NASIONALPOLITIK

Hergun : Pertumbuhan Ekonomi 4,5 sampai 5,5 persen Tak Realistis

Prognosis APBN 2021 Dan PEN di Tengah Pandemik Covid-19

JAKARTA — Optimisme Pemerintah yang tercermin dalam Postur APBN 2021 menuai banyak kritik. Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Heri Gunawan mengatakan Pertumbuhan ekonomi 4,5 persen hingga 5,5 persen dianggap tidak realistis di saat belum ada perkembangan positif atas penanganan Covid-19.

Apalagi pada kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi yang cukup dalam, tidak tertutup kemungkinan konstraksi tersebut akan berlanjut hingga kuartal III-2020.

” Angka tersebut jauh merosot dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang tumbuh 2,97 persen (yoy) maupun dibandingkan kuartal II 2019 yang mampu tumbuh 5,05 persen (yoy). Minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini masih akan berlanjut pada kuartal III 2020. Bila ekonomi pada kuartal III kembali mencatatkan pertumbuhan negatif. Kondisi ini semakin menyulitkan Indonesia terlepas dari jerat resesi. Fenomena ini merupakan yang pertama kalinya sejak krisis tahun 1998,” ujar Politisi asal Sukabumi .

Pria yang akrab disapa Hergun ini menjelaskan Capaian produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2020 yang minus hingga 5,32 persen mengagetkan banyak pihak. Kontraksi ini lebih dalam dari konsensus pasar maupun ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia di kisaran 4,3 persen hingga 4,8 persen.

“Total PDB pada kuartal II berdasarkan atas harga berlaku mencapai Rp3.687,7 triliun. Sementara berdasarkan harga dasar konstan dengan tahun dasar 2010 mencapai Rp2.589,6 triliun,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah dan DPR sudah menyepakati postur makro fiskal dan asumsi makro yang akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun RUU APBN 2021 beserta nota keuangannya.

Dalam Postur APBN 2021 ditargetkan penerimaan negara mencapai 9,90 persen hingga 11 persen terhadap PDB. Belanja negara sebesar 13,11 persen hingga 15,17 persen. Dengan begitu, maka defisit APBN 2021 mencapai 3,21 persen hingga 4,17 persen.

“Sehingga untuk menutup defisit, maka rasio utang ditarget antara 36,67 persen hingga 47,97 persen terhadap PDB,” pungkasnya.

Perlu diketahui, saat ini sudah ada 9 negara yang dinyatakan masuk resesi. Yaitu, Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, dan 2 negara di ASEAN yakni Singapura dan Filipina. Oleh karena itu, capaian ekonomi pada kuartal III-2020 menjadi sangat penting. Tidak hanya sebagai penentu masuk tidaknya Indonesia dalam fase resesi. Tetapi juga sangat mempengaruhi prognosis APBN 2021.

1. Penanganan Covid-19

Kian hari kasus Positif Covid-19 kian bertambah. Data per 11 Agustus 2020 menunjukkan pasien positif di Indonesia mencapai 128.776 kasus. Sementara korban meninggal dunia mencapai 5.824 orang. Meluasnya Covid-19 telah berdampak buruk terhadap perekonomian. Kebijakan PSBB ditengarai menjadi penyebab pertumbuhan yang negatif.

Setidaknya itulah klaim dari Menteri Keuangan Sri Mulyani merespon pertumbuhan negatif yang diumumkan oleh BPS. Penanganan Covid-19 harus cepat, tepat dan sinkron, juga harus lebih cermat dalam belanja alat medis untuk kebutuhan penanggulangan Covid-19 yang didatangkan dari negara lain. Belanja akan memperlemah devisa, melemahkan rupiah, dan turut menggerus pendapatan ekspor. Efeknya jika terus berkepanjangan, akan semakin memparah kondisi perekonomian kita.

Waktu recovery-nya pun akan semakin panjang, karenanya penanganan Covid-19 ini perlu segera diperbaiki, karena akan memunculkan risiko social unrest dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang pastinya akan bertambah tinggi. Disamping mempercepat realisasi belanja kementerian dan lembaga maupun insentif yang telah dianggarkan untuk masyarakat. Produksi vaksin corona dari hasil riset di dalam negeri harus segera direalisasikan tahun depan untuk mengembalikan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Untuk memulihkan semua sektor harus dimulai dulu dari produksi vaksin corona. Kalau tidak, negara ini akan terus terpuruk berkepanjangan hidup bersama virus corona. Bio Farma sudah diberi mandat memproduksi vaksin sebanyak 250 juta, tahun depan.

2. Postur APBN 2021

Pemerintah dan DPR sudah menyepakati postur makro fiskal dan asumsi makro yang akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun RUU APBN 2021 beserta nota keuangannya. Dalam Postur APBN 2021 ditargetkan penerimaan negara mencapai 9,90 persen hingga 11 persen terhadap PDB. Belanja negara sebesar 13,11 persen hingga 15,17 persen.

Dengan begitu, maka defisit APBN 2021 mencapai 3,21 persen hingga 4,17 persen. Sehingga untuk menutup defisit, maka rasio utang ditarget antara 36,67 persen hingga 47,97 persen terhadap PDB. Optimisme yang tercermin dalam Postur APBN 2021 menuai banyak kritik. Pertumbuhan ekonomi 4,5 persen hingga 5,5 persen dianggap tidak realistis di saat belum ada perkembangan positif atas penanganan Covid-19.

Apalagi pada kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi yang cukup dalam, tidak tertutup kemungkinan konstraksi tersebut akan berlanjut hingga kuartal III-2020. Capaian produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2020 yang minus hingga 5,32 persen mengagetkan banyak pihak. Kontraksi ini lebih dalam dari konsensus pasar maupun ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia di kisaran 4,3 persen hingga 4,8 persen. Total PDB pada kuartal II berdasarkan atas harga berlaku mencapai Rp 3.687,7 triliun.

1 2 3 4 5Laman berikutnya
Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button