“Namun, untuk saat ini baru tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang melaporkan kepada BPBD Kabupaten Sukabumi untuk meminta bantuan pendisitribusian air bersih.
Seperti di wilayah Desa Titsan, Kecamatan Sukalarang dan Kecamatan Parungkuda serta wilayah Kecamatan Ciracap,” kata Anita kepada Radar Sukabumi.
Dalam mengantisipasi dan meminimalisir resiko bencana di musim kemarau, BPBD Kabupaten Sukabumi telah melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Kabuapten Sukabumi dengan melibatkan beberapa intansi lainnya, seperti Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi, Dinas Pertanian hingga Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Jaya Mandiri (PDAM TJM).
“Kalau upaya saat ini, BPBD terkait krisis air bersih itu, kita bekerjasama dengan PDAM untuk membantu ke lokasi yang mengalami kekeringan dengan diperbatukannya tang air untuk memasok.
Namun kita keterbatasan kendaraanya juga yang tidak banyak. Iya, yang kita lakukan intinya kita bekerjasama dengan PDAM. Karena untuk airnya itu berada di PDAM. Sementara untuk armada dan orang-orangnya berada di kita,” paparnya.
Selema musim kemarau, ujar Anita, baru dua kecamatan yang meminta bantuan kepada BPBD untuk pendistribusian air bersih. Yakni, wilayah Kecamatan Sukalarang dan Kecamatan Ciracap.
“Kami juga hampir dua hari mengirim bantuan air ke sana. Jadi kalau untuk laporan ke kita dan didata baru ada dua kecamatan saja yang mengalami krisis air itu,” imbuhnya.
Dirinya mengaku sampai sejauh ini belum ada laporan yang sporadis dari warga maupun pemerintah desa setempat kepada BPBD Kabupaten Sukabumi terkait dampak dari kekeringan itu.
Meskipun sampai saat ini ada beberapa kecamatan yang mengalami krisis air bersih, tetapi masih bisa diatasi dengan program gotong royong masyarakat setempat.
“Kecuali memang yang sudah benar-benar perlu dibantu dan ada permintaan, maka kita bantu kirim air kesana.






