Featured

Ketika Para Maestro Gandrung Mencari Pewaris

×

Ketika Para Maestro Gandrung Mencari Pewaris

Sebarkan artikel ini

Lewat sanggar yang mereka kelola, Mak Temu dan Mak Pinah mendidik generasi berikutnya yang bisa menjadi Gandrung. Bukan cuma penari Gandrung.

RESVIA AFRILENE, Banyuwangi

Bank bjb Tandamata

SEBUAH pigura berukuran 65 x 35 sentimeter terpajang tinggi di teras kediaman Temu Misti. Tampak dia memakai omprok, mahkota kebanggaan para Gandrung. Alfabet terangkai menjadi judul pigura besar berlatar merah tersebut. Bunyinya: Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2018.

Apresiasi itu datang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kiprah dan dedikasi perempuan 65 tahun tersebut dalam melestarikan seni Gandrung Terop membuatnya berhak dimahkotai sebagai sang maestro. Sebuah penghargaan yang tak pernah disangka perempuan yang akrab disapa Mak Temu itu. Juga sama sekali tak lantas membuatnya tinggi hati. Bahkan, hari-hari Mak Temu kini justru sibuk digunakan untuk bergerilya. Membagi ilmu, mencari penerus kekayaan budaya Banyuwangi, Jawa Timur, itu.

”Tantangannya, anak sekarang hanya tahu bahwa Gandrung adalah sebuah tarian. Padahal, Gandrung itu jati diri,” katanya ketika ditemui Jawa Pos di kediamannya di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu lalu (21/10). Di halaman rumahnya yang sederhana, berukuran 25 meter persegi, di sanalah generasi Gandrung berikutnya ditempa. Dikenal sebagai Sanggar Sopo Ngiro. Dibuka sejak 2015 dengan satu misi: mencari pewaris Gandrung Terop sejati.

Gandrung merupakan seni tradisi. Tak hanya terbatas pada seni gerak tari. Namun juga sarat akan makna budaya dan sejarah. Seorang Gandrung berbeda dengan penari Gandrung. Penari Gandrung hanya orang yang mampu menari dengan irama para panjak. Sedangkan Gandrung adalah mereka yang juga melaksanakan rangkaian tradisi para leluhur Gandrung terdahulu.