Baldatun : Jumling Jadi Salah Satu Cara Mengetuk Pintu ‘Langit’ yang Tertutup

  • Whatsapp
Ade Dasep
MENJELASKAN : Pendiri sekaligus penanggungjawab Baldatun Center Ade Dasep Zaenal Abidin saat Jumling di Masjid Jami Attaufiq Desa Kertaraharja Kecamatan Cikembar, Jumat (24/09/2021)

SUKABUMI — Bagi Baldatun Center, Program Jumat Keliling (jumling) menjadi salah satu cara mengetuk langit yang tertutup.

Konsep tersebut tentunya bukan hal yang baru dikenal oleh Umat Islam, tetapi pada zaman dahulu para pemimpin islam dunia pernah melakukannya dalam menegakan syariat islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Bacaan Lainnya

Apa yang dilakukan Baldatun dalam hal ini pendiri sekaligus penanggungjawab Baldatun Center Ade Dasep Zaenal Abidin merupakan satu Konsep Siyasah Islamiah dalam menjalankan amanatnya sebagai Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi.

“Kalau ditanya kenapa Indonesia atau dalam hal ini Kabupaten Sukabumi lebih khususnya belum barokah, itu karena pintu langit masih tertutup. Dengan itu perlu ada gerakan untuk membangkitkan masyarakat untuk menuju itu, “jelas Ade Dasep saat berada di Masjid Jami Attaufiq Desa Kertaraharja Kecamatan Cikembar, Jumat (24/09/2021).

Sebagai orang yang dibesarkan dengan mendapatkan pendidikan islam, dirinya menyakini betul program Jumling ini menjadi salah satu cara untuk membuka pintu langit terbuka.

Dirinya yang juga lulusan Jinayah Siyasah UIN Bandung ini bertekad membangkitkan Islam dengan diawali hal-hal yang sederhana seperti jumling ini.

“Kan dulu saya sebelum menjadi anggota dewan membaktikan diri sebagai Advokat sesuai ilmu Jinayah, sekarang menjadi anggota dewan lebih kepada Siyasahnya yang dikedepankan, tujuannya apa ya karena saya pribadi yakin bahwa ketika diberi amanat harus mengedepankan program yang memiliki keberpihakan kepada masyarakat, khsusunya umat islam karena mayoritas di Sukabumi, “terangnya.

BACA JUGA : Cara Baldatun Center Membumikan Visi Barokah di Kabupaten Sukabumi

Apa yang dilakukan dengan berkeliling masjid saat ini merupakan salah satu konsep Siyasah Islamiah, bukan siyasah yang mengklaim islami.

Artinya program ini benar-benar untuk kebarokahan masyarakat Kabupaten Sukabumi. Bukan hanya mengklaim islami saja, tetapi lebih kepada konsep nyata dengan berkeliling ke setiap masjid.

“Meski saya berangkat dari partai Gerinda yang Nasionalis, tetapi karena saya memiliki keilmuan di Siyasah maka saya lebih fokuskan program Islami. Di jumat ke 57 dan masjid 57 serta di desa ke 39 ini adalah bukti nyata siyasah saya kepada masyarakat dengan membawa konsep gagasan budaya baca, faham dan amal Aquran, “terangnya.

MENYANTUNI : pendiri sekaligus penanggungjawab Baldatun Center Ade Dasep Zaenal Abidin Saat menyantuni anak yatim Di Desa Kertaraharja Kecamatan Cikembar

Dengan konsep budaya Wakaf Alquran dan Wakaf Alquran terjemahan, setidak-tidaknya masyarakat tergerak untuk kembali memahami apa yang terkandung dalam islam guna difahami dan diamalkan kedepan.

“Banyak orang yang mendagangkan program yang berbau islam hanya untuk kepentingan sesaat, itu tidak salah. Tetapi alangkah baiknya program Islami itu berkesinambungan hingga mendarah daging dihati masyarakat agar tergerak untuk memahami secara utuh, “terangnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, Dalam catatan sejarah Baitul maqdis mampu direbut kembali oleh umat islam dibawah kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi Ra adalah satu contoh bagaimana islam bisa menang menciptakan kehidupan yang aman damai akibat iman di tanah Palestina.

Padahal pasukan Shalahuddin hanya memiliki 200 ribu tentara harus berjalan dari Irak menuju Palestina dengan menempuh jarak Ratusan Kilometer. Itu artinya, bahwa setiap catatan manis diperlukan sebuah perjuangan yang keras dan militan dalam membangun sebuah sistem.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *