Tokoh Legenda PGRI, Tiada Tapi Ada

  • Whatsapp
Dudung Nurullah Koswara

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Ini tulisan kedua khusus terkait tiga tokoh terbaik PGRI. Mereka berasal dari guru, guru-guru pinggiran dari daerah yang kemudian menjadi pejuang guru dan menjadi legenda bagi para guru. Sebagai guru dan pengurus PGRI, Saya tertarik menuliskan kembali tiga tokoh terbaik PGRI yang Saya kenal. Dalam tulisan sebelumnya Saya beri tema “Three Musketeers PGRI”.

Bacaan Lainnya

Ketiga tokoh legenda PGRI ini adalah Suriamiharja, Surya dan Sulistiyo, mereka adalah Tiga Serangkai dalam sejarah perjuangan PGRI. Basyuni Suryamiharja, Mohamad Surya dan Sulistiyo memang telah tiada, namun manfaat dan spirit gurunya masih memberi nyawa pada semua guru Indonesia. Mereka adalah guru yang sempurna.

Mengapa menreka menjadi guru yang sempurna? Karena memang ketiganya memiliki spirit kebatinan guru yang tidak diragukan. Mereka berasal dari dunia guru di pinggiran yang membawa misi “pembebasan” nasib guru dari pasungan ketakberdayaan. Ketakberdayaan secara ekonomi, martabat dan perlindungan. Suryamiharja, Surya dan Sulistiyo berhasil menyuarakan nasib derita guru bahkan ketiganya sampai di Gedung Kuya, Senayan sebagai wakil rakyat guru.

Suriamiharja, Surya dan Sulistiyo adalah politisi pendidikian. Politisi pendidikan adalah pejuang pendidikan yang mengusung harkat martabat guru. Mereka menyuarakan aspirasi guru dan menyambungkan kebatinan para guru Indonesian agar merdeka dan berdaya. Tidaklah mudah mengingat entitas guru berada dalam “genggaman” feodalisme kekuasaan pemerintah. Suriamiharja, Surya dan Sulistiyo sudah menembus tembok tebal feodalisme dunia guru.

Entitas guru sudah mulai eksis, diakui, dihormati dan diperhitungkan oleh pemerintah sejak ketiganya menjadi pejuang guru dan politisi pendidikan. Semua guru idealnya menjadi “politsi pendidikan” yakni menjadi pejuang-pejuang pendidikan. Semua guru harus terus belajar, solid dan kompak memperjuangkan sukses pendidikan Indonesia dan sukses menaikan derajat martabat guru Indonesia. Kekuasaan dan dunia politik praktis menjadi panglima di negeri ini dan di negeri mana pun.

Mari kita lihat hasil perjuangan ketiga tokoh legenda PGRI, Basyuni Suryamiharja, Mohamad Surya dan Sulistiyo. Mereka tetap ada dalam hati guru Indonesia dan tetap dikenang dan dido’akan. Sebagai guru legenda dan tokoh PGRI, kita wajib meneladani dan mencatat dengan baik hasil perjuangan mereka yang sampai saat ini masih ada dan bermanfaat bagi seluruh guru Indonesia. Itulah yang menyebabkan, “Mereka Sudah Wafat, Tetapi Manfaatnya Tetap Ada Dan Abadi”.

Apa yang sudah diberikan Basyuni Suryamiharja pada guru? Diantara sejumlah jasa yang masih kita rasakan sampai sekatang adalah. Pertama GGI (Gedung Guru Indonesia), PGRI punya rumah perjuangan yang strategis di pusat kota Jakarta. Perjuangan tanpa rumah akan menjadi terlunta-lunta. Kedua menyelenggarakan kongres dunia, World Confederation of Teaching Profesion (WCOTP) atau organisasi profesi tenaga pendidikan dunia di Jakarta pada tahun 1979. Ini sejenis “modus” perjuangan agar dunia mengakui PGRI.

Ketiga memprakarsai berdirinya ASEAN Council of Teachers (ACT) tahun 1978 dan Pertemuan Guru-Guru Nusantara di Singapura tahun 1983. Sampai hari ini ACT masih terus bergeliat dan membangun solidaritas guru ASEAN. Basyuni Suriamiharja seolah ingin menjelaskan bahwa PGRI adalah organisasi mendunia, kuat dan bermartabat. Bukan organisasi lokalan atau nasional semata. Basyuni Suryamiharja telah berhasil menjadikan PGRI sebagai organisasi multinasional.

Tokoh kedua, Mohamd Surya. Apa yang sudah dilakukannya? Mohamad Surya adalah “murid” Basyuni Suryamiharja dalam ke PGRI an. Ia melanjutkan spirit Basyuni Suryamiharja yang sama-sama pernah menjadi alumni SGA. Sama-sama sebagai guru di daerah yang merasakan derita para guru. Mohamad Surya jasanya terkait hadirnya TPG (Tunjangan Profesi Guru). Inilah yang menyebabkan beliau disebut “Pahlawan Sertifikasi”. Berkat jasa Mohamad Surya saat menjadi Ketua Umum PB PGRI, para guru mendapatkan TPG.

Jutaan guru saat ini setiap tahun _khusus PNS_ mendpatkan TPG sekitar Rp. 36 juta per tahun. Bagi guru non PNS rata-rata pertahun mendapatkan Rp. 18 juta. Sungguh sebuah jasa luar biasa Mohamad Surya pada ekonomi interal keluarga Oemar Bakri. Para guru harus tahu sejarah, “PGRI Dalam Kepemimpinan Mohamad Surya Melahirkan TPG”. TPG adalah buah perjuangan “berdarah-darah” PGRI dan terutama guru-guru SD Oemar Bakri yang menyemut berdemo di Jakarta.

Tokoh ketiga, Sulistiyo. Sosok yang kalem namun jiwa gurunya bergelora tak pernah padam. Ia pun termasuk guru pinggiran yang mengawali karir dari guru SD. Derita dan kebatinan guru dalam jiwanya adalah belahan hidupnya. Terutama terkait nasib guru honorer. Ia sangat paham bagaimana sumbangsih guru honorer pada dunia pendidikan kita. Tanpa kehadiran guru honorer di ruang kelas, dunia pendidikan kita bisa lumpuh. Andaikan guru honorer mogok kerja, maka jutaan anak akan terlantar.

Sulistiyo sangat memahami posisi strategis guru honorer sebagai pelayan anak didik. Disisi lain Sulistiyo pun sangat tahu persis bagaimana derita ekonomi guru honorer. Baginya agar guru honorer hidupnya lebih baik dan dedikasinya lebih meningkat dalam melayani anak didik, tiada jalan lain mereka harus disejahterakan oleh negera. Mem PNS kan guru honorer yang sudah lama mengabdi adalah pilihan terbaik. Beberapa kali Ia memimpin demo. Orasi cerdasnya di mimbar terbuka dan di senayan melalui jalur DPD benar-benar efektif.

Akhirnya perjuangan Ketua Umum PB PGRI Sulistiyo membuahkan hasil. Sejumlah 1,1 juta guru honorer di PNS kan tanpa tes. Ini satu lompatan emas perjuangan nasib guru honorer yang sudah lama menderita secara finansial. Pemerintahan zaman SBY yang didukung PGRI dan dijadikan mitra strategis oleh Sulistiyo melahirkan 1,1 juta honorer menjadi PNS tanpa tes. Sulistiyo jasanya masih terasa terutama bagi 1,1 juta keluarga guru honorer yang menjadi PNS. Ia mendapat gelar “Pahlawan Guru Honorer” di kalangan guru honorer.

Ketiganya tokoh legenda PGRI ini sudah tiada namun dalam kebatinan guru Indonesia Ia tetap ada. Fasilitas GGI, kehadiran ACT, diterimanya TPG oleh para guru, sebanyak 1,1 juta keluarga guru yang di PNS kan. Ketiganya memberi hidup dan kehidupan pada guru Indonesia. Semoga ketiganya menjadi “kekasih Allah” di surga terbaiknya. Indah bagi para guru yang merasakan manfaat Gedung guru, hadirnya TPG dan keluarga honorer yang di PNS kan, berdoa setiap selesai shalat untuk ketiganya.

Ada tiga amalan terbaik yang tak putus-putus bagi pelakunya dan akan mengalir kealam keabadian yakni ilmu yang bermanfaat. Suriamiharja, Surya dan Sulistiyo bukan hanya ilmu yang diberikan pada guru anggota PGRI serta murid-muridnya, bahkan jiwa raga dan nyawanya pun seumur hidupnya didedikasikan kepada dunia pendidikan. Sebagai guru kita tidak hanya bangga pada ketiganya, namun teladani ketiganya sebagai tanggung jawab moral melanjutkan perjuangannya.(*)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *