“Ini yang agak kritis. Saat ini kita masih fokus ke penulisan aksara Nusantara. Kita masih punya banyak aksara di Indonesia yang belum dipelajari dan diketahui, salah satunya ketika pengenalan aksara melalui kelas aksara Sunda,” paparnya.
Sebagai seorang praktisi museum dan heritage, Ade mencari keunikan-keunikan dan nilai jual yang bisa dia sajikan kepada masyarakat Jember dan sekitarnya. Apalagi, lokasinya cukup strategis, berada di wilayah akademis.
“Bisa memberi warna untuk pendidikan di Jember,” pungkasnya.
(jr/lin/hdi/das/JPR)




