BERITA UTAMA

Mendulang Ekonomi di Wisata Halal Hanjeli Sukabumi

×

Mendulang Ekonomi di Wisata Halal Hanjeli Sukabumi

Sebarkan artikel ini
MEMANEN HANJELI : Salah seorang anak pada saat diajarkan cara memanen Hanjeli (Coix lacryma-jobi). Tidak hanya untuk ekonomi, tapi wisata hanjeli menerapkan edukasi kepada anak-anak. (foto : Dok Abah Asep)
MEMANEN HANJELI : Salah seorang anak pada saat diajarkan cara memanen Hanjeli (Coix lacryma-jobi). Tidak hanya untuk ekonomi, tapi wisata hanjeli menerapkan edukasi kepada anak-anak. (foto : Dok Abah Asep)

SUKABUMI — Cuaca cerah berawan. Angin berhembus perlahan. Waktu itu Sabtu tanggal 4 November 2023 pukul 09:14 WIB. Dari kejauhan terlihat, abah Asep Hidayat Mustopa (35) menyambut.

Sudah janjian sebelumnya, bahwa kami akan bertemu untuk menelisik konsep wisata Halal Hanjeli (Coix lacryma-jobi) Sukabumi.

Bank bjb Tandamata

Seyuman khas Abah Asep (Panggilan Akrabnya) menyambut dengan ramah. Dengan baju ala sunda lengkap dengan Totopong (ikat kepala ciri khas Sunda).

Suasa Desa wisata Hanjeli sederhana. Bangunanya tidak ada yang megah, semua berbasis kearifan lokal. Dinding dan lantainya berbahan kayu.

Meski begitu, Wisata Hanjeli Sukabumi sudah berhasil guncangkan wisata Indonesia. Abah Asep sukses raih penghargaan Kalpataru 2023 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kategori perintis lingkungan.

Pengunjungnya tidak lagi dalam negeri. Sejumlah turis asing silih berganti datang ke wisata Hanjeli. Sepintas memang tidak ada istimewa. Namun, Desa wisata Hanjeli ini sukses jadi perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

Dengan konsep wisata ramah lingkungan dan wisata halal, Abah Asep dipercaya Pemerintah Kabupaten Sukabumi sebagai desa wisata yang selaras dengan Visi Kabupaten Sukabumi yakni terwujudnya Kabupaten Sukabumi yang religius, maju dan inovatif menuju masyarakat sejahtera lahir dan batin.

Kelebihan Kabupaten Sukabumi yang memiliki alam yang indah sukses dikembangkan Abah Asep. Lokasi yang berdekatan dan masih di kawan Geopark Ciletuh menjadi keuntungan sendiri.

“Sebagai mantan TKI, saya dari awal pulang ke dari luar Negeri sudah bercita-cita mengabdi untuk Kabupaten Sukabumi. Potensi wisata saya geluti sejak 2015 diharapkan bisa membantu ekonomi masyarakat, “cetusnya mengawali pembicaraan.

“Saya sadar ekonomi disini dulu waganya susah, banyak warga yang menjadi TKI atau pekerja migran ke luar negeri. Ada juga yang mendulang emas secara ilegal. Tidak sedikit yang meninggal terkubur longsor. Berangkat dari sana saya mengawali membangun desa wisata Halal hanjeli ini, “terangnya.

Selain, membangun dari segi ekonomi. Desa Wisata Hanjeli juga mengedepankan konsep agama. Buktinya, dibangun sebuah bangunan rumah baca. Telihat, Terpasang beberapa lemari dengan aneka buku di terasnya. Gedung yang dibangun sejak 2017 yang berkolaborasi dengan warga berhasil jadi tempat warga khususnya anak-anak.

GOTONG RONYONG : Sejumlah warga saat membangun fasilitas di lokasi wisata hanjeli. (foto : Radar Sukabumi)
GOTONG RONYONG : Sejumlah warga saat membangun fasilitas di lokasi wisata hanjeli. (foto : Radar Sukabumi)

Dirinya ingin desa wisata Hanjeli ini berkonsep wisata halal. Meski bukan hanya untuk orang muslim. Tapi, wisata halal hanjeli memiliki konsep milik siapa saja dengan latar belakang apa pun. Sebab, wisata halal mengandung kebaikan bagi manusia dan alam sekitarnya sesuai prinsip rahmatan lil alamin.

Berdasarkan penuturannya, kunjungan wisatawan terus bertambah dari 140 orang pada 2015 menjadi 640 orang tahun 2019, bahkan terus naik dari tahun ke tahun.

Ibu-ibu purna migran pun mendapatkan asa. Dari bertaruh nyawa di negeri orang, mereka kini jadi juru masak bahan hanjeli, perajin kalung, hingga pemandu wisata di tanah sendiri.

Selain memberdayakan warga, Asep dan kawan-kawan juga berupaya meningkatkan pendidikan anak-anak. Salah satunya membangun rumah baca. Selepas magrib, anak kecil berkumpul di beranda berukuran 2 meter x 3 meter untuk mengaji. Itu cara lain mengenalkan budaya anak kampung kepada wisatawan yang menginap di Desa Wisata Halal Hanjeli.

“Para wisatawan yang mampir dan menginap, kami perlihatkan kegiatan masyarakat disini dari pagi hingga malam. Jika wisatawan yang lapang. Mereka mengajarkan anak-anak yang sedang belajar. Beberapa waktu lalu kami mendapatkan sumbangan buku, bahkan Iqro 200 buah. Tanggung jawab kami bukan hanya untuk wisata saja, melainkan anak-anak masyarakat yang kelak melanjutkan peradaban, “tegasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, tidak hanya anak-anak desa sekitar. Anak-anak lain sesekali datang. Mereka mengajar anak disini soal agama dan bahkan pengetahuan. Dilain waktu mereka belajar kerajinan tangan asli disini. Jadi saling menguntungkan. Tidak perlu biaya tinggi karena mereka merasa saling belajar.

Desa wisata halal hanjeli juga dipandu oleh mantan pekerja migran. Beruntungnya para sebagian pemandu itu bisa bahasa asing. Pengalaman menjadi pekerja migran diluar negeri digunakan dalam memandu wisata luar negeri.

Kini, di desa wisata halal hanjeli beragam aktivitas kreatif terus digelar. Melalui program Unjuk Kabisa, Asep mengajak siapa saja untuk berbagi keahlian kepada anak-anak dan warga, misalnya komunitas hidroponik di Kota Sukabumi mengajarkan cara berkebun dengan lahan minim. Berbagai kegiatan itu, bagi lulusan pondok pesantren Assalam Sukabumi ini, merupakan wujud wisata halal.

BELAJAR : Sejumlah mahasiswa saat praktik menumbuk hanjeli
BELAJAR : Sejumlah mahasiswa saat praktik menumbuk hanjeli.

”Kalau dibilang wisata halal, kami sudah punya masjid sampai tasbih dari hanjeli. Namun, tidak hanya itu, konsep halal itu juga dari muamalah. Masyarakat juga friendly (ramah) sama tamu,” ujarnya.

Muamalah yang ia maksud adalah pemberdayaan masyarakat, seperti peningkatan kemampuan ibu-ibu purna migran. Wisata halal di desanya juga mencerminkan inklusivitas. Misalnya, Asep mengajak dua anak yang disabilitas fisik di bagian tangan untuk membuat kerajinan sesuai dengan kemampuannya.

”Perlahan kami latih mereka untuk terlibat dalam beragam kerajinan hanjeli. Idealnya, ada lebih banyak orang dari berbagai kalangan bisa datang ke sini. Mari kita belajar bersama,” katanya.

Apalagi, wisata halal, katanya, bukan untuk umat Islam saja. Berbagai latar belakang agama, suku, bahkan bangsa pelesiran ke desanya. Ada dari Malaysia, China, juga Jepang.

”Saya pernah mengajarkan kaligrafi kepada pengunjung yang bukan Muslim. (Kaligrafi) Ini sebagai seni menulis indah. Kami tidak membahas soal agama,” ujarnya.

Alam Terjaga Masyarakat Berjaya

Riset GMTI 2019 yang disusun MasterCard-Crescentrating itu menyebutkan, wisatawan Muslim di dunia terus tumbuh. Pada 2000, terdapat 25 juta wisatawan dan melonjak pada 2020 menjadi 160 juta orang. Bahkan, jumlahnya diprediksi mencapai 230 juta wisatawan pada 2026 dengan pembelanjaan 300 miliar dollar AS

Berdasarkan laporan yang dikutif dari kneks.go.id dari Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023 menempatkan Indonesia peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, mengalahkan 140 negara lainnya. Prestasi ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berada pada posisi ke-2 dan Malaysia menempati posisi teratas.

Laporan GMTI yang dirilis di Singapura, 1 Juni 2023 merupakan edisi ke-8 yang diselenggarakan oleh Mastercard-CrescentRating. Melalui penilaian yang dilakukan berdasarkan empat kategori utama yaitu Akses, Komunikasi, Lingkungan, dan Layanan (ACES), Indonesia dan Malaysia memperoleh skor 73 disusul Arab Saudi 72, UEA 71 dan Turki 70.

Menanggapi hal tersebut, Wakil bupati Sukabumi Iyos Somantri, menurutnya Kabupaten Sukabumi sudah lama menjalankan konsep wisata halal. Menurutnya, konsep wisata halal merupakan bagian dari ekonomi syariah berbasis rahmatan lil alamin, yaitu kebermanfaatan bagi semuanya, termasuk alam. Oleh karena itu, wisata halal perlu selalu menekankan inkulisivitas dan sustainability atau menjamin keberlangsungan dari kehidupan

Kisah abah Asep yang sukses mengelola wisata halal hanjeli adalah bukti berjalanya program visi Kabupaten Sukabumi. Abah asep sukses merubah masyarakat yang tadinya bekerja menambang emas secara ilegal dan pekerja migran bisa mandiri.

BERWISATA : Sejumlah mahasiswa saat mencoba praktik

Apa yang diterjadi di Wisata Halal Hanjeli sudah mencerminkan gaya hidup halal, termasuk wisata halal yang mengutamakan kebaikan, sumber sandang dan pangan jelas dan baik.

“Itu kan, Desa wisata Hajeli itu baik dan menyehatkan dibanding beras. Bahkan cocok bagi penderita diabetes.

Penerapan wisata halal juga dapat dilihat dari pemanfaatan dana untuk sedekah dan membantu warga setempat, “singkatnya.

Ditempat terpisah, Bupati Sukabumi Marwan Hamami Kabupaten Sukabumi menginginkan bagian wisata yang berbasis religi dan tafakur alam.

Artinya wisata tidak melulu dengan hiburan malam dan hal-hal yang bertentangan dengan agama muslim yang mayoritas penduduk Kabupaten Sukabumi.

“Pariwisata itu kan Identik (seperti di Bali), (di Kabupaten Sukabumi) bisa wisata religius bisa aja kan, dan itu harus dilihat potensinya yang dimungkinkan seperti apa. Seperti di Geoprak itu supaya rame, sepanjang pasar dan jalan Hayoh we Dandutan, (Sepanjang jalan terus dandutan). Rek naon jauh-jauh ninggali dangdutan (Buat apa jauh-jauh melihat dangdutan red), “cetus Bupati belum lama ini.

Menurutnya, orang luar Sukabumi datang ke Geopark Ciletuh ingin melihat keindahan alam mencari suasana yang berbeda, dan itu harus diciptakan dan dibentuk dari mulai kebersihan dan kekayaan alam yang harus dipelihara.

“Kebersihannya tentu harus tetap dijaga, habitat alam dan pohon harus tetap Hideung (Hitam), jangan sampai adanya banyak wisata alam menjadi rusak akibat perbuatan pengelola wisata, jangan sampai hutan gundul dan pohon ditebang sembarang, “tukasnya.

Menurutnya, Peluang Kabupaten Sukabumi mendongkrak kinerja pariwisata kini menjadi lebih terbuka seiring hadirnya Tol Bocimi Seksi II Cigombong-Cibadak dengan Exit Tol Parungkuda selain itu juga Kabupaten Sukabumi memiliki wisata kelas dunia yang unik dan ramah lingkungan.

Diminati Jutaan Wisatawan

Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi mencatat ada sebanyak 4.754.243 lebih wisatawan berkunjung ke kawasan pariwisata di Sukabumi. Sigit menjelaskan, spot wisata Karanghawu yang belum lama ini diresmikan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Bupati Sukabumi, Marwan Hamami menjadi primadona, serta menjadi destinasi wisata favorit yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

“Jumlah total wisatawan yang masuk ke objek wisata Sukabumi tahun kemarin saja 4,7 jutaan orang. Kebanyakan ke Pantai Karanghawu yaitu sebanyak 1.088.300 orang, data jutaan itu tercatat pada hari-hari besar saja. Kalau ditotalkan semua bisa jauh lebih besar.” ujar Kadispar Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi.

Kunjungan terbanyak disusul ke kawasan Pantai Cibanban sebanyak 823.450 orang, Karanghawu Kebon Kalapa 667.00 orang, dan Pantai Citepus 332.400 orang. Selain itu, Pantai Istiqomah Citepus 271.250 orang, Pantai Batu Bintang Spot Fishing 258.860 orang, lalu Pantai TWA Katapang Condong/ Karang Naya 193.870 orang.

Adapun jumlah kunjungan ke objek wisata lainnya, antara lain Pantai Loji Simpenan 189.850 orang, Pantai SBH Kadaka 178.600 orang, Pantai Capitol 166.100 orang, Pantai Citepus NR 131.795 orang dan Pantai Gurilap 115.170 orang wisatawan.

Bahkan destinasi wisata yang masih tahap perbaikan seperti Curug Sodong dan Gyese Cisolok sudah banyak dikunjungi belasan ribu wisatawan. “Destinasi Gyser Cisolok dikunjungi sebanyak 18.902 orang wisatawan, sementara Curug Sodong 5.335 orang wisatawan,” paparnya.

Hanjeli
Sejumlah mahasiswa dari luar negeri saat mengikuti kegiatan Summer Program UNPAD Bandung

Data pengunjung yang masuk ke kawasan wisata lainnya, tambah Sigit antara lain Pantai IP atau Istana Presiden 51.100 orang, Pantai Mandra Jaya 23.105 orang, Pantai Cibuaya 35.200 orang, Pantai Cikembang 75.600 orang, Pantai Minajaya 29.300 orang.

“Lalu Pantai Ujunggenteng 25.200 orang, Pantai Palangpang 45.500 orang. Selain itu, Pantai Cilegok 5.800 orang, Pantai Legon Pari 3.010 orang, Tea Spot Perbawati 5.341 orang, Destinasi Curug Cimarinjung 5.616 orang. Kemudian ke Destinasi Curug Cikaso 2.306 pengunjung, Destinasi Curug Larangan 1.113 pengunjung, Pantai Pandan 2.684 orang, Situ Cipiit 1.646 orang, Desa Wisata Halal Hajeli mencapai 1.846 dan terakhir Destinasi Cinumpang 840 orang,” tandasnya

Sementara itu, kawasan wisata jembatan gantung di Kecamatan Kadudampit yang menyajikan keindahan dan panorama alam yang masih asri dan sejuk, menjadi daya tarik tersendiri ribuan wisatawan lokal hingga domesti.

Para wisatawan ini, mereka bukan hanya berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi saja. Tetapi, tidak sedikit juga mereka yang datang dari luar daerah. Seperti Cianjur, Bogor, Bandung dan lainnya.

Indonesia Khsususnya Kabupaten Sukabumi bisa menangkap peluang ini dengan komitmen pemerintah mengembangkan wisata ramah Muslim. Dan, perlu diingat, wisata halal itu tidak mengotak-ngotakkan latar belakang tertentu. Wisata halal masih sangat terbuka dikembangkan. Namun, ujungnya bukan sekadar mendulang rupiah. Lewat wisata halal, beragam nilai kebaikan berpotensi tersampaikan untuk semua kehidupan di bumi ini.(hnd)