Gereja itu sendiri bukan seperti gereja. Di jepitan bangunan dua lantai. Seperti bangunan sementara. Satu lantai. Jalan di depannya sempit. Cukup selembar mobil. Waktu mobil saya berhenti, mobil di belakangnya ikut berhenti. Saya turun dari mobil. Tidak segera melihat ada identitas gereja. Yang terlihat mencolok justru bendera besar Turki. Bulan bintang melintang di emper gereja.
Identitas gereja tertulis kecil sekali: DIRIKESI KILISESI DERNEGI MERKEZI. Di gantung di sebuah gantungan besi kecil. Di sini pun kebaktian baru saja selesai. Beberapa orang sudah keluar pintu. Tinggal 7 atau 8 orang di dalam. Saya pun masuk. Bicara-bicara dengan beberapa orang. Mengaku asli Turki. Tentang kebaktian hari itu.
Lalu seorang wanita datang. Berwajah Tionghoa. Menyapa saya dalam bahasa Indonesia. “Dari Malaysia?” tanyanya. “Indonesia,” jawab saya. “Oh… Saya dari Malaysia,” katanya.
Dia mengabdi di gereja itu. Sejak sebulan lalu. Belum tahu akan sampai kapan. Di dalam ruang ini tidak seperti gereja. Hanya seperti ruang pertemuan umum. Bukan main gereja kecil ini. Pengaruhnya begitu besar.
(dahlan iskan)



