JJS Overland 2022, Setitik Perjalanan Menguak Destinasi Offroad Sukabumi (1)

Jurnalis Sukabumi
Tim Jurnalis Journey Sukabumi (JJS) Overland 2022 memulai trip menyusuri daerah Pajampangan.

Indahnya Pesona Karang Bolong, Pemikat Sejati Pecinta Adrenalin

Jurnalis Journey Sukabumi (JJS) Overland 2022 adalah tema awal perjalanan saya bersama rekan-rekan jurnalis Sukabumi lainnya sesama pecinta kendaraan 4×4. Menguak tabir omongan orang-orang selama ini. Sukabumi adalah surga destinasi wisata main lumpur d selatan Jawa Barat plus destinasi wisata tersembunyinya.

VEGA SUKMA YUDHA, Sukabumi

Bacaan Lainnya

TRIP pertama kami mulai dari Graha Pena Radar Sukabumi di kaki Gede Pangrango. Ada tujuh insan media di Sukabumi yang terlibat plus satu anggota keluarga saya yang kebetulan ingin nimbrung merasakan journey perdana ini.

Kami mengambil start ba’da Jum’at pekan lalu. Dua jam molor karena ada finishing di kendaraan saya yang memang tidak bisa di buru-buru. Mengambil rute di trip pertama melewati jalur Jampangtengah-Lengkong, kami sengaja memangkas perjalanan menuju Selatan Pajampangan Sukabumi via Jalan Mataram.

Di sana, jalan yang dibangun oleh Bupati Sukabumi era Maman Sulaeman secara umum memang lumayan untuk pemanasan kaki-kaki tiga kendaraan 4×4 yang kami tumpangi. Memang perlu recovery menyeluruh agar jalan itu nyaman digunakan oleh warga lainnya.

Aspal yang banyak mengelupas dan berlubang menemani kami dari masuk dan keluar kawasan wisata panoramic view Puncak Buluh, Jampangkulon.

Di puncak itu, kami menepi. Beberapa crew kebelet ngopi karena tak kuat disuguhi panorama 70 persen Pajampangan dari atas ketinggian 200 an Mdpl.

Puncak buluh adalah salah satu spot favorit masyarakat di selatan Sukabumi untuk berwisata. Dari beberapa titik spot, biru nya Samudra Hindia membentang luas seperti tak berujung.

Tujuan awal yang akan menjadi basecamp (BC) kami adalah Karang Bolong. Secara administratif masuk ke Kecamatan Cibitung.

Perlu perjuangan ekstra menuju ke sana. Tiga jam kami habiskan untuk masuk wilayah itu dari Kecamatan Surade. Jalan aspal mulus memang masih kami temui selama keluar dari Jampangkulon hingga beberapa desa di Surade.

Di pertigaaan masuk wilayah Desa Sukatani, jalan mulai mengajak kami berkosentrasi. Sempit dan sebagian mulai berbatu. Hingga akhirnya kami bertemu muara Sungai Cikarang Bolong.

Daerah itu sempat membuat hati saya tak karuan. Antara nekat menyebrang atau tidak. Maklum deburan ombak samudra seolah mengajak bertarung kepada saya dan tim untuk menaklukan obstacle ini.

Namun berdasarkan survei dan analisa arus serta kedatangan gelombang, Rizki Gustana selaku road captain kami memutuskan untuk membatalkan penyebrangan.

Jurnalis TV One yang belasan tahun dikenal sebagai dedengkotnya offroad Sukabumi ini beralasan kuat. Sebesar-besarnya tenaga mesin kendaraan kami akan kalah dengan arus balik gelombang laut yang menerjang ke aliran sungai itu.

Jika laut sedang surut, sungai selebar tak kurang 20 meter ini memang bisa ‘ramah’ terhadap penakluknya. “Karena kontur dasar sungai cenderung di dominasi batu cadas yang kuat,” beber Kiki sapaan akrab Rizki Gustana.

Waktu berjalan semakin membuat cuaca temaram. Tadinya kami ingin menjajal areal Leuweung Hideung (Hutan Hitam).

Karangbolong Sukabumi
Objek wisata Karang Bolong begitu memanjakan mata sekaligus menantang adrenalin.

Akses lain kawasan Pantai Karang Bolong dari ruas jalan Cibitung-Tegalbuleud. Di sana banyak obstacle yang bisa membuat darah petualangan kami mendidih.

Akhirnya setelah berembuk dan melego ikan peda merah dari seorang warga di situ, kami memilih membuka camp di Pantai Cicaladi yang masih satu kawasan dengan areal Karang Bolong.

Luar biasa, hilang satu tumbuh seribu begitu terasa di benak kami. Meski tak sampai menjajal trek awal tujuan, kami mendapat suguhan karya tuhan yang begitu mempesona. Jejeran bukit karang dengan kemiringan 90 derajat, seolah berdiri angkuh menahan deburan gelombang samudra.

Matahari sudah kembali ke peraduannya. Yang tersisa, cahaya lampu dari bibir karang dan tengah pantai membuat kami semakin semangat ingin segera mengisi perut.

Peda merah dari si amang yang sedari petang ikut survei arus sungai, semerbak mewangi saat digoreng. Kerlap-kerlip putih lampu dari segeg benur dan pagang nelayan setempat sangat menambah nuansa lain pada makan malam di akhir trip pertama journey ini.

Cicaladi menjelang pagi begitu eksotis. Sunrise masih malu-malu menampakan diri. Kendati begitu kerlap-kerlip lampu yang semalam membuat suasana romantis bagi mereka yang berpasangan, masih belum padam. Segeg benur begitu masyarakat setempat menyebut, menjadi daya tarik kawasan ini.

Sepanjang bibir karang yang berdiri, segeg berjejer rapi dan menjadi salah satu pintu mencari rezeki tambahan nelayan di sana. Saat benur masih diperbolehkan ditangkap oleh Menteri Kelautan terdahulu, segeg yang dibuat dari batang bambu dan dirangkai menjorok ke atas permukaan laut digunakan nelayan menjaring beby lobster tersebut.
‘Namun saat ini, segeg bisa berfungsi lain. Di bagian pondasinya yang kokoh, siapapun yang berkunjung ke tempat ini bisa menguji adrenalinnya. ‘Berjalan ke ujung segeg, seolah menjadi pembuktian keberanian. Betapa tidak, deburan ombak 15-25 meter di atas segeg bisa membuat lutut gemetar.

Yang setengah hati jangan coba main-main. Tidak ada safety apapun yang disiapkan. Hanya modal niat, tangan yang kuat berpegangan sisi kanan kiri segeg dan kaki yang mantap melangkah yang bisa melewatinya.

“Dari kedelapan orang, kami hanya bisa mengamati dari dekat segeg-segeg itu. Di lumpur kami masih oke. Di atas segeg duhhh gusti. Memandang ombak yang saling beradu di celah karang saja kami keder hahaha,” kelakar tim Jurnalis dari Radar Sukabumi, Vega Sukma Yudha.(*bersambung)

Pos terkait