JAWA BARAT

Disrupsi Digital, Media Dituntut Adaptif dan Berkualitas

×

Disrupsi Digital, Media Dituntut Adaptif dan Berkualitas

Sebarkan artikel ini
Domu D. Ambarita, Penanggung Jawab Tribunnews.com sekaligus Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, saat menjadi narasumber dalam Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup di Bandung. Ia menegaskan akurasi dan adaptasi menjadi kunci bertahannya media di era digital. (FT: Diwan Sapta Nurmawan/Radar Bandung)

BANDUNG – Akurasi dan adaptasi menjadi kunci bertahannya industri media di tengah penurunan page views dan perubahan perilaku pembaca. Disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), fenomena zero click, hingga bergesernya pola konsumsi informasi masyarakat kini menjadi tantangan terbesar bagi media nasional.

Kondisi ini menuntut perusahaan pers meninggalkan pola lama yang hanya mengutamakan kecepatan, dan beralih pada jurnalisme yang lebih akurat, berkualitas, serta mampu beradaptasi dengan teknologi digital.

Penanggung Jawab Tribunnews.com sekaligus Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, Domu D. Ambarita, menegaskan perubahan lanskap digital tidak hanya mengubah cara masyarakat mengakses informasi, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan bisnis media. Salah satu persoalan yang semakin sering dihadapi redaksi adalah meningkatnya permintaan take down berita, umumnya dipicu kepentingan penguasa, kepentingan bisnis internal, atau kesalahan redaksi yang memicu tekanan publik.

“Tantangan terbesar ruang redaksi saat ini bukan hanya kecepatan, tetapi bagaimana menjaga akurasi di tengah derasnya arus informasi digital. Kesalahan kecil bisa berujung pada permintaan take down, ajudikasi, bahkan sengketa di Dewan Pers,” ujar Domu saat menjadi narasumber dalam Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup di Vue Palace, Kota Bandung, Sabtu (18/7/2026).

Domu menjelaskan, Tribun Network melakukan perubahan besar setelah mengevaluasi dampak algoritma Google yang dulu lebih mengutamakan kecepatan publikasi dibanding kualitas informasi. Sejak portal regional dikembangkan tahun 2014, jurnalis ditargetkan menulis 15 berita per hari sehingga verifikasi kerap terabaikan. Kondisi ini mendorong lahirnya Deklarasi Bogor 2023, kebijakan internal yang melarang wartawan mengutip langsung informasi dari media sosial tanpa verifikasi.

“Media sosial hanya menjadi titik awal pencarian informasi. Sebelum dipublikasikan, seluruh data harus dikonfirmasi agar produk jurnalistik tetap memenuhi kaidah kode etik,” tegasnya.

Perubahan kebijakan ini terbukti efektif. Jika pada 2023 hampir setiap bulan Tribun menghadapi klarifikasi di Dewan Pers, sepanjang 2026 kasus yang ditangani hanya satu, terkait klaim hak cipta foto dari seorang fotografer Inggris.

Selain etika, tekanan bisnis juga semakin berat. Penurunan page views terjadi hampir di seluruh media digital setelah perubahan algoritma mesin pencari dan meningkatnya penggunaan AI. Domu mencontohkan, trafik Tribun Network yang pernah mencapai 33 juta per bulan kini hanya bertahan 50–60 persen dari capaian puncak. Kondisi serupa dialami media lain yang terpaksa melakukan efisiensi, pengurangan karyawan, hingga menghentikan penerbitan cetak.

“Sekarang tantangannya bukan hanya AI, tetapi juga zero click. Orang mendapatkan jawaban langsung dari mesin pencari tanpa membuka website media. Karena itu kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada page views,” jelasnya.