RADARSUKABUMI.com – Dari dunia Jalaluddin Rumi saya ke dunia Maria. Dari Konya ke Ephesus. Kota Ephesus sendiri kini tinggal puing-puing kuno. Reruntuhannya terlihat di kanan jalan itu. Setelah 2 Km dari situ jalan mulai menanjak. Meliuk-liuk. Menuju puncak bukit. Kiri kanannya hanya ada hutan pinus. Tidak ada bangunan sama sekali.
Sesekali bertemu pejalan kaki. Naik ke gunung itu. Terlihat seorang wanita. Menanjak dengan kakinya. Dengan tas ransel di punggungnya. Di puncak bukit itu tersedia lapangan parkir. Kami berhenti di situ. “Yang baru datang itu mobil dari Bulgaria,” ujar Mustofa, sopir saya. “Terlihat dari plat nomornya,” tambahnya.
Saya tunggu penumpangnya turun. Satu keluarga besar. Saya beri mereka salam pagi. “Kami dari Rusia,” ujar lelaki muda yang tinggi itu.Perkiraan Mustofa meleset. Ternyata dari seluruh dunia datang ke sini. “Rusia sebelah mana? “ tanya saya. “Dari Vladivostok,” jawabnya.
Ups… Begitu jauhnya. Di sebelah Jepang. Tentu mereka tidak naik mobil dari Vladivostok. Kota yang di Utara Jepang itu. Atau di Timur Harbin, Tiongkok itu. Terlalu jauh. Harus melewati Siberia, negara-negara Eropa Timur baru ke Bulgaria.
Mereka terbang dulu ke Moskow. Lalu ke Bulgaria. Baru sewa mobil ke Turki. Melihat pentingnya isi puncak bukit ini. Dari tempat parkir saya jalan kaki ke puncak. Mustofa pilih merokok. Saya berpapasan dengan banyak asal: Thailand, India, Irlandia, Taiwan…
Semua ingin berkunjung ke sebuah rumah kuno. Yang oleh orang Kristen Ortodoks dipercaya penuh sebagai rumah terakhir Perawan Maria. Ibunda Jesus. Yang berarti rumah terakhir Maryam. Ibunda Nabi Isa alaihissalam. Menurut kepercayaan Islam.



