Masa Kampanye Pemilu 2024 Dipangkas jadi 75 Hari, Pengamat Politik Sukabumi: Kota Cukup, Kabupaten Kurang

Asep-Deni
Pengamat politik Sukabumi Asep Deni

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Masa kampanye Pemilu 2024 mendatang hanya 75 hari. Durasi tersebut sesuai keputusan bersama antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Lantas, cukup dan efektifkah bagi partai politik dan calon anggota legislatif nantinya memanfaatkan waktu tersebut?

Pengamat politik Sukabumi Asep Deni mengatakan, hal yang patut diperhatikan adalah pesan politik harus dapat tersampaikan dengan benar dan jelas kepapa masyarakat atau konstituen, terlepas dari masa kampanye.

Bacaan Lainnya

“Kedua, soal masa kampanye yang dianggap panjang atau pendek, mungkin di Kota Sukabumi, jangankan 75 hari, 30 hari atau satu bulan saja cukup. Tapi kan Kabupaten Sukabumi yang 47 kecamatan 380 desa mungkin tidak cukup. Ya, kurang gitu waktunya,” kata Asep Deni kepada Radar Sukabumi, Selasa (7/6).

Artinya, jelas Asep Deni, masa kampanye dianggap cukup jika melihat kondisi dan situasi demografi dan topografi suatu daerah. Seperti Kabupaten Sukabumi yang faktanya adalah kabupaten terluas kedua se-Jawa Bali. Begitupun daerah lainnya yang memiliki luasan daerah signifikan.

“Jadi tidak bisa ditentukan soal cukup tidak. Karena ini situasional dan kondisional,” imbuh pria yang juga menjabat sebagai Ketua STIE PGRI Sukabumi.

Terlepas dari persoalan cukup atau tidak cukup, menurut Asep Deni, kebijakan masa kampanye 75 hari pada Pemilu 2024 mendatang menjadi tantangan bagi partai politik dan caleg. Dijelaskan, pola kampanye pada 2024 akan kian berbeda dengan pemilu di 2019 lalu. Sebab hampir mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan gadget.

“Sehingga pola kampanye nantinya adalah memanfaatkan teknologi. Dan kedua, untuk mengukur sejauh mana calon membuat jejaring dari partai dan jejaring sendiri. Ketiga, harus dibuat jadwal yang matang. Sehingga kalau ditanyakan apakah 75 hari cukup? Menurut saya cukup. Bagi yang menganggap tidak cukup, mungkin mereka tidak siap soal strategi politiknya,” papar Asep Deni.

Kendati demikian, Asep Deni tak memungkiri adanya curi start kampanye. Bahkan menurutnya kampanye telah dilakukan mulai dari sekarang. Para figur yang akan berebut kursi parlemen mulai membentuk jaringan personal yang kuat serta memantapkan personal branding masing-masing kepada publik.

“Seperti yang saya sebutkan tadi, para figur, para calon akan gadget minded. Jadi memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan siapa dirinya, apa yang dia tawarkan, demi meyakinkan publik. Saat ini, mereka akan berlomba menjadi yang populer dulu, meski belum tentu electable. Tapi kalau electable, sudah pasti populer,” pungkas Asep Deni. (izo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan