PENDIDIKAN

Karya Anak-Anak Tunanetra

×

Karya Anak-Anak Tunanetra

Sebarkan artikel ini

“Kawan-kawan yang difabel bisa masuk ke perpustakaan yang menyediakan Pojok Braille untuk bisa ikut membaca,” kata Ade.
Alasan Ade untuk mencetuskan Braille Corner ini tidak main-main.

Selain ingin penyandang tunanetra bisa menikmati museum seperti masyarakat umum, dirinya juga ingin mengangkat literasi baca di kalangan disabilitas dan mewadahi potensi difabel yang luar biasa.

Bank bjb Tandamata

“Berawal dari diskusi transformasi karya ke huruf Braille, kita menemukan fakta bahwa siswa dengan ketunaan sebenarnya memiliki banyak potensi dan koleksi seni, seperti cerpen dan puisi. Banyak siswa yang sering ikut lomba dan menang. Tetapi, selama ini hanya dihafal di kepala saja. Itu harus kita apresiasi dengan dibukukan,” tegas Ade.

Apalagi, lanjut dia, koleksi buku Braille hanya terbatas pada buku baku dan pelajaran saja, tidak ada buku-buku jenis lain seperti novel dan puisi. “Mereka punya banyak karya sebenarnya.

Kenapa tidak kita bukukan karya mereka, misal bikin antologi puisi. Nanti kita buat dalam tulisan normal dan Braille,” ujarnya.

Hal tersebut menjadi wadah bagi penyandang tunanetra untuk menyalurkan potensi yang mereka miliki. Sehingga, nantinya koleksi di Pojok Braille tidak hanya terdiri dari buku baku saja, tetapi juga koleksi tulisan mereka sendiri.