UNIVERSITAS NUSA PUTRA

Pondok Pesantren Mahasiswa Nusa Putra

Dari Mahasiswa Asing Hingga Misi Menjadi Rujukan Perkembangan Islam di Nusantara

Tahun 2018 Ponpes Mahasiswa Nusa Putra memberikan beasiswa penuh kepada 100 mahasiswa NPU

BERAWAL dari tekad melahirkan Generasi Nusa Putra Brilian (Genusian) yang mampu bersaing di kancah global, selain memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan skill mumpuni, mahasaiswa Universitas Nusa Putra (NPU) juga dituntut memiliki akhlak baik sebagai modal utama dalam segala hal.

Oleh karena itu, Pondok Pesantren (Ponpes) Mahasiswa Nusa Putra memiliki visi menjadi lembaga yang mampu membentuk pribadi muslim yang memiliki prestasi akademik tinggi dan berakhlak mulia.

Selain itu, dituturkan Direktur Ponpes Mahasiswa Nusa Putra Paikun, ponpes yang dibinanya tersebut memiliki misi untuk mengaplikasikan Trilogi Nusa Putra yaitu, cinta kasih ilahiyah, cinta kasih orang tua, dan cinta kasih kepada sesama.

“Ikhlas dalam beramal dan selalu jujur dalam bersikap, serta disiplin dan sederhana dalam menjalani hidup,” urai Paikun. “Selain itu, santri juga diharuskan senantiasa bersikap santun dalam bergaul, serta mandiri dalam berusaha,” imbuhnya kepada
Radar Sukabumi beberapa waktu lalu.

Visi dan misi tersebut, jelas Paikun lebih jauh, bertujuan membina santri agar memiliki pemahaman Islam yang baik dan benar, kekuatan ruhiyah baik, kebeningan qalbu, serta kemandirian dan mampu bertanggungjawab terhadap setiap tindakan yang dilakukan. “Santri juga harus memiliki jiwa kepemimpinan dan mampu mengimplementasikan nilainilai Islam dalam kehidupan agar memiliki kesiapan menalani hidup.”

Untuk mencapai tujuan serta visi misinya, ponpes yang beralamat di Kampung Cibatu RT.24/ RW.06 Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu, memberikan program beasiswa penuh bagi mahasiswa NPU, agar meraih iptek sesuai bidang yang diminati. Sedangkan di ponpes, para santri dibina dengan metode pengajaran, kepengasuhan, kesantrian, pengabdian, dan kewirausahaan.

“Sistem pendidikan di pesantren juga bertujuan mengembangkan potensi fitrah manusia, atau fikriyah, ruhaniyah, dan jasmaniah. Di Pesantren tiga potensi fitrah tersebut diasah melalui tiga bidang pendidikan yakni, pengajaran, kepengasuhan, dan kesantrian yang dilakukan secara bersama- sama,” pungkas Paikun.

PONPES GRATIS DENGAN FASILITAS SEPEDA,MESIN CUCI, HINGGA JARINGAN INTERNET

BERMULA dari keinginan agar mahasiswa yang tengah menimba ilmu di STT Nusa Putra juga mendapatkan ilmu agama yang sejalan dengan visi dan misi perguruan tinggi, serta Trilogi Nusa Putra, pada tahun 2008 pihak lembaga mencari tempat representatif untuk dijadikan ponpes mahasiswa yang dapat menampung santri putra maupun putri.

“Berkat kerjasama dengan Yayasan Darussalam Pondok Pesantren Matahul Anwar yang dikelola KH R. Dadang Hidayat (alm), kami mendapatkan lokasi di Jalan Ciraden No. 356, Kecamatan Cisaat, di untuk didirikan pondok pesantren,” beber Paikun. “Kami mulai menerima santri pada tahun 2009, di mana pada saat itu, Pesantren Matahul Anwar sudah tidak lagi menerima santri,” tambahnya.

Pada awal berdiri, ponpes gratis tesebut menerima 20 santri putra putri. Pada 2016, seiring pemindahan kampus NPU ke Cibolang, maka agar dekat dengan lokasi kampus, ponpes pun dipindahkan ke Kampung Cibatu RT 24/06, Desa Cibatu, kecamatan yang sama.

Dan kini, setiap tahunnya, Ponpes Mahasiswa Universitas Nusa Putra itu, menerima sedikitnya 35 santri sekaligus mahasiswa penerima beasiswa yang wajib tinggal di ponpes tersebut.

“Saat ini, mahasiswa yang tinggal di pondok sebanyak 120 santri putra-putri. Sejak berdiri, pondok pesantren ini telah menghasilkan ratusan santri mahasiswa yang kini telah bekerja di dalam dan luar negeri,” ungkap Paikun lebih jauh.

Tidak sampai di situ saja, berbagai upaya pun terus dilakukan oleh pihak NPU, agar mahasiswa santri merasa nyaman, seperti di antaranya, dari mulai penyediaan fasilitas sepeda gratis, hingga mesin cuci, internet gratis, dan lainya.

Bahkan, untuk menambah kenyamanan, kini sedang dikembangkan gedung ponpes baru yang ke depannya diproyeksikan dapat menampung lebih dari 600 santri.

“Rencana ke depan pondok pesantren ini juga akan menerima santri-santri dari luar negeri yang akan belajar di Universitas Nusa Putra. Hal ini sesuai visi NPU yang mematok target menjadi world class university,” yakin Paikun.

Harapan dan targetnya, beber pria yang juga dosen pada Program Studi Teknik Sipil NPU itu, agar ponpes tersebut ke depannya dapat menjadi rujukan perkembangan Islam di Nusantara yang toleran dan rahmatan lil alamin.

PAIKUN Direktur Pondok Pesantren Mahasiswa Nusa Putra.

VISI

Menjadi lembaga sebagai pembentuk pribadi muslim yang memiliki ahlak mulia, prestasi ilmiah tinggi dan kesiapan hidup.

MISI

  1.  Mengaplikasikan Trilogi Nusa Putra yaitu Cinta kasih ilahiyah, Cinta kasih orang tua, Cinta kasih sesama.
  2.  Ikhlas dalam beramal.
  3.  Jujur dalam bersikap.
  4.  Disiplin dan sederhana dalam hidup.
  5. Santun dalam bergaul.
  6. Mandiri dalam berusaha.

Dari Kitab Kuning, Sahabat Alam, Hingga Menjadi Motor Penggerak di Masyarakat

Seberapa besar dan mampu keberadaan sebuah lembaga keagamaan memberi pengaruh baik terhadap lingkungan sekitar, setidaknya dapat dilihat dari kontribusi dan perannya dalam aksi-aksi sosial kemasyarakatan.

Di Ponpes Mahasiswa Nusa Putra, semua mahasiswa santri, selain wajib mempelajari ilmu fiqih, tasawuf, dan tafsir AlQuran, juga wajib belajar bahasa Arab dan Inggris, filsafat sosial, filsafat ilmu, kepemimpinan, manajemen organisasi, olah raga, hingga aktif dalam pelatihan resimen mahasiswa (menwa).

Seperti diakui Ketua Organisasi Santri Mahasiswa Nusa Putra (OSN) Dede Kurtubi, sebelumnya ia hanya bisa membaca AlQuran saja. Namun demikian, ia ragu akan kesempurnaan tajwidz-nya, seperti idgham, ikhfa, serta makhorijul hurufnya.

“Alhamdulillah, setelah memelajarinya di pesantren ini, sekarang bukan cuma lancar membaca AlQuran, saya dan teman-teman juga bisa mempelajari kitab kuning. Saya sangat bersyukur mendapat beasiswa dari Universitas Nusa Putra, selain status mahasiswa, kami juga santri,” ungkap Dede.

Lebih jauh, kepada Radar Sukabumi, Dede mengaku kini ia lebih percaya diri untuk melakukan kegiatan keagamaan bersama masyarakat, baik pada peringatan hari-hari besar Islam, seperti pada saat peringatan Maulid dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, dan hari besar lainnya. “Bahkan, saat peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan saja, masyarakat di sekitar pondok mempercayai kami sebagai motor kegiatan.”

PROGRAM SUKABUMI HIJAU

Program Sukabumi Hijau dan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain mempelajari ilmu keagamaan, para mahasiswa santri Ponpes Nusa Putra juga aktif dalam berbagai aksi pelestarian lingkungan, seperti melalui Program Sukabumi Hijau. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan dilakukannya penanaman 1000 pohon di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi.

Dede mengaku sangat terkesan dan merasa diri lebih berguna ketika dirinya terlibat langsung dalam Program Sukabumi Hijau yang diadakan oleh Ponpes Mahasiswa Nusa Putra tersebut.

“Saat itu kami melakukan aksi penanaman 1000 pohon di area dekat pantai selatan, tepatnya di Desa Pangumbahan kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi. Kami menanam bermacam-macam jenis pohon di sepanjang satu kilometer sempadan pantai. Bahkan salah satu mahasiswa asing juga ikut bergabung bersama kami,” terangnya lagi.

Selain itu, ada juga kegiatan tadabbur alam. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi santri mahasiswa jurusan teknik sipil. Karena dengan kegiatan tersebut, mereka dapat melihat dan mempelajari bangunan bangunan zaman dulu.

YA MAHASISWA, YA SANTRI JUGA…

IRFAN SOFIAN
Pengasuh Ponpes Mahasiswa Nusa Putra.

Di belakang santri Pondok Pesantren Mahasiswa Nusa Putra yang memiliki kesalehan ritual dan sosial yang baik, terdapat sosok pengasuh yang hebat.
Pengasuh ponpes tersebut adalah sosok Irfan Sofian, atau karib disapa Ustadz
Irfan.

Selain ditunjang oleh berbagai kegiatan keilmuan seperti seminar dan diskusi kelompok yang diselenggarakan oleh Organisasi Santri Nusa Putra (OSN), serta kelompok-kelompok kajian yang ada, proses pembelajaran santri yang utama dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar keagamaan di pondok pesantren.

“Melalui proses ini, diharapkan akan terbangun wawasan yang luas, cara berfikir logis, dan pemahaman utuh terhadap khasanah keilmuan Islam, termasuk bidang studi yang ditekuni di perguruan tinggi,” kepada Radar Sukabumi, Ustadz Irfan bertutur.

Dijelaskan lebih jauh, selain pengajaran sebagai proses pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas oleh santri dan ustadz, dipelajari juga mengenai kepengasuhan bidang pendidikan yang lebih menekankan pada pembentukan mental dan rasa melalui kegiatan-kegiatan ubudiyah, seperti shalat berjamaah, dzikir, istighotsah, dan puasa wajib dan sunnah.

“Selain itu, juga melalui pendampingan. Sehingga dalam diri santri tumbuh nilai kemanusiaan yang dilandasi dengan nilai keislaman.”

Terakhir, kesantrian, merupakan bidang pendidikan di pesantren yang lebih banyak menekankan pada sisi kreativitas, inisiatif, kepekaan, keberanian, dan kecakapan santri dalam bidang-bidang yang diminati.

“Dalam proses ini, seluruh kegiatan direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri OSN dan Ketua Santri. Bidang ini meliputi berbagai kegiatan, seperti seni, olah raga, pengabdian masyarakat, kewirausahaan, lingkungan berbahasa, diskusi-diskusi, serta kegiatan lainnya yang menopang,” pungkas Ustadz Irfan.

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close