Kemunculan Harimau Jawa di Sukabumi, Antara Kenyataan dan Jelmaan

Harimau-Jawa

SUKABUMI – Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) sudah dinyatakan punah sejak tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian yang mengurangi habitat binatang ini secara drastis. Namun belakangan ini, beredar pengakuan warga yang melihat kemunculan sosok sanga raja hutan ini.

Kisah keberadaan Harimau Jawa ini memang seperti turun temurun. Bahkan, banyak yang mengatakan sosok harimau tersebut adalah jelmaan. Soalnya, sering dikaitkan dengan kisah Prabu Siliwangi.

Bacaan Lainnya

Seorang warga Kampung Cikaramat, RT 16/6, Kemandoran Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Riri Yanuar Fajar (20) mengaku melihat kemunculan Harimau Jawa. Pengakuan ini pun tersebar di media sosial facebook maupun perpesanan aplikasi.

Salah satunya diberanda media soasial facebok milik Dinas Kehutanan Jabar yang menginformasikan telah menerima laporan adanya dugaan kemunculan Harimau Jawa tersebut.

Dalam keterangannya, penampakan dugaan Harimau Jawa terlihat 18 Agustus 2019 lalu. Hal itu berdasarkan kesaksian Riri. Bahkan, kesaksian Riri tersebut diperkuat oleh empat saksi lainnya yang semuanya berdomisili sama.

Setelah kejadian itu, lalu pada 27 September 2019, Riri mencoba menelusuri ke tempat kejadian, dan menemukan satu helai yang diduga merupakan rambut harimau tersangkut di ranting pagar saat melompat ke jalan. “Dan hasil penemuan rambut tersebut diserahkan ke BKSDA Jabar.

Juga jejak cengkraman kuku pada batu yang ditunjukkan saksi di lokasi kejadian dimana ada dua jejak kuku, pada batu pertama ada tiga goresan kuku, dan batu kedua ada tiga goresan kecil kuku,” tulis dalam halaman fecebook Dinas Kehutanan Jabar.

Sementara itu dihubungi terpisah, Camat Surade Chairul Ichwan membenarkan adanya informasi dugaan penampakan Harimau Jawa tersebut setelah mengkonfirmasi kepada para saksi. “Benar, berdasarkan kesaksian, saudara Riri menyaksikan langsung penampakan harimau diduga Harimau Jawa,” ungkapnya.

Adanya informasi tersebut, pihaknya langsung berkordinasi dengan pihak BKSDA ataupun Dinas Kehutanan Provinsi Jabar dengan menyerahkan bukti-bukti yang ada atau ditemukan warga tersebut. “Saat ini dalam penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kami belum mendapat kabar hasilnya seperti apa,” terangnya.

“Kami khususnya pemerintah kecamatan dan desa, meski baru dugaan ini cukup bahagia. Bisa saja Harimau Jawa itu masih ada. Sementara hari ini kan sudah dinyatakan punah ya. Untuk itu kepada masyarakat lebih arif dengan lingkungan sekitarnya. Mulai dari cara dan pola menanam hingga mengetahui pola konservasi di area perkebunan mereka,” tandasnya.

Kemunculan Harimau Jawa di Hutan Surade ini ternyata bukan kali pertama. Kades Cipeundeuy, Bakang Anwar As’adi mengaku kerap menerima kabar itu, terakhir saat meninjau pengaspalan di wilayahnya ia mendapat cerita penampakan harimau di kawasan hutan rakyat Surade.

“Beberapa waktu lalu saya mendapat cerita dari warga, ia melihat penampakan harimau dengan corak itu (kuning-hitam). Tahunnya sama 2019 namun bulannya sekitar Mei-Juni katanya,” ujar Bakang.

Bakang mengatakan warga yang mengaku melihat itu berprofesi sebagai pencari burung. Penampakan harimau itu berada di sekitar aliran sungai di dalam hutan. “Posisinya kemarau, area tempat orang itu melihat di pinggiran sungai. Kawasan hutan yang memang jarang sekali diinjak orang, lokasi itu memang banyak goa-goa ya bisa dibilang hutan belantara,” ungkapnya.

Dari beberapa informasi, penampakan harimau di beberapa lokasi di kawasan hutan rakyat yang memiliki luas sekitar 400 hektar itu sudah seringkali dialami langsung warga. Terlebih di Blok Cibanteng, Cicadas, hingga kawasan Karangbolong yang berbatasan dengan Desa Sukatani, Kecamatan Surade.

“Di Desa Cipeundeuy memang masih ada kawasan hutan yang luas dan dikelilingi Sungai Cipamarangan dan laut Cimandala yang berbatasan dengan Karangbolong, Desa Sukatani,” ucap Bakang.(cr2/radar sukabumi)

Harimau-Jawa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan