KABUPATEN SUKABUMI

Kelaparan, Ija Sempat Makan Kotoran

PALABUHANRATU – Persoalan kemiskinan di Kabupaten Sukabumi nampaknya masih sulit dientaskan. Setiap saat, selalu saja ada masalah sosial hingga menabrak hidup normal sebagaimana layaknya manusia.

Seperti yang dialami Ija, warga Kampung Cigadog, RT 001/004, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan. Bocah kelahiran 21 April 2002 ini harus rela dikurung ibunya, Oon (40) di tempat mirip kandang ayam yang luasnya hanya 1 x 2 meter di belakang rumahnya.

Pengurungan itu dilakukan setiap kali ibunya pergi mencari nafkah sebagai jasa tukang pijat.

Bahkan menurut Ketua Panti Asuhan Welas Asih (AWA), Deni Solang mengatakan, Ija yang usianya menginjak 15 tahun itu merupakan anak berkebutuhan khusus. Pertumbuhan tubuhnya kurang normal seperti bocah setahun yang baru belajar berjalan dan bicara.

Ija mengidap tuna wicara dan tuna rungu. Ia hanya mengeluarkan suara seperti menjerit tapi pelan jika meminta sesuatu.

“Menurut tetangganya, Ija sering ditinggal dalam kurung oleh ibunya bila sedang mencari rezeki sebagai tukang pijat. Kadang-kadang ditinggal sampai tiga hari.

Tetangganya juga sempat memergoki Ija memakan kotorannya sendiri akibat kelaparan.

Dia tinggal dikurung sudah 8 tahun,” beber Deni kepada Radar Sukabumi saat dikujungi di kediamannya, Kampung Cangehgar, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, kemarin sore (26/11).

Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, gangguan yang diidap Ija akibat lambatnya penanganan saat ia sakit demam.

“Anak ini pernah step hingga pingsan berhari-hari. Karena tak mengerti penanganannya, Ija malah dikurung. Pingsan berhari-hari itu katanya sudah menjadi hal biasa,” tambahnya.

Kini, lanjut Deni, Ija tinggal di rumahnya di Kampung Cangehgar untuk sementara waktu sebelum ada dermawan yang mau mengadopsinya.

Awalnya Ija mau disatukan di yayasan, tetapi setelah diperhatikan, Ija tidak mengalami gangguan jiwa. Ia hanya sulit komunikasi akibat tuna wicara dan tuna rungu.

Kendati raut wajah dan tubuhnya terlihat cerah, tetapi Ija juga memiliki keterbatasan lain. Ya ia seperti bayi baru bisa berjalan.

“Seperti bayi baru setahun. Kalo ada maunya ia berteriak seperti itu. Tapi suaranya pelan,” paparnya.

Saat dievakuasi pada Rabu (22/11) Ija langsung dibawa ke RS BLUD Palabuhanratu dan langsung ditangani medis selama dua hari.

“Di rumah saya baru tiga hari. Mudah-mudahan ada dermawan yang mau merawatnya,” harapnya.

Sementara Oon, mengaku berterimakasih dan bersyukur karena anaknya itu kini ada yang merawat. Pasalnya, ia sudah tidak sanggup mengurus Ija.

“Kalau mengurus anak, nanti tidak dapat uang untuk makan anak. Saya bersyukur karena Ija ada yang merawat,” tutup Deni Solang menirukan ucapan Oon. (ryl)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close