Mulailah Menulis Atau Habis!

  • Whatsapp
Dudung Nurullah Koswara

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Dalam pertempuran Yamamah, zaman disaat Nabi Muhammad periode awal menyebarkan ajaran agama Islam, sekitar 70 orang sahabat yang hapal Al Qur’an wafat. Para penghapal Al Qur’an wafat, adalah kehilangan luar biasa dalam sejarah da’wah ajaran agama islam. Para penghapal adalah SDM luar biasa. Apalagi saat itu Al Qur’an belum dikodifikasi dalam bentuk buku terjilid.

Bacaan Lainnya

Kematian para sahabat para penghapal Al Qur’an diantara pemantik latar belakang kodifikasi Al Qur’an. Kelemahan dari Al Qur’an yang dihapal saat itu adalah ketika Si Penghapal wafat maka hilang sudah ayat suci dalam hapalan bersama orangnya. Beda dengan dibukukan. Mengapa saat itu tidak dibukukan? Karena saat itu adalah eranya menghapal bukan membukukan.

Semua zaman ada eranya, ada gayanya. Zaman Arab zahiliyah dahulu, kalau ada orang bawa buku malah dianggap bodoh atau tak terpelajar. Seolah orang yang bawa buku, adalah orang yang tak hapal. Namun orang yang tak membawa buku biasanya hapal dan lebih pintar. Beda dengan zaman sekarang. Seolah orang yang bawa-bawa buku adalah terpelajar dan orang pintar.

Nah saat ini, kita harus mengambil pelajaran dari kisah budaya Arabic jahiliyah diatas. Terutama untuk para guru dan para pengurus organisasi profesi guru bernama PGRI. PGRI harus meyadari dan ikut irama disrupsi. Saat ini geliat literasi sedang terus digenjot, terutama literasi digital. Tidak lama lagi koran, majalah, tabloid cetak dan bahkan TV akan mulai tamat riwayat. Apa yang akan bertahan cukup lama?

Tulisan dan karya tulis akan bertahan sangat lama. Setiap orang akan punya gadget, semua orang punya sejenis laptop. Suatu saat laptop hologram yang sangat kecil dan simple tetapi bisa digunakan dengan layar yang besar. Maka sejumlah tulisan, gambar dan narasi literatif akan menjadi budaya. Saat ini kelemahan di internal organisasi PGRI dan semua organisasi adalah belum mengenal tulisan atau “pra sejarah”.

Padahal bila mulai dari ranting, pengurus cabang, pengurus kokab, pengurus provinsi dan pengurus PB menulis dengan rajin, maka syiar ke PGRI an akan lebih cepat membumi. Dalam kilasan sejarah kehidupan manusia, percepatan kebudayaan itu terjadi saat sudah mulai dikenalnya tulisan. Manusia mengenal tulisan saat era nomadik ditinggalkan dan mulai masuk era menetap. Jadi bila para pengurus PGRI tidak biasa menuliskan segala giat organisasi identik dengan entitas nomadik.

Entitas nomadik adalah entitas yang berpindah-pindah. Era nomadik adalah era pra sejarah dimana nenek moyang kita terbiasa menghabiskan semua fasilitas alam. Ia hanya “mengkonsumsi” atau numpang lewat di daerah yang subur. Selanjutnya ditinggalkan kalau sudah habis periode kesuburannya. Ia kemudian berpindah lagi pada daerah lain yang lebih subur. Terus berpindah-pindah atau nomadik.

Sebagai organisasi yang semuanya sarjana, PGRI harusnya masif menulis. Mengapa? Karena tulisan dapat jadi kanal syiar dan pencitraan organisasi. Orang jago bicara, jago ceramah, jago orasi, suatu saat akan wafat juga. Ia akan habis dan tamat! Hal yang tidak akan tamat dan tidak akan habis adalah produk tulisan. Tulisan akan abadi dalam dunia maya. Bahkan akan terus didaur ulang oleh orang-orang yang membutuhkannya.

Pepatah bijak mengatakan, “Satu peluru hanya menembus satu kepala manusia”. Namun satu tulisan terbaik dari kader PGRI bisa menembus ribuan kepala anggotanya. Apalagi bila semua pengurus PGRI menulis dan mengguyur semua media sosial dengan narasi-narasi perjuangan PGRI. PGRI harus meninggalkan budaya “pra sejarah” mulai masuk budaya sejarah. PGRI akan ditinggalkan bila kolot dan jalan di tempat!

PGRI punya potensi menjadi yang terbaik. Semua daerah terpencil ada pengurus PGRI. Semua daerah terpencil pengurusnya punya gadget. Jangkauan tulisan dan syiar keorganisasian PGRI bisa menembus bukit, gunung dan ngarai. Bila semua pengurus organisasi PGRI mulai membudayakan menuliskan terkait ruh dan syiar ke PGRI an, akan sangat efektif dalam membangun kebersamaan dan militansi.

Sejumlah penulis di PGRI sudah mulai nampak eksis dalam jejaring pergerakan PGRI. Semoga terus menggeliat. Ada Jejen Musfah, Syam Zaini, Dimasmul, Om Jay, Budi Setia Baskara, Imron Rosyidi, Sampun Hadam, Syafii, Catur Nurochman Oktavian, Dudung Abdul Qodir, Caca Danuwijaya, Wijaya, Muhamad Rukhyat Zain dan sejumlah pengurus lainnya. Semoga semua tokoh yang Saya tulisakan ini terus menulis dan menebarkan syiar ke PGRI an.

Bila menjadi pengurus PGRI semuanya menulis di berbagai media, sungguh akan sangat wow! PGRI punya potensi! PGRI bisa! Setidaknya langkah sederhana adalah rekrut para guru yang punya kemampuan menulis masukan di strutur PGRI. Bila menjadi pengurus hanya nongkrong dan tukang upacara maka sangat disayangkan.

Mis komunikasi dan sejumlah anggota menanyakan, “Apa yang sudah dikerjakan PGRI?” Kok iuran terus, apa hasilnya? Pertanyaan ini tidak akan terjadi bila para pengurus masif menulis dan menyebarkannya semua hasil perjuangan PGRI secara berjenjang dan menembus mendia. Tulisan itu sakti! Prof. Dr. Moh. Surya menyebutkan bahwa tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Tidak hanya menembus jutaan perspektif pemikiran manusia. Usia kita bisa habis, tulisan abadi!

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *