Sementara, beberapa kepala sekolah menyatakan siap bila hasil evaluasi dan verifikasi tim menyatakan sekolahnya dinyatakan layak beroperasional tatap muka.
“Sebenarnya pembelajaran saat Covid-19 ini tak mengejar target penilaian kurikulum. Artinya, hanya sebatas bagaimana siswa tetap dapat mengisi waktu dengan belajar. Baik secara jarak jauh (daring-secara online, dan luring-tugas nonton tv pendidikan, pengerjaan LKS, tugas dari sekolah dan buku paket) ataupun secara tatap muka.
Dan tidak ada selisih bobot kwalitas lebih dari tatap muka daripada jarak jauh, karena keduanya tidak punya sasaran nilai kurikulum (tidak boleh ada tes/penilaian apapun).
Perlu dicatat, di beberapa daerah yang sudah mencoba pembelajaran tatap muka, muncul klaster covid baru di sekolah sekolah tersebut,” ucapnya. Atas dasar tersebut, maka perlu ditunda sambil dikaji ulang terkait rencana KBM tatap muka tersebut.
Sementara itu, Tim Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Kota Sukabumi menyebutkan 31 SMA/SMK sederajat negeri dan swasta dinyatakan lolos verifikasi dan siap menggelar KBM tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan di tengah wabah Covid-19.
Juru bicara Tim Satgas Covid-19 Kota Sukabumi, Wahyu Handriana mengatakan, dari 58 sekolah yang diajukan KCD wilayah V Provinsi Jawa Barat, hanya 31 SMA/SMK sederajat yang memang memenuhi standar protokol kesehatan baik sarana dan prasana maupun administratifnya. “Untuk data sekolah mana saja, itu ada di KCD kita hanya memverifikasi saja,” kata Wahyu.
Adapun menurutnya hasil verifikasi, masih banyak temuan sekolah yang memang masih melakukan persiapan KBM tatap muka. Sehingga, pihaknya pun tak meloloskan sekolah tersebut untuk menggelar KBM tatap muka.





