Seperti, saluran sungai yang dangkal dan keruh, banyaknya lahan perikanan warga yang gagal panen serta banyak rumah warga mengalami retakan yang cukup menghawatirkan, akibat dari suara dan getaran peledakan balsting tersebut
. “Warga terdampak merasa tidak dihargai oleh pihak perusahaan. Kami sudah meminta dengan sangat untuk tidak melakukan peledakan dalam pertambangannya. Apalagi, pihak perusahaan tidak pernah melakukan sosialisasi kepada warga terlebih dahulu,” katanya.
Kepala Desa Neglasari Asep Saepudin mengatakan, pihaknya merasa wajar, jika ratusan warga Desa Neglasari melakukan aksi unjuk rasa ke perusahaan tersebut. Lantaran, warga yang rumahnya berada di sekitaran lokasi perusahaan, tidak pernah dilibatkan dalam melakukan aktivitas tambangnya yang menggunakan bahan peledak.
“Aksi unjuk rasa ini, merupakan kedua kalinya yang dilakukan warga Kedusunan Cijurai dan Kadusunan Pasir Munding. Warga merasa cemas, kalau peledakan itu dapat berdampak buruk terhadap lingkungan,” imbuhnya.
Menurut Asep, pada 2015 silam, pihak perusahaan telah melakukan pertemuan dengan warga dan akan menyangupi 11 poin tututan warga, apabila pertambang batu porselin akan dioprasikan. Namun setelah tiga bulan beroprasi di 2018, semua kesepakatan tersebut, tidak direalisasikan oleh pihak perusahaan.
“Pada 2015, ketika pihak perusahaan berniat membuka perusahaan petambangan, ia berjanji akan menjaga dan memenuhi tuntutan warga, mulai menjaga lingkungan dari pencemaran serta memberikan 5 faktor kopensiasi dalam CSR, tapi sampai saat ini tidak dirasakan oleh warga,” imbuhnya.




