Jurnalis Journey Sukabumi Overland 2022, Setitik Perjalanan Menguak Destinasi Offroad (2)

Jurnalis Journey Sukabumi
Tim Jurnalis Journey Sukabumi (JJS) Overland 2022 memulai trip menyusuri daerah Pajampangan.

Labas Trek Minajaya-Karang Gantung Potensi Wisata Offroad nya Juara

Lepas menginap semalam di Pantai Cicaladi Cibitung, Jurnalis Journey Sukabumi (JJS) Overland 2022 berlanjut. Hampir seharian di hari Sabtu lalu, tim melabas rute sepanjang Pantai Minajaya hingga ‘Uluwatu’ nya Sukabumi di Pantai Karang Gantung.

VEGA SUKMA YUDHA, Sukabumi

Bacaan Lainnya

SEMAKIN Siang, terik matahari di Pantai Cicaladi bertambah menyengat kulit. Setelah berkemas dan merapihkan sisa-sisa camp, tim JJS Overland 2022 melanjutkan perjalanan menuju Pantai Minajaya. Pantai indah di Kecamatan Surade ini kami tempuh selama dua jam dari titik awal keberangkatan.

Perjalanan kami mengikuti trek trip pertama masuk Cicaladi. Hanya, saat sampai di Sungai Cipamarangan yang menjadi batas Desa Sukatani dan Cipeundeuy Surade, keisengan road captain kami Rizki Gustana kumat.

Kendaraan Chevrolet Tropper lansiran 90an yang ia tumpangi bersama Akhmad ‘Itoy’ Fikri (Trans7) dan Herland Heryadie (PR) menepi di atas jembatan sungai tersebut.

Alih-alih melanjutkan perjalanan, ketiganya berbagi tugas mengeskplor dasar sungai menggunakan beberapa bilah tongkat hiking. Otak ‘ngeres’ saya langsung timbul. Dua kendaraan kami yang mengikuti di belakang, bakal dikerjai.

Benar saja. Kiki (sapaaan Rizki Gustana) langsung memberi aba-aba agar dua kendaraan kami turun menyebrang aliran sungai. Sementara kendaraan miliknya bertugas sebagai recovery bila terjadi gangguan. Mulanya, Suzuki Jimny milik Panji Setiadi menjajal trek.

Ditemani Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Sukabumi Apit Haeruman sebagai navigatornya, Panji tampak lincah menjajal kendaraan di atas lumpur. Lumpur di pinggiran sungai berair jernih lumayan dalam. Bisa selutut.

Tak sampai 30 menit menggeber gas, wartawan Net TV ini sudah nyemplung di aliran sungai yang memiliki lebar 15 meteran. Roman puas terpancar dari dua awak kabin yang sudah duluan memarkir kendaraanya di tengah sungai.

Kini giliran saya. Ditemani jurnalis JP News Darwin ‘Entis’ Sandy dan Kresna Wisnu Brata selaku navigator, body kendaraan jebrag saya masuk lumpur. Sayang, traksi ban depan ogah-ogahan mencengkram. Jadilah stak. Lumpur nya hampir menutup sebagian tubuh ban.

Seluruh awak kabin kendaraan yang lain terkekeh puas seperti mengerjai saya yang baru kali ini kembali menjajal kendaraan berspesifikasi 4×4 lagi. Maklum, selama hampir 2 tahun dunia perslaloman dan time rally vakum karena covid, aktifitas saya di jalan memang banyak ‘nganggur’, hehehehe.

Ya sudah. Tropper pun turun tangan mengerek keluar Nissan Frontier yang saya kemudikan. Karena memang tidak memakai winch depan, jadilah kabel strep menjadi tangan ‘tuhan’ di obstacle kali ini.

Kiki sang kapten begitu telaten memandu rekannya Itoy yang saat itu menjadi driver. Berkali-kali dia berteriak agar posisi kendaraan penarik bisa presisi dengan kendaraan yang trouble. Dua kali kabel strep dipasang, dua kali lepas karena memang body bongsor Frontier saya lumayan berat.

Namun berkat pengalaman sang kapten dan kegigihan tim, 15 menit kemudian kendaraan saya akhirnya nyemplung juga di sungai yang bermuara di Samudra Hindia.

Baca Juga: JJS Overland 2022, Setitik Perjalanan Menguak Destinasi Offroad Sukabumi (1)

Sayang, baru beberapa menit lepas dari obstacle pertama, kecerobohan saya kambuh. Saat hendak diparkir untuk mengambil sesi foto dan video, dua roda depan kendaraan saya terjerembab, ‘nyuksruk’. Meski terlihat dangkal, di beberapa spot, aliran sungai itu lumayan dalam. Untungnya, kap depan mesin mobil tidak sampai ikut terendam semuanya.

Kabel strep kembali bekerja. Kali ini dikerek dari bagian belakang mobil. Aktifitas kami di pagi menjelang siang itu pun menjadi tontonan gratis pengguna jalan di atas jembatan yang mungkin penasaran deru gas kendaraan di sepanjang aliran sungai.

Semakin siang, cuaca di kawasan Pajampangan semakin hot. Kami memutuskan menggeber kendaraan agar bisa cepat sampai Pantai Minajaya. Masuk via jalan alternatif Kademangan Surade, suasana ramai masih terasa di kawasan pantai itu.

Pantai putihnya menawan bagi siapapun untuk main air atau berenang. Terdiri dari dari gugusan karang, pantai tersebut memang tidak langsung berbatasan dengan laut lepas samudra Hindia. Sehingga kendaraan kami mudah menjajal bibir pantai ke hingga ujung timur.

Tak sampai satu jam setelah pengambilan dokumentasi, tim merasa kurang betah. Maklum, hampir semua sinyal provider terasa drop di seluruh areal pantai ini hingga aktifitas komunikasi terhambat. Ini jika dibiarkan terus menerus tanpa solusi, membuat kawasan pantai ini menjadi kurang sedikit ramah pada siapapun yang mengunjunginya. Momen upload medsos di era milenial ini bisa kacau.

Perjalanan menuju Uluwatu menjadi tujuan lanjutan trip kedua ini. Tapi bukan ke Bali. Kami sengaja memilih trek tersembunyi yang ke depan bisa jadi magnet siapapun penggila 4×4.

Begitu keluar dari kawasan Pantai Minajaya, kendaraan kami memilih masuk kawasan perkebunan kelapa Pasiripis Surade menuju Karang Gantung. Konon, kawasan itu disebut Uluwatunya Sukabumi karena spot di sana benar-benar mirip seperti di Bali.

Medan tanah merah, berlumpur dan licin menjadi mood penyemangat setelah insiden sulit sinyal. Konsentrasi kami dibuat benar-benar full. Salah napak sedikit, kendaraan kami bisa terjerembab. Terlebih ada beberapa trek menanjak yang lumayan panjang untuk ditaklukan.

Di beberapa obstacle, kami beberapa kali menepi. Mengabadikan momen birunya samudra di atas ketinggian. Indah. Desiran angin laut juga terasa bersahabat di dalam kabin.

Berkali-kali pula kami gantian untuk lolos dari semua rintangan lumpur di depan kendaraan. Komunikasi kami di pesawat HT yang ada di semua kendaraan riuh untuk saling mengingatkan betapa trek yang terlihat seperti mudah tapi ternyata lumayan saat ditapaki.

Traksi ban depan dan belakang serta permainan kemudi harus benar-benar dikuasai secara maksimal jika tak ingin mobil oleng ke kanan atau kiri karena licinnya medan. Hampir 2 jam di tengah kebun kelapa dan separuh hutan tropis kami melahap semua obstacle yang ada.

Di trek yang lurus dan kering, malah permainan gas ditunjukan tiap-tiap kendaraan hingga debu-debu tanah saling berterbangan. Kami cukup puas. Trek ini bisa menjadi potensi wisata offroad seperti Merapi nya DIY. Tidak ringan tidak pula berat.

Ada beberapa spot foto saat berada percis di pinggir bukit yang berpanorama laut lepas. Beberapa rumah warga penyadap juga masih ditemui meski jarang-jarang.

Deburan ombak menyambut saat kami singgah di warung semi permanen milik warga di sana. Suguhan kelapa muda STW (setengah tua) menjadi pengobat dahaga kami sepanjang perjalanan. Karang Gantung. Begitu disebut. Pantai di atas tebing 30 sampai 50 meteran itu menjadi spot tersembunyi yang kami kunjungi.

Jika dipantau dari maps, kawasan ini berseberangan dengan spot panoramic view Amanda Ratu. 15 tahun lalu, Amanda Ratu menjadi primadona siapapun menghabiskan waktu untuk berwisata, menginap dan lain-lain.

Pantai Karang Gantung Sukabumi
Pesona keindahan laut Pantai Karang Gantung, Minajaya di Kecamatan Ciracap. Tim JJS Overland 2022 saat melibat trak sungai untuk menuju ke lokasi kedua.

Di Karang Gantung, bongkahan karang yang terpisah sebagai pulau kecil menjadi ciri khas pantai ini. Dilihat dari atas ketinggian, terlihat jelas pantai ini seolah kembarannya Uluwatu. Sayang, belum terkelola maksimal. Meski di beberapa sudut, tim dan pengunjung yang didominasi wisatawan lokal asyik swafoto. Perlu perjuangan untuk turun ke bibir pantai dari atas.

Ada beberapa tangga yang dibuat oleh warga setempat. Di bawah pun tak boleh renang sembarangan. Selain lepas pantai, arus kuat beresiko membawa siapapun yang nekat berenang di sana. Ke bongkahan karang itu pun tak bisa menunggu arus laut surut. Ini pantai selatan.

Sesurut-surutnya air, arusnya tetap kuat. Hanya nelayan yang kerap mancing yang bisa menuju bongkahan karang. Itu pun jarang-jarang.

Menurut pedagang yang saya temui, akses menuju tempat ini hanya ‘ramah’ oleh roda dua atau kendaraan berspesifikasi offroad. Mobil lain bisa saja masuk. Hanya resiko tanggung sendiri jika mau memaksakan.

Bupati Sukabumi Marwan Hamami memang baru beberapa bulan membuka akses jalan ke tempat ini. Masih tanah dan belum aspal. Mungkin ke depan akan dikeraskan dulu hingga betul-betul rata dan tidak licin jika hujan. Pedagang di sini pun musiman.

Jika hari biasa mereka hanya jualan Sabtu dan Ahad saja. Meski berpeluh keringat, kami bahagia. Di spot ini kami bisa mengabari keluarga dan kerabat setelah setengah hari handphone kami nyaris pingsan karena tak ada sinyal sedari dari Minajaya. Sesekali, laporan kerjaan pun bisa kami update agar cuan bisa terisi kembali setelah tamasya lumpur. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan