Panen Gempa, Tuai Waspada

Handi-Salam

Oleh : Handi Salam

HARI ini Minggu (27/11/2022) Jawa Barat sudah 4 kali Diguncang gempa. Tidak Terkecuali Sukabumi. Yang pertama di Cianjur sekitar pukul 04:20 WIB dengan kekuatan 2,4 Magnitudo yang berpusat di darat 7 km Barat Daya Kabupaten Cianjur.

Bacaan Lainnya

Kedua kembali di Cianjur, kekuatannya meningkat capai 2,7 Magnitudo berada di 6.79 LS 107.08 BT dengan pusat yang sama pada 06:18 WIB. Ketiga di Kota Sukabumi dengan kekuatan 3,5 Magnitudo yang berpusat di darat 15 km Barat Daya kota Sukabumi dan dirasakan di Gunungguruh, Cibadak hingga Bogor pada 07:21 WIB.

Terakhir, gempa 4,6 Magnitudo pukul 09:10 WIB terjadi di Pangandaran 8.2 LS 108.26 BT yang berpusat di laut 61 km Barat Daya Kabupaten Pangandaran. Tidak berpotensi Tsunami. Dirasakan di Garut, Tasikmalaya, Majalengka dan Sukabumi.

Benar-benar bikin warga cemas dan was-was. Namun, jika dihitung dari gempa Cianjur pada Senin (21/11/2022) jumlahnya mencapai lebih dua ratus kali, hanya saja skalanya kecil.

Bagi kalangan pengamat, justru semakin sering terjadi gempa dalam skala kecil, akan terhindar dari gempa besar karena energi dari pergeseran dan tumbukan lempeng, dilepas secara perlahan.

Ucapan itu pernah saya dengar langsung dari pakar gempa yang pernah ditemui pada 2018 silam Dr. Hamzah Latief ahli Tsunami dari ITB. Masyarakat harus mencatat dan berfikir, bahwa gempa itu tidak membunuh kalau masyarakatnya siap untuk selamat, yang membunuh kecemasan dan kurang faham soal mitigasi bencana.

Persiapkan diri, perbanyak ilmu soal gempa. Karena sadar bahwa Daerah Jawa barat, khsusunya Sukabumi memiliki Sesar Aktif yakni Sesar Cimandiri dan anak-anaknya seperti sesar Walat, Sesar Citarik, Sesar Cicareuh, Sesar Cicatih.

Anak-anak Sesar ini memotong Sesar Cimandiri itu melalui daerah yang cukup labil. Apabila terjadi gempa bumi pada lajur sesar ini akan merusak daerah yang labil tersebut.

Dari hasil plotting para ahli beberapa gempa yang terjadi beberapa puluh tahun terakhir, titik pusat gempa berada pada lajur sesar yang memotong lajur Sesar Cimandiri. Sehingga bisa disimpulkan, sesar-sesar yang memotong Sesar Cimandiri sebagai sesar aktif.

Negeri ini memang negeri moster para dewa. Tapi, ada baiknya. Banyak kandungan zat bumi yang mempuni dari mulai emas, nikel, dan gas dan bahan lainnya ada dan melimpah. Konon akibat letusan gunung merapi dahulu.

Diperbatasan Sukabumi dan Bogor ada Gunung Salak, yang peneliti sebut sebagai gunung purba. Sementara di bandung merupakan danau purba yang juga memiliki sesar aktif yakni sesar lembang.

Planet kita memang memiliki catatan suram tentang sesar, Pada 12 Juli 1976 saja, Patahan Thangsan Cina memicu Lindu yang menewaskan 240 ribu orang. Lalu ada gempa Iran pada 1990 yang menelan jiwa 40 ribu.

Sesar Disana Patahan Disini

Patahan Cimandiri yang terbentang dari Pelabuhanratu Sukabumi sampai Cianjur, dengan tinggi rata-rata 15 meter dari tanah berdasarkan penelitian terbaru dari pusat survei geologi kecepatan sesar ini, 0,6 Sampai 1,4 Milimeter pertahun.

Warga terdampak gempa membawa barang di Desa Sarampad, Cugenang, Cianjur
SEADANYA: Warga terdampak gempa membawa barang di Desa Sarampad, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, kemarin (26/11)

Bahkan sebelum Cianjur saat ini, terjadi gempa pada tahun 1844 di Cianjur, 1910 Rajamandala, dan Cimandiri 1982. Wajar saja gempa kembali terjadi. Meski saat ini masih diperbedabatkan gempa Cianjur sebetulnya bukan dari Sesar Cimandiri, tetapi dari sesar lain yang belum diberinama dan muncul kembali mengingat jalurnya bukan pada peta yang sudah ditetapkan. Tapi tetap saja harus diwaspadai.

Perhitungan berbeda dikemukakan oleh peneliti ITB Irwan Meilano, ahli permodelan gempa bumi dan deformasi pemukiman bumi ini menghitung kecepatan gerak sesar cimandiri jauh lebih besar yaitu 4 Milimater pertahun, Potensi kekuatan gempapun bisa lebih besar yakni 7,2 Magnitindo. Ini harus Jadi Perhatian.

Dirinya juga memberikan warning pada patahan baribis yang melengkung putus-putus dari barat ke selatan. Meski bukan ancaman, tapi harus hati-hati.Tercatat sesar ini pernah bergucang pada tahun 1853 Cirebon, Karawang 1862, Kuningna 1875, Sumedang 1972 dan majalengka 1991.

Pos terkait