Warga Dusun Ngamuk, Enam Rumah Ahmadiyah Hancur

Sekelompok warga Dusun Lauk Eat Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur, NTB, menyerbu permukiman warga yang diduga penganut kepercayaan Ahmadiyah, Sabtu (19/5).

Akibatnya, enam unit rumah milik warga yang diduga menganut kepercayaan Ahmadiyah hancur. Penyerbuan massa berawal ketika salah satu warga yang diduga pengikut Ahmadiyah menyebarkan ajarannya kepada sejumlah anak setempat.

Bacaan Lainnya

Saat penyebaran itu berlangsung, tiba-tiba terjadi perkelahian antar anak tersebut. Anak-anak tersebut melaporkan perihal perkelahiannya kepada orang tuanya.

Entah apa penyebabnya, masyarakat setempat kemudian tiba-tiba berbondong-bondong mendatangi rumah JN, JA, dan UI. Massa kemudian mengamuk sejadi-jadinya dan merusak rumah ketiga warga yang diduga pengikut Ahmadiyah di Gubuk Gerepek tersebut.

Massa kemudian melanjutkan aksinya ke Gubuk Gereneng Dusun Lauk Eat dan merusak rumah Amaq Us. Tak sampai di situ, warga kembali merusak rumah Amaq NS di Gubuk Penimbung kampung setempat.

“Enam rumah warga yang rusak, baik yang rusak ringan maupun rusak berat,” ungkap salah seorang warga setempat kepada Radar Lombok (Jawa Pos Group) di lokasi kejadian.

Warga ini juga memastikan, kejadian ini berawal adanya sejumlah jamaah yang menyebarluaskan ajaran Ahmadiyah. Dari hari ke hari, pengikut semakin banyak, padahal pada beberapa bulan yang lalu para pengikut ini sudah bersumpah dan bersedia kembali ke ajaran yang benar. Namun, janji-janjinya diingkari. “Tahun 2017 yang lalu sudah bersumpah dan bersedia kembali ke Islam yang benar. Tapi saat ini muncul lagi,” sesalnya.

Penuturan sama disampaikan warga lainnya, Inaq Tom, tahun 2017 sekitar 5 orang jemaah Ahamdiah sudah berjanji akan bertobat dan kembali kepada Islam. Perjanjian itu disaksikan langsung pemerintah daerah dan aparat penegak hukum serta unsur masyarakat lainnya.

Setelah janji tobat itu, warga Ahmadiyah ini kemudian dibebaskan bergaul selayaknya masyarakat lain. Mereka juga sempat menunaikan ibadah salat Jumat sekali. Setelah itu, mereka tak pernah lagi terlihat beribadah.

‘’Setelah itu tak terlihat lagi mereka beribadah. Eee, gak taunya sekarang jumlah jemaahnya sudah 33 orang. Bahkan, bisa lebih, pantas saja diusir,” tegasnya.

Kepala Dusun Lauk Eat Desa Gereneng, Sudirman menyayangkan kejadian ini. Karena permasalahan ini yang tidak kunjung tuntas dari tahun ke tahun. Sehingga pemerintah diharapkan bisa memberikan solusi untuk mengasingkan jemaah Ahmadiyah ini. “ Dari dulu warga minta agar diberikan lokasi khusus, tapi belum bisa dilakukan,” katanya.

Sementara itu, salah satu tetangga jemaah Ahmadiyah mengaku takut dengan kejadian itu. Karena saat kejadian, dia sedang berada di rumah bersama anaknya. Secara tiba-tiba, massa datang menyerbu menggunakan bambu merusak rumah tetangganya.

Usai kejadian, Kapolres Lombok Timur AKBP Eka Fathurrahman bersama Pjs Bupati Lombok Timur H Ahsanul Khalik turun mengamankan dan menenangkan massa yang memanas. Dan, Minggu kemarin suasana sudah mulai kondusif. Di samping itu, aparat juga mengamankan jemaah Ahmadiyah untuk sementara waktu ke tempat lain.

Sementara itu, Gubernur NTB TGB KH M Zainul Majdi meminta agar tindakan-tindakan kekerasan harus dihentikan. “Hentikan semua perbuatan permusuhan, apalagi kekerasan,” ujar pria yang belakangan ini getol berbicara tentang keberagaman di Indonesia, Minggu (20/5).

Menurut gubernur, saat ini umat Islam sedang menjalani ibadah puasa Ramadan. Bulan yang sangat dimuliakan ini harus dihormati semua pihak, terutama umat Islam. ‘’Hormati hak setiap orang untuk hidup dengan aman dan damai sesuai keyakinannya,” tegas gubernur.

Disampaikan juga, perangkat pemerintah daerah bersama TNI dan Polri telah memulihkan situasi. Sebagian warga Ahmadiyah yang berada di lokasi, telah diamankan di Polres Lombok Timur. Selain itu, beberapa warga Ahmadiyah juga telah mengungsi ke tempat keluarganya untuk menghindari kembalinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Untuk penegakan hukum terhadap pelaku perusakan akan dilakukan pihak kepolisian,” ujar gubernur.

Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi NTB, H Johan Rosihan berharap negara harus lebih berperan lagi untuk melindungi seluruh warga bangsa. “Persoalannya, selama Ahmadiyah masih menyebut diri bagian dari Islam, maka selama itu mereka akan seperti ini,” kata Johan.

Johan tentu saja sangat menyesalkan pristiwa tersebut terjadi. Namun sudah saatnya harus diambil solusi. Misalnya dengan mengarahkan Ahmadiyah sebagai satu dari berbagai aliran kepercayaan di Indonesia. “Jangan lagi menyebut diri bagian dari Islam, toh sekarang aliran kepercayaan sudah diakui negara,” ucapnya.

Juru bicara Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Provinsi NTB, Saleh Ahmadi menyampaikan, sekelompok masa telah menodai kesucian bulan Ramadan. Kelompok yang dimaksud yaitu warga setempat juga, karena telah melakukan teror penyerangan, perusakan dan pengusiran pada sesama warga negara. Teror tersebut dimulai pada hari Sabtu (19/5) sekitar pukul 11.00 Wita.

Sekelompok orang melakukan penyerangan, perusakan rumah penduduk dan pengusiran terhadap 7 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 24 orang penduduk Dusun Gerepek Lauk Eat Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur.

“Aparat terlihat masih berjaga di TKP tadi, saya baru pulang dari TKP. Kondisi rumah-rumah rusak parah, 24 korban yang diserang masih dievakuasi sementara di Mapolres Lotim,” terang Saleh kepada Radar Lombok.

Teror tidak berhenti sampai di situ. Ketika malam tiba, sekitar pukul 21.00 Wita, terjadi kembali penyerangan dan perusakan rumah jemaah Ahmadiyah di lokasi yang sama. “Itu di hadapan aparat kepolisian terjadi, akibatnya satu rumah hancur,” tambah Saleh.

Pada Minggu pagi (20/5), satu rumah jemaah Ahmadiyah kembali dirusak di desa tersebut sekitar pukul 06.30 Wita. “Target penyerang adalah meratakan seluruh rumah penduduk komunitas Muslim Ahmadiyah dan mengusirnya dari Lombok Timur,” katanya. (wan/zwr)

Pos terkait