Padahal, untuk mengejar finis 17 Agustus, dia harus berangkat dua bulan lagi. Ada lima negara yang membutuhkan visa sebagai persyaratan. Yaitu, India, Iran, Pakistan, Schengen (Uni Eropa), dan Inggris. ’’Untungnya, saya sudah minta izin ke Kemenlu,’’ katanya. Jadilah Kemenlu bisa membantu mengeluarkan surat rekomendasi. ’’Visa pun jadi cepat keluar,’’ lanjutnya.
Tiga bulan persiapan, perhitungan rute sudah cukup matang, dokumen perjalanan sudah lengkap di kantong. Stephen pun memulai perjalanannya pada 25 Maret 2018. Start dari kantor Kementerian Perhubungan, dia langsung memacu motornya ke Sumatera.
Dia mengawali perjalanan dengan mengapalkan motornya dari Pelabuhan Tanjung Balai, Sumatera Utara, menuju Pelabuhan Klang di Malaysia. Baru setelah dari Malaysia, secara berurutan Stephen berkendara melintasi Thailand, Myanmar, lalu masuk ke India.
Saat melintasi India, dia memilih jalur pegunungan Nepal. Setiba di perkotaan, Stephen menyempatkan diri mengunjungi Kedubes Indonesia di New Delhi. Dia mendapat sambutan luar biasa oleh seluruh staf dan ditawari untuk menginap di kedubes. Namun, Stephen tak mengambil tawaran tersebut. Sebab, dia sudah membuat janji untuk berjumpa dengan komunitas-komunitas motor di India.
Setelah dari India, Stephen melanjutkan perjalanan ke Pakistan. Setiap hari dia melahap rute sekitar 600 kilometer. Dia berkendara hanya saat pagi sampai sore.



