185 Hektar Pesawahan di Padabeunghar Sukabumi Terancam Gagal Panen, Dampak Irigasi Cimandiri Rusak

Irigasi Desa Padabenghar Rusak
Warga Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, saat gotong royong memperbaiki saluran irigasi secara swadaya

SUKABUMI – Ratusan hektare lahan pesawahan warga di Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, terancam gagal panen. Ini terjadi lantaran saluran irigasi Cimandiri yang berada di bawah pengawasan Unit Pelayanan Teknis Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Cisadea-Cibareno (UPTD PSDA WS Cisareno) itu, dibiarkan rusak selama belasan tahun.

Kepala Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah, Hendrik kepada Radar Sukabumi mengatakan, saluran irigasi Cimandiri yang berpusat dari Daerah Irigasi (DI) Cimandiri Baros itu, bukan hanya dibutuhkan warga Desa Padabeunghar saja. Namun keberadaannya juga sangat dimanfaatkan warga dari Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah.

Bacaan Lainnya

“Saluran DI Cimandiri Baros itu, rusak sekitar tahun 2012 lalu. Saluran irigasi ini, untuk mengairi lahan pesawahan warga dari tiga desa dan dua kecamatan,” kata Hendrik kepada Radar Sukabumi pada Jumat (20/01).

Apabila saluran irigasi tersebut, sudah diperbaiki oleh Unit Pelayanan Teknis Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Cisadea-Cibareno.

Maka, dapat dipastikan seluruh lahan pertanian warga di wilayah Desa Padabeunghar, bisa teraliri air secara maksimal. “Iya, itu bisa mengairi sekitar 185 hektare jika saluran DI Cimandiri Baros itu diperbaiki. Irigasi ini, rusak karena banyak yang jebol oleh bencana banjir dan longsor,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi ancaman gagal panen, sambung Hendrik, saat ini warga hanya mengandalkan saluran irigasi Jentreng dan irigasi Leuwimasbar. Namun, saluran irigasi tersebut tidak bisa mengiairi seluruh pertanian di wilayah desa tersebut secara optimal.

“Iya, memang belum maksimal. Karena, irigasi Jentreng dan irigasi Leuwimasbar itu, sekarang kondisinya rusak. Makanya, banyak lahan pesawahan warga di desa kami yang terlantar akibat tidak teraliri air,” paparnya.

Pihaknya mengaku, pemerintah Desa Padabeunghar sudah berulang kali mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah kabupaten Sukabumi hingga pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk permohonan bantuan perbaikan saluran DI Cimandiri Baros tersebut. Namun, hingga saat ini belum juga teralisasi dengan baik.

Untuk itu, ia bersama para petani di wilayah desa yang tengah dipimpinnya itu, berharap kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk dapat segera memperbaiki saluran DI Cimandiri Baros tersebut.

“Saluran irigasi ini memang berada dibawah pengawasan pemerintah Provinsi Jawa Barat. Informasi terkahir, air dari saluran DI Cimandiri Baros itu, sekarang hanya baru mengairi lahan pesawahan warga dari Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah saja. Sementara, untuk lahan pesawahan warga di Desa Padabeunghar, belum teraliri air hingga belasan tahun,” tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Kegiatan Irigasi Pada Unit Pelayanan Teknis Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Cisadea-Cibareno (UPTD PSDA WS Cibareno), Asep Nugraha mengatakan, pihaknya membenarkan terkait masih adanya kerusakan saluran DI Cimandiri Baros untuk mengairi lahan pesawahan dari tiga desa yang ada di wilayah Kecamatan Nyalindung dan Kecamatan Jampangtengah tersebut.

“Memang saluran irigasi Cimandiri Baros itu, airnya belum sampai ke lahan pertanian di Desa Padabeunghar. Karena, luasan arealnya baru bisa mengairi sekitar 834 hektare yang yang ada di Desa Tanjungsari dan Desa Wangunreja. Sementara, untuk jumlah total lahan yang harus teraliri air oleh saluran irigasi tersebut mencapai sekitar 1.217 hektare,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saluran irigasi tersebut belum bisa digunakan secara maksimal. Lantaran, pekerjan untuk pembangunan perbaikan pada saluran irigasi tersebut, belum selesai. Seperti masih ada sisa dua talang yang belum diperbaiki. Pihaknya juga mengklaim, bahwa UPTD PSDA WS Cibareno sudah mengajukan perbaikan saluran irigasi tersebut dari tahun 2015 lalu. Namun hingga saat ini belum terealisasi.

“Ini sudah kita usulkan dari dulu juga Namun, ketersedian anggaran dari sumber daya air-nya belum ada untuk pekerjaan fisik. Sementara, untuk pemeliharaan rutin atau rehab ringan. Seperti pembersihan sungai atau pembabadan rumput itu, terus kita kerjakan,” imbuhnya.

Pihaknya menambahkan, saluran irigasi tersebut memiliki panjang sekitar 30 kilometer dengan lebar atas jaringan irigasi mulai dari 3 sampai 5 meter dan ketinggian sekitar 1,6 meter hingga 2 meter. Dari panjang irigasi 30 kilometer ini, menurutnya baru sekitar 26 kilometer yang sudah diperbaiki oleh UPTD PSDA WS Cibareno.

“Iya, ada sekitar 85 persen jaringan irigasi itu diperbaikinya. Karena, memang kondisi jaringannya sendiri sekarang banyak yang rusak oleh bencana alam. Terlebih lagi, konstruksi tanah di wilayah tersebut sangat labil,” pungkasnya. (Den)

Pos terkait