Mengunjungi Fasilitas Simulator bagi Calon Pilot Lion Air

Dibyo mengungkapkan bahwa pelatihan di ATC telah memiliki approval standard. Baik dari pemerintah Indonesia, Malaysia, maupun otoritas penerbangan internasional. Misalnya, Federal Aviation Administration (FAA/Amerika Serikat) dan European Civil Aviation Conference (ECAC/Eropa).

Untuk bisa menjadi pilot dan benar-benar menerbangkan pesawat berpenumpang, seorang calon pilot lulusan sekolah penerbangan harus melewati setidaknya tiga tahap. Pertama, advanced aircraft bridging course. Itu untuk membiasakan pilot dari menerbangkan pesawat baling-baling berkecepatan rendah ke pesawat jet berkecepatan tinggi.

Setelah itu, mereka akan melewati tes pengetahuan umum penerbangan. Di antaranya, navigasi, lalu lintas, dan hukum udara. Lalu, menjalani tes untuk mendapatkan type certificate yang meliputi tes berbasis komputer (CBT), sebelum kemudian beranjak ke simulator.

Mulai simulator statis tak bergerak (fixed based simulator/FBS) hingga simulator bergerak. Yang dilengkapi kemampuan menirukan pergerakan pesawat alias full flight simulator (FBS). ”Ini ujiannya negara. Artinya, bukan pihak ATC yang menguji. Tapi pemerintah,” ungkap Dibyo.

Seluruh proses memakan waktu empat bulan. Setelah fase itu selesai pun, siswa belum jadi pilot. Untuk 100 jam selanjutnya, para pemegang type rating akan dipersilakan terbang sebagai pilot peninjau di kursi belakang kokpit. Lalu, setelah selesai, mereka baru diperbolehkan duduk di kursi first officer (FO) dengan ditemani satu instruktur pilot untuk memantau kecakapan si pilot baru. ”Biasanya 75 hingga 100 jam, bergantung kecakapan dia (pilot baru, Red),” ujar Dibyo.

Bahkan, kata Dibyo, untuk type rating pesawat terbaru B-737 seri MAX saja, ATC menerapkan standar yang lebih tinggi daripada ECAC dan Boeing. Untuk bisa mengemudikan 737 MAX, pilot pemegang type rating B737 NG cukup menjalani beberapa jam tes CBT.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *