Karyanya, yang bertemakan kelahiran Airlangga itu, berhasil membuatnya masuk kategori lima lukisan terbaik.
Selama menjadi pelukis, kata lelaki yang baru berulang tahun itu, banyak pengalaman yang diperolehnya.
Seperti ketika masa-masa kuliah. Masa-masa itu, dinilainya merupakan masa berat untuk menjadi pelukis.
Karena tidak mampu membeli cat lukis, ia akhirnya menggunakan pensil drawing dalam berkarya. Lukisan drawing yang dimaksudnya, seperti lukisan lahirnya Airlangga tersebut.
“Cat lukis kan bermacam-macam harganya. Kebetulan, waktu kuliah, tidak banyak memegang uang. Akhirnya untuk bisa terus berkarya, saya pakai pensil yang biasanya dipakai arsitek untuk melukis,” sambung Toriq.
Yang namanya pelukis, lanjutnya, harus pintar-pintar dalam bersiasat. Contoh ia pernah alami, ketika tahun 2008 silam. Saat itu ia mengikuti lomba lukis tingkat remaja nasional.


