’’Semua bilang gila, tapi saya bertekad bahwa misi ini harus direalisasikan. Apalagi, saya sudah mengusung misi kibar Merah Putih. Bangga rasanya membayangkan Merah Putih melintas di jalanan negara-negara yang saya lewati,’’ ujar pria kelahiran 23 September 1964 itu.
Stephen langsung menyusun strategi. Untuk mengejar finis tepat pada Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2018 di London. Peta dunia dia buka. Satu demi satu negara dia pelajari rutenya. Dia sempat gentar juga saat mendapati bahwa rute menuju London harus melewati beberapa gurun dan pegunungan.
Juga, wilayah-wilayah rawan konflik yang belum jelas keamanannya. ’’Selama ini jejak rute yang paling umum ditempuh rider hanya sampai India. Selanjutnya, untuk masuk ke Pakistan atau Iran, tidak banyak jejak yang bisa dipelajari,’’ ungkap Stephen.
Akhirnya, jejak perjalanan para rider dunia pun menjadi referensi Stephen. Dia mengaku saat itu tak ragu untuk berkirim e-mail kepada rider internasional yang pernah menempuh perjalanan di rute yang dia rencanakan.
Selain itu, dia menghubungi beberapa rider profesional Indonesia yang pernah melakukan tur keliling dunia. Misalnya, Jeffrey Polnaja dan Mario Iroth. ’’Rutenya memang beda dengan yang pernah mereka ambil. Tapi, setidaknya saya ingin mendengar pengalaman mereka menghadapi medan touring di negara lain,’’ bebernya.
Di samping mempelajari rute, secara paralel Stephen juga mengurus berkas seperti visa dan perizinan. Dan, mengurus visa-visa tersebut tak semulus yang dibayangkan. Stephen harus mendapati kenyataan bahwa antrean mengurus visa bisa sampai tiga bulan.



