Bunga Bangkai Nyaris Dua Meter Mekar di Kebun Raya Bogor

  • Whatsapp
TANAMAN LANGKA: Wali Kota Bogor Bima Arya menunjukkan bungai bangkai (Amorphophallus titanum) yang sedang mekar di Kebun Raya Bogor. (DOKUMENTASI HUMAS LIPI)

BOGOR – Tumbuhan langka asli Indonesia bunga bangkai (Amorphophallus titanum) sedang mekar di Kebun Raya Bogor (KRB). Tingginya mencapai 194 cm. Bunga itu termasuk dilindungi pemerintah.

Umumnya ditemukan di hutan-hutan di Pulau Sumatera. Habitatnya di alam terus mendapat tekanan dan gangguan dari pengambilan secara ilegal. Selain itu, kerusakan habitat serta penurunan jumlah serangga penyerbuk dan binatang penyebar biji mengakibatkan tanaman tersebut semakin langka.

Bacaan Lainnya

Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI R. Hendrian mengatakan, bunga bangkai itu mekar sempurna. ”Bunga bangkai termasuk suku talas-talasan atau Araceae. Sehingga memiliki umbi,” katanya kemarin (4/1).

Umbi bunga bangkai yang mekar itu berukuran raksasa. Beratnya 117 kg. Hendrian menuturkan, umbi mekar tersebut diperoleh dari kerja sama LIPI dengan Kebun Raya Liwa di Lampung. Konservasi jenis-jenis tumbuhan yang terancam punah di Indonesia akan menjadi salah satu fokus utama kegiatan penelitian LIPI tahun ini.

Peneliti bunga bangkai Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Dian Latifah mengatakan, Amorphophallus titanum berbeda dengan Rafflesia. Meskipun masyarakat umum mengenal keduanya dengan sebutan bunga bangkai. ”Rafflesia merupakan tumbuhan parasit dengan pohon inang Tetrastigma spp. atau anggur hutan,” jelasnya.

Sementara itu, Amorphophallus titanum memiliki daun dan fase bunga yang tidak bersamaan. Fase daun dapat mencapai usia satu sampai dua tahun. Kemudian, umbinya akan memasuki masa istirahat atau dorman yang bisa lebih dari satu setengah tahun. Barulah setelah itu bisa berbunga.

Pameran mekarnya bunga bangkai itu juga dihadiri Wali Kota Bogor Bima Arya. Dia menjelaskan, KRB tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Bogor. Dia berharap selain menjalankan fungsi konservasi dan edukasi, tempat tersebut juga menjadi sarana rekreasi warga. (jpg)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *