Palu Wahyu

  • Whatsapp
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

OLEH: DAHLAN ISKAN

REKAMAN podcast di Karni Ilyas Club baru saja selesai. Kemarin sore. Untuk tayang nanti malam. Saya memang lagi di Jakarta. Pagi-pagi saya ke klinik Hayandra-nya Si Cantik Rambut Keriting Karina. Untuk urusan pribadi: mungkinkah D-Dimer saya yang masih tinggi itu diatasi dengan PRP.

Bacaan Lainnya

Setelah dua bulan tidak periksa D-Dimer saya penasaran: naik atau turun. Dokter saya yang di Surabaya maupun yang di Singapura memang menyarankan agar saya tidak usah ke lab lagi.

Biar saja D-Dimer saya tinggi. Jangan dirisaukan. Toh tidak ada keluhan. Mungkin D-Dimer saya memang harus tinggi. Itu akibat pembuluh darah aorta saya dipasangi ring. Banyak sekali. Sampai 760 buah, sepanjang 50 cm.

Tapi penasaran saya tidak bisa reda. Dua bulan lalu, D-Dimer saya 1.720. Tinggi sekali. Harusnya hanya boleh paling tinggi 500. Di pemeriksaan minggu lalu ternyata lebih tinggi lagi, 2.000.

Saya coba saja PRP. Tidak berhasil juga tidak apa-apa. Yang penting suntikan PRP dari darah saya sendiri itu aman.

Dari klinik Karina saya makan siang dengan Menko Luhut Binsar Pandjaitan. Di kantornya. Ada ikan fillet goreng tepung rica, ada sambal goreng tempe, ada sop, dan mie goreng. Prasmanan. Empat orang staf ahli menko ada di meja makan besar itu. Di situ ada juga buah kiwi dan durian.

Pak Menko menutup makannya dengan durian kupas yang disajikan di atas piring. Saya juga.

Dari Kemenko, saya ke Karni Ilyas Club di Hotel JS Luwansa, Kuningan. Sudah lama Karni minta bisa podcast dengan saya. Ia orang yang saya hormati. Terutama dalam hal memegang prinsip-prinsip jurnalisme independen. Saya pernah menulis khusus tentang beliau.

Dari klinik Karina saya makan siang dengan Menko Luhut Binsar Pandjaitan. Di kantornya. Ada ikan fillet goreng tepung rica, ada sambal goreng tempe, ada sop, dan mie goreng. Prasmanan. Empat orang staf ahli menko ada di meja makan besar itu. Di situ ada juga buah kiwi dan durian.

Pak Menko menutup makannya dengan durian kupas yang disajikan di atas piring. Saya juga.

Dari Kemenko, saya ke Karni Ilyas Club di Hotel JS Luwansa, Kuningan. Sudah lama Karni minta bisa podcast dengan saya. Ia orang yang saya hormati. Terutama dalam hal memegang prinsip-prinsip jurnalisme independen. Saya pernah menulis khusus tentang beliau.

Selesai rekaman itu saya lega: anak saya gabung di Luwansa. Bersama beberapa temannya yang belum saya kenal. Berarti saya bisa nunut pulang ke SCBD dengan mobilnya.

“Kenalkan, ini teman saya yang masih muda tapi sudah sukses. Namanya Wahyu,” ujar Azrul Ananda, anak saya itu.

Wahyu jauh lebih muda dari anak saya. Umurnya baru 32 tahun. Tapi penampilannya langsung menarik perhatian saya. Terutama jam tangan yang ia pakai itu: RM. Tipe-nya yang RM 35-01 Rafael Nadal.

Itu bukan jam tangan sembarangan. Andaikata pun Anda punya banyak uang belum tentu bisa membelinya. Tidak ada lagi toko yang menjual. Pun di Singapura. Jam tangan itu dibuat terbatas di Swiss sana. Konon hanya 100 buah.

Maka kian tahun harganya naik terus. “Waktu saya beli masih Rp 3 miliar. Sekarang sudah ada yang menawar Rp 6 miliar,” katanya.

Nama lengkap Wahyu sangat panjang: Dinar Wahyu Saptian Dyfrig. Tinggal di Pondok Indah Jakarta.

Saya amati di mana letak mahalnya jam tangan itu: saya tidak mengerti. Saya memang tidak punya jam tangan. Pernah punya. Dulu. Lama sekali. Beberapa kali. Tapi selalu pindah tangan.

Lalu saya lihat jaket yang dikenakan Wahyu: Rp 50 jutaan. Merek LV. Saya lirik sepatunya. Sesapuan. Juga LV. Entah berapa harganya.

Saya tidak perlu menebak kaus hitamnya itu. Ada tulisan LV besar di kaus itu.

Hanya tas kecilnya yang bukan LV: Dior. Demikian juga kacamatanya: Dior.

Terjadilah perundingan kecil di lobi Luwansa itu: biar Wahyu saja yang mengantar saya pulang ke SCBD. Anak saya akan langsung ke Surabaya naik mobil.

Saya pun menuju mobil Wahyu: Mercy terbaru dua pintu. Ia juga punya Ferrari di rumahnya.

Di mobil itu saya ngobrol cepat: siapa dia, apa latar belakangnya, jenis apa bisnisnya. Kurang dari 15 menit mobil sudah akan tiba di rumah saya. Hanya yang penting-penting saja yang harus saya tanyakan.

Sejak kelas 5 SD Wahyu sudah mulai jualan: kartu telepon. Yang dimasuk-masukkan ke dalam album itu.

Waktu SMP ia jualan MP3. Yang dilapisi karya lukisnya. Laris. Wahyu pandai menggambar.

Di SMAN 21 Surabaya, Wahyu bergabung dengan grup band. “Ngamen” dari kafe ke lobi hotel. Ia jadi vokalis. Lagu apa saja. Yang masuk top 40.

Dari situ Wahyu punya banyak kenalan. Ia pun bisnis EO. Termasuk menyewakan sound system yang ia sewa dari orang lain. Berkembang. Ia mulai punya tabungan Rp 40 juta.

Wahyu pun berani ambil proyek EO yang lebih besar: rugi Rp 200 juta. “Tabungan habis, masih pula punya utang,” katanya.

Setamat SMA, Wahyu kuliah di ITS Surabaya. Di jurusan desain interior. Bakat menggambarnya ia pupuk di bangku kuliah. Sambil terus menekuni EO dan tarik suara. Dan melunasi utang.

“Saya bangkrut lagi. Habis. Saya sampai hanya jadi karyawan di perusahaan kontraktor,” katanya. “Saya tertipu lagi,” tambahnya.

Tapi Wahyu masih punya kekayaan jaringan. Itulah yang membuat Wahyu bangkit. Ia bergabung dengan beberapa anak muda: membangun perusahaan digital development. Ia menjadi leader di situ.

Wahyu juga membangun rumah tangga: mengawini gadis Malang lulusan SMK jurusan boga. Ketika anak kedua lahir Wahyu merasa menemukan titik balik dalam hidupnya: software yang ia bangun mendapat pasar di luar negeri. Software analisis keuangan otomatis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *