Pemuda dalam Karakteristik Dunia Pendidikan

Dalam sebuah catatan sejarah, peran pemuda sangatlah penting dalam kelangsungan perubahan suatu bangsa. Pemuda memiliki ciri karakteristik yang sangat khas. Kobaran semangat juangnya begitu menggelora, sebagai ciri khas pemuda.

Terlebih dalam segi pendidikan maupun hal yang lain, harus dapat diwadahi. Karena ide, gagasan serta saran-sarannya yang rasional dan masih bersih tanpa unsur kepentingan. Maka disitulah bahwa pemuda adalah sebuah pabrik perubahan, bagi bangsanya.

Bacaan Lainnya

Kita menilik pada sejarah peradaban di muka bumi ini, khususnya di dunia peradaban Islam. Bagaimana seorang Sultan Muhammad Al-Fatih yang dikisahkan dalam usianya yang beranjak 21 tahun, telah berhasil menaklukan kokohnya Benteng Pertahanan Kerajaan Bizantium atau yang sering kita kenal dengan Benteng Konstantinopel.

Selain itu, enam bahasa yang mampu dia kuasai menjadikannya seorang pemuda yang produktif. Juga memiliki karakteristik pemuda yang luar biasa, selain dari ketaatannya dalam ibadah yang terakui. Dalam usia 12 tahun tepatnya pada tahun 855 H atau 1451 M, beliau diangkat sebagai sultan dalam usia muda dan mampu emban dengan baik dan penuh kebijaksanaan yang mengantikan ayahandanya Muhammad Murad. Sungguh luar biasa perjalan pemuda ini, dalam usia produktif sudah memimpin sebuah negara.

Bukan hanya pahlawan luar negeri yang begitu heroik, dalam usia mudanya menjadi seorang yang memiliki pengaruh. Semisal sang proklamator bangsa yang dalam usia 35 tahun, sudah menjadi presiden bangsa ini misalnya, ataupun seorang tokoh yang perjalanan heroiknya dalam dunia mahasiswa semisal Prof.

Lafran Pane yang pada usia 25 tahun telah mampu mendirikan organisasi, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang sampai saat ini organisasinya tetap berkiprah dan terakui sebagai organisasi perkaderan yang mampu memberikan lulusan-lulusan yang berguna, bagi bangsa melalui torehan pemikirannya yang berkonsep keindonesiaan dan keislaman.

Di mana kedua konsep itu, akhirnya menjadi moderat aktualisasi baik bagi organisasi HMI maupun bangsa. Di situlah peran pemuda bagi perubahan bangsa. Sehingga kiprahnya HMI yang begitu istimewa sebagai laboratorium mahasiswa ataupun pabrik perubahan bangsa tersebut, akhirnya Prof. Lafran Pane ditetapkan menjadi pahlawan nasional di akhir 2017 lalu.

Dalam Undang-Undang (UU) Kepemudaan Nomor 40 Tahun 2009, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Ini juga bisa menjadi sebuah landasan pemuda pabrik perubahan bangsa, Againt of Change atau pun Againt Social of Control, yang mempunyai krateristik kepemimpinan, diambil dalam presentasi pemuda menurut Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), sepuluh pemuda perbandingan dengan 1000 orang tua, di mana negara berharap pemuda menjadi pendobrak dalam segi pendidikan maupun yang lain.

Dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter, diantaranya religius, nasionalis, integritas, gotong royong dan bertanggung jawab. Ini bisa sinkronisasi bersama peran pemuda, dalam menghadapi perkembangan zaman, pemuda yang religius seperti Alkisah Muhammad Al-Fatih yang bernasionalis seperti Prof. Lafran Pane, menjadikan pemuda dalam pendidikannya menjadi insan akademis yang paripurna.

Peran pemuda dalam karakteristik dunia pendidikan, bisa dibangun melalui beberapa jalur. Misalnya, dengan beribadah kepada Tuhan yang maha esa kita bisa menjadi sebuah insan kamil, maupun dengan jalur intelektualisme akan menjadi kawah candradimuka yang nantinya diimplementasikan dalam nilai–nilai perjuangan bangsa ini. Karena pemuda adalah harapan bangsa. (*/Cr17/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *