“Yang penting mobil bisa kerja lagi,” imbuhnya. Mamat mengakui bukan kali pertama mengandalkan calo untuk mengurus uji kir. Sudah berkali-kali dan terbukti lancar. “Berapa kali ya, sudah sering,” tambah dia.
Dengan uang yang dia keluarkan, Mamat tinggal duduk menunggu uji kir selesai. Urusan booking sampai dapat cap lolos diselesaikan calo. Selaras dengan Mamat, Hari Cahyono pun menyampaikan bahwa calo masih bisa diandalkan. “Sudah ditandai (calo) pasti lolos,” ungkapnya.
Kepada Jawa Pos Hari menyampaikan, saat mobilnya kali pertama uji kir, tidak ada masalah. Semua dia urus sendiri. Beres tanpa calo. Begitu pula halnya ketika uji kir kedua dan ketiga. Namun, setelah itu mobilnya selalu tidak lolos uji. “Sudah ganti ban semua, tetap nggak lolos juga,” katanya. Alhasil, dia memilih jalan pintas. Mengandalkan calo yang bisa menjamin mobilnya lolos uji kir.
Praktik kenakalan uji kir bukan hanya itu. Ada lainnya. Misalnya yang didapati koran ini saat mengintip proses pengujian di PKB Dishub Sidoarjo Jumat (28/9). Untuk mengintip proses tersebut, Jawa Pos awalnya berencana menumpang salah satu truk yang antre. Berpura-pura sebagai kernet.
Tetapi, ide itu tidak berjalan mulus. Dua sopir truk yang didatangi menolak untuk ditumpangi. Alasannya pun sama. Mereka mengatakan, di ruang pengujian, kendaraan tidak boleh diisi lebih dari satu orang alias sopir sendiri.
Jawa Pos kemudian memilih mengintip dari balik pintu ruang pemeriksaan. Nah, yang menarik, tidak jarang truk dengan asap mengepul dinyatakan lolos pengujian oleh petugas. Padahal, salah satu komponen pengujian adalah uji emisi. Jawa Pos juga sempat melihat truk kontainer bernopol W 8939 xx yang memakai ban vulkanisir di bagian belakang lolos uji kir.





