impor. Sehingga nilai ekspor lebih besar daripada impor yang menyebabkan neraca perdagangan mengalami defisit dan menghabiskan cadangan devisa negara.

c. Pengaruh Inflasi Terhadap Pendapatan Masyarakat
Saat terjadi kenaikan harga, bagi masyarakat dengan pendapatan tetap tentu saja merugikan. Sedangkan bagi masyarakat dengan pendapatan rendah dan tidak tetap kenaikan harga sangat merugikan. Kemudian pada masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi dan tidak tetap, kenaikan harga tidak terlalu berdampak sehingga mereka tidak terlalu merugi.

Jika inflasi dapat terkendali dan tidak menunjukan kenaikan yang signifikan, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat secara perlahan. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga mencapai angka 5,17%. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang memiliki angka tertinggi pada tahun 2014 yang hanya 5,01%.

Hal ini sejalan dengan laju inflasi yang lebih rendah pada tahun 2018 berdasarkan data dari Bank Indonesia yang hanya mencapai 3,13%. Angka-angka ini terbilang cukup terkendali jika dibandingkan dengan sejarah kelam bangsa Indonesia pada masa krisis moneter.

Masyarakat selalu teriak ketika harga pangan mulai melonjak. Oleh karena itu, kenaikan harga atau inflasi yang rendah dan stabil akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Selain itu, kenaikan harga atau inflasi yang tinggi juga akan menyebakan pendapatan masyarakat menjadi berkurang. Hal ini mengakibatkan standar hidup masyarakat Indonesia semakin menurun, terutama pada masyarakat miskin akan semakin miskin.

Disaat seperti inilah pemerintah dan Bank Indonesia sebagai pengambil kebijakan fiskal sangat berperan penting untuk mengendalikan tingkat kenaikan harga atau inflasi yang mulai melambung agar harga barang dan jasa bisa dikendalikan dan dapat memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.