Beberapa kali saya ikut lomba, hasilnya memuaskan. Saya pun semakin semangat melukis,” kisahnya. Tidak hanya melukis tentang alam atau kondisi realita sekitar, tetapi ia juga mampu melukis kaligragi.
Meski kemampuannya diragukan oleh guru seni di SMA tempatnya belajar.
Ceritanya, waktu itu Toriq yang sudah duduk di bangku SMAN 1 Bangil, tak masuk pantauan pelukis di sekolahnya.
Ia tidak terpilih untuk mengikuti lomba yang digelar di tingkat Kabupaten Pasuruan.
Namun, berkat kegigihannya untuk meyakinkan pihak sekolah, ia akhirnya mendapat kepercayaan. Kepercayaan gurunya itupun, tak disia-siakannya. Karena kaligrafi buatannya mampu menyabet juara.
Meski baru juara II tingkat Kabupaten Pasuruan.
“Saya senang, bisa membayar keraguan pihak sekolah. Sempat tidak terpilih, akhirnya saya bisa menjadi juara kedua lukis kaligrafi tingkat Kabupaten Pasuruan,” tutur dia.
Bagi Toriq, seni lukis bukan hanya sekadar hobinya. Karena seni lukis adalah penyambung hidupnya. Ia sadar tentang dirinya yang berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan.


