SUKABUMI – Yani Warliani, seorang perempuan berusia 61 tahun, telah membuktikan bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk memulai usaha baru. Sejak 2016, ia memulai bisnis decoupage, sebuah seni menghias objek dengan menempelkan kertas atau kain bermotif.
Berawal dari hobinya membuat kerajinan tangan untuk aksesoris perempuan, Yani berhasil mengubah kegemarannya tersebut menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya, terutama setelah suaminya pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Sukabumi.
Ketertarikan Yani pada decoupage dimulai dari kecintaannya terhadap kerajinan tangan. “Awalnya, saya hanya membuat kerajinan untuk keperluan pribadi, namun kemudian terpikir untuk mengembangkan hobi ini menjadi usaha yang dapat membantu ekonomi keluarga,” ungkap Yani. Keputusan untuk memulai usaha decoupage juga didorong oleh keinginan untuk tetap produktif setelah suaminya pensiun.
Untuk mengasah keterampilannya, Yani belajar decoupage di Bandung bersama teman-temannya. Ia memulai dengan membuat tas rajut dari pandan yang kemudian dihias dengan teknik decoupage. Karya-karyanya mulai merambah ke berbagai produk lainnya seperti hiasan pot bunga, botol minum, tempat tisu, tempat air mineral, hingga hiasan pajangan.
Usaha Yani sempat terhenti akibat pandemi COVID-19. Namun, pandemi justru mendorongnya untuk berpikir kreatif. “Saat pandemi, saya mencoba membuat masker dengan hiasan decoupage, dan alhamdulillah, ternyata laku keras,” kata Yani. Masker-masker hasil karyanya mendapat sambutan positif dari pasar, membantu Yani untuk tetap bertahan di masa sulit.
Yani memasarkan produk-produknya melalui Instagram dan WhatsApp, yang membantunya menjangkau pelanggan hingga ke luar Jawa, seperti Banten, NTB, dan Bali. Produk yang paling banyak diminati adalah tas, khususnya tas rajut yang dihias dengan decoupage.
Untuk meningkatkan kualitas dan keunikan produknya, Yani juga berkolaborasi dengan pengrajin lokal, seperti Cindy Craft yang terkenal dengan rajutan, dan batik Lokatmala.
“Awalnya saya berkolaborasi dengan pengrajin rajut, tapi kemudian saya belajar sendiri dan akhirnya membuat hiasan rajut sendiri. Namun, untuk batik, saya tetap berkolaborasi karena ingin memberikan sentuhan khas Indonesia dan Sukabumi pada produk decoupage saya,” jelas Yani.






