Dia dikawal polisi dengan senjata AK-47 di pundak. Selama 6 hari mereka bergantian mengawal Stephen sampai sejauh 1.200 km. Selama mendapat pengawalan, Stephen sama sekali tak diizinkan berbicara dengan orang asing. Bahkan untuk sekadar beli minum saat istirahat saja, dia harus dikawal polisi-polisi tersebut.
Dari Pakistan, perjalanan Stephen berlanjut menuju Iran, Turki, hingga Yunani. Sebenarnya, setelah Yunani, Stephen juga berencana melintasi Albania, Montenegro, Bosnia, Slovakia, dan Kroasia. Tapi, kedutaan besar Indonesia di Athena, ibu kota Yunani, tak menyarankan Stephen mewujudkan rencananya.
’’Bosnia dan Kroasia sebenarnya kata mereka bagus. Tapi, untuk menuju ke sana, harus melalui Albania yang tingkat kriminalitasnya sangat tinggi. Saat itu sedang banyak terjadi kasus mutilasi,’’ ujar Stephen.
Dengan batalnya rencana ke Kroasia, Stephen pun langsung mengarahkan perjalanan ke Italia melalui jalur laut selama lebih dari 12 jam. Setiba di Italia, Stephen langsung berkendara menuju ibu kota Roma. Dia kembali menemui Dubes Indonesia di Roma Esti Andayani. Dan, mendapat jamuan yang istimewa.
Sebab, sang Dubes telah mengagendakan untuk berkonvoi bersama Stephen berkeliling Kota Roma. Sepuluh vespa mengawal Stephen berkeliling Kota Roma sampai Vatikan. ’’Itu dilakukan juga dalam rangka menyambut perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. WNI di sana juga menggelar lomba-lomba 17 Agustusan layaknya di Indonesia,’’ katanya.
Dari Italia, Stephen memacu motornya melewati Prancis, lalu Spanyol. Kemudian berlanjut menyusuri jalanan desa masuk ke Swiss. ’’Saya paling terkesan dengan Swiss karena dari semua negara yang dilewati, pemandangan negara itu yang paling indah,’’ ujarnya.



