Mari Bernostalgia

  • Whatsapp

Oleh Kang Warsa

Dalam dunia relativitas, manusia benar-benar terpenjara dalam ruang dan waktu. Relativitas yang ditawarkan –dulu oleh Al-Kindi, kemudian dielaborasi oleh Eisntein-  adalah hubungan berbanding lurus antara materi yang terikat dalam ruang dan waktu bersama energi yang dihasilkannya.

Bacaan Lainnya

Artinya, perubahan waktu entah itu dipercepat atau diperlambat akan menguras materi. Maka jadilah sebuah dunia yang dilingkupi kefanaan, serba relatif.

Dengan bahasa sederhana, relativitas lah yang telah menjadikan dunia terus mengalami perubahan. Semua apapun di dunia ini –termasuk hal-hal yang telah dipandang absolut- sebenarnya akan kembali pada kenisbian belaka.

Kita sering memandang manusia modern yang dilimpahi berbagai kemajuan dengan cara merelatifkan kehidupan saat ini dengan masa lalu. Masa kini relatif lebih acak jika dibandingkan dengan masa lalu.

Subordinasi kehidupan di masa lalu mungkin lebih sederhana, jika diilustrasikan sebagai sebuah partikel, ikatan-ikatan anggota masyarakatnya lebih kuat, terkoneksi dengan hanya beberapa piranti aturan sederhana seperti adat istiadat, norma, dan kebiasaan.

Sementara era modern ditandai oleh ikatan-ikatan individu yang mulai melonggar, bahkan sering menjadi partikel bebas, membentuk partikel baru secara acak dan nyaris tanpa terkendali oleh piranti moralitas hingga norma.

Siapa dapat menghentikan seorang anak remaja mengunggah video miliknya ke dalam aplikasi Tik-tok di zaman ini? Apakah norma masa lalu tentang moralitas dan etika dapat diterapkan untuk mengerem perilaku baru para remaja yang sering kita juluki generasi Tik-tok?

Sejarah manusia adalah perubahan tanpa henti. Meskipun ada beberapa pihak memiliki pandangan peristiwa yang terjadi hanya pengulangan saja dalam bentuk yang lebih baru atau muka baru stok lama. Tetap saja, setiap manusia mengakui terhadap kekalnya perubahan  dari waktu ke waktu.

Perubahan-perubahan ini entah disebabkan oleh diri manusia atau faktor di luar dirinya benar-benar dapat dirasakan. Kita tidak perlu menggunakan interval waktu sampai berabad-abad jauh ke masa lalu, hanya dalam kurun satu dekade saja, manusia dapat merasakan perubahan besar di dalam hidup ini.

Ukuran, tinggi, dan berat badan manusia beberapa dekade lalu begitu berbeda jika dibandingkan dengan generasi sekarang. Apalagi dalam tatanan sosial, perubahan-perubahan itu terlihat sangat kentara.

Sebagai contoh, hubungan antara anak dan orangtua pada beberapa dekade lalu (misalnya tahun 1990-an) terikat oleh norma yang seharusnya berlaku antara orangtua dan anak.

Ikatan norma itu sekarang mulai memudar oleh ikatan patron-klien antara orangtua dan anak, hubungan persahabatan, saling melengkapi, namun cenderung longgar.

Dalam suasana perubahan sering muncul perbandingan sama halnya dengan rumus-rumus dalam ilmu pasti. Anak-anak yang pernah mencicipi nektar manis kehidupan beberapa tahun lalu, sebut saja generasi baby boomers dan generasi x, memiliki alasan untuk menyebut bahwa kehidupan sekarang yang didominasi oleh generasi y dan zero adalah musim yang dipenuhi badai dan angin kencang.

Generasi y dan zero yang baru tumbuh ini dipandang oleh dua generasi sebelumnya bukan pohon kokoh melainkan sejumput ilalang yang mudah terseok-seok, labil, dan kurang sanggup menahan godaan piranti lunak dan keras perubahan zaman.

Meskipun fakta yang sebenarnya terjadi, situasi yang dihadapi oleh setiap generasi di zaman merupakan aplikasi dari relativitas kehidupan. Baik generasi baby boomers, x, y, dan zero hidup bersama pada ikatan kurun waktu saat ini.

Pemilik masa lalu memang sah mengeklaim bahwa zaman dulu lebih enak jika dibandingkan dengan masa sekarang entah dengan alasan fisik, sosial, ekonomi, dan stabilitas politik.

Sudah menjadi watak manusia selalu mengeklaim kondisi di era mereka akan lebih baik dengan apa yang dialami oleh orang lain.

Para orangtua akan memberikan informasi bahwa era ketika mereka masih kanak-kanak merupakan kondisi terbaik jika dibandingkan dengan kehidupan anak cucu mereka atau generasi milenial.

Generasi milenial pun akan mengeklaim hal yang sama pada beberapa dekade ke depan saat mereka membandingkan kehidupan ketika mereka kecil dengan anak-anak di masa depan.

Seorang ketua RT yang telah purnatugas biasanya mengeklaim pembinaan masyarakat di zamannya lebih bagus dibandingkan dengan ketua RT yang sedang menjabat saat itu. Hal ini terus terjadi sampai tingkat yang lebih tinggi.

Nostalgia peristiwa merupakan upaya mengembalikan pikiran ke masa lalu atau sebaliknya mendatangkan alam masa lalu ke dalam pikiran manusia saat ini bukan perbuatan salah.

Dalam terma kekinian, masa lalu sering disebut dengan istilah: zaman sebelum negara api menyerang. Negara api adalah istilah kolektif bagi negara fiktif dalam film-film seperti Avatar yang hadir dengan membawa bibit-bibit kerusakan.

Perbedaan yang lahir karena perubahan cara pandang antar manusia di setiap zaman memunculkan penghakiman. Zaman  baru yang dicita-citakan oleh generasi sebelumnya sebagai sebuah harapan justru tidak sejalan dengan idealisme mereka, sering dipandang zaman yang lebih bobrok dari sebelumnya.

Para penggagas reformasi tahun 1998 memandang zaman yang mereka ciptakan (era reformasi) justru telah menjadi arena gladiator politis yang lebih brutal dan terang-terangan melakukan tindakan kejahatan (korupsi).

Kesenjangan antara harapan dengan kenyataan ini menjadi masalah serius yang dihadapi oleh generasi baby boomers dan generasi x. Solusi yang dapat menjadi obat penawar kesemrawutan saat ini yaitu dengan bernostagia.

Grup dan komunitas nostalgia di media sosial rata-rata diikuti oleh kelompok umur 30-60 tahun. Postingan mulai dari gambar hingga kata-kata akan diikuti oleh komentar-komentar “rasa kangen” netizen pada suasana masa lalu. Imaji masa lalu sebuah kota menjadi jendela masuk imajinasi generasi baby boomers dan generasi x pada suasana masa lalu.

Tidak sekadar pikiran, gambar-gambar tersebut seperti menarik manusia pada masa lalu, kemudian timbul pikiran ingin kembali ke era ketika manusia kerap berinteraksi dengan alam. Sayang sekali, generasi Tik-tok tidak akan memerdulikan apakah orangtua mereka kembali ke masa lalu atau tidak.

Mereka lebih sibuk mencari-cari celah dan cara memviralkan diri, menonton hal yang dipandang aneh oleh orangtua mereka, dan menghabiskan waktu dalam permainan-permainan daring.

Bagi generasi baby boomers dan generasi x, bernostalgia berarti sebuah proses mengekalkan ingatan dan berkas dalam diri. Meregresi berkas-berkas berserakan agar menjadi satu linimasa utuh tentang kehidupan mereka.

Tidak jauh berbeda dengan generasi y dan zero, generasi baby boomers dan generasi x juga tidak mau tahu apakah imaji masa lalu mereka dapat dikenal dan dipraktikkan kembali oleh generasi sekarang atau tidak sama sekali.

Dapat saja, praktik kehidupan yang pernah mereka alami akan musnah dan musykil berlaku kembali di era internet ini.

Permainan tradisional prainternet sebagai bentuk kejayaan generasi baby boomers dan generasi x sulit dipertahankan sampai sekarang agar kembali menjadi satu kebiasaan yang digemari oleh anak-anak.

Permainan tradisional di sebuah kampung global adalah permainan daring antara anak-anak dari Sukabumi dengan Chicago.

Permainan tradisional di sebuah kampung global tidak perlu dilakukan sambil berlari-larian saling kejar hingga keluar keringat. Anak Sukabumi hanya cukup memeras mata dan menguras emosi dalam permainan daring.

Dalam lingkup dunia relativitas, bernostalgia merupakan cara menghibur diri. Tanpa memerlukan mesin waktu, hanya dengan cara memanggil berkas-berkas masa lalu, generasi baby boomers dan generasi x telah memasuki folder masa lalu.

Salah satu berkas masa lalu yang sering bersentuhan dengan hukum relativitas adalah tentang lama waktu.

Kita sering mendengar ungkapan “ waktu berlalu begitu cepat di era modern ini, sementara ketika saya masih kecil, hari ke hari dirasakan cukup panjang.” Sebetulnya inilah inti dari relativitas yang dikemukakan oleh para ahli fisika modern.

Dalam teori relativitas umum dan khusus disebutkan: jika manusia membawa jam mendekati pusat gravitasi (inti Bumi), jarum jam akan berputar semakin melambat.

Teori ini sebetulnya berlaku juga dalam kehidupan sosial. Generasi baby boomers dan generasi x sangat merasakan betul waktu yang mereka lalui begitu panjang karena mereka masih melekat erat dan begitu dekat dengan pusat kehidupan: keluarga dan masyarakat.

Mau tidak mau, keluarga merupakan pusat gravitasi kehidupan sosial. Bandingkan dengan sekarang, ketika kemelekatan antara individu dengan keluarga dan ikatan sosial semakin renggang, waktu –meskipun dalam hitungan jam ini sama (24 jam)- tetap saja dirasakan berlalu sangat cepat. Generasi baby boomers dan x memiliki resep ampuh, untuk memperlambat waktu cukup dengan bernostalgia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *