Menurut Ade, hadirnya aksara Braille ini menambah koleksi aksara yang ada di Museum Huruf. Selain itu, hal tersebut juga menyiratkan bahwa seluruh elemen masyarakat bisa dan berkesempatan untuk memanfaatkan ruang publik yang ada di sekitarnya, termasuk museum.
“Kami menganggap museum sebagai ruang publik harus bisa dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dari platform kita sebagai pusat pendidikan yang setara, kami merasa ada yang kurang, mestinya kami juga bisa diakses oleh kaum difabel.
Oleh karena itu, kita mencari cara supaya museum ini bisa diakses siapa pun,” terang pria yang tinggal di Probolinggo tersebut.
Gagasan ini, kata dia, sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu. Dirinya bersama relawan museum menjadi link yang bisa mentransformasikan seluruh aksara yang ada di museum ke dalam Braille.
“Akhirnya, kita ketemu sama kelompok yang memang ahli di bidang Braille,” imbuhnya. Selama kurang lebih dua minggu, seluruh koleksi bisa diterjemahkan ke aksara Braille.
Tak hanya menerjemahkan penjelasan ke aksara Braille, pihaknya juga menambah satu fasilitas lagi yaitu Pojok Braille. Di salah satu sisi ruangan tampak sebuah rak dengan koleksi buku-buku Braille yang bisa dibaca oleh pengunjung tunanetra.




